Smart City Pangkas Birokrasi

SM/Hendra Setiawan - PEMBICARA :Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menjadi pembicara di acara International Conference on Smart City Innovation (ICSCI) 2019 di Gedung ITC Universitas Diponegoro, Rabu (9/10). (42)
SM/Hendra Setiawan - PEMBICARA :Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menjadi pembicara di acara International Conference on Smart City Innovation (ICSCI) 2019 di Gedung ITC Universitas Diponegoro, Rabu (9/10). (42)

SEMARANG- Smart City yang telah diterapkan di Kota Semarang, dapat membuat proses birokrasi menjadi semakin ringkas. Sistem ini juga sangat membantu Pemkot dalam menentukan kebijakan, karena didukung oleh data yang kuat.

Manfaat penerapan Smart City tersebut, disampaikan oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, saat menjadi pembicara dalam kegiatan The 2nd International Conference on Smart City Innovation (ICSCI) 2019, di Gedung ITC Universitas Diponegoro, Rabu (9/10).

Dia mengatakan untuk menjadikan Kota Semarang sebagai kota yang lebih baik untuk warganya adalah tidak mudah. Pemkot menghadapi keterbatasan, antara lain aparatur sipil negara dan anggaran yang besar.

jalan di Ibu Kota Jawa Tengah ini masih banyak rusak. Hal ini menyebabkan investor enggan masuk dan pertumbuhan ekonomi kota melambat. ”Menjawab tantangan itu, mulai 2013 Pemkot Semarang mulai membangun Semarang Smart City. Harapannya, kerja ASN dapat lebih efektif dan efisien.

Masyarakat juga ikut terlibat,” ujar dia. Wali kota yang akrab disapa Hendi ini menuturkan, melalui konsep Semarang Smart City, seluruh pekerjaan di Pemkot Semarang terhubung dalam sebuah sistem.

Sehingga rantai birokrasi yang lama bisa dipangkas. ”Tak hanya itu, kami juga tak lagi membangun berdasarkan asumsi, tetapi dengan data untuk tepat sasaran. Masalah yang ada dapat langsung ditangani, tidak berulang pekerjaannya,” jelasnya.

Hendi menggambarkan pada 2011 hampir separuh wilayah Kota Semarang jalannya rusak dan rawan banjir. Hal itu menjadi salah satu penyebab investasi yang masuk ke Kota Semarang kurang dari Rp 1 triliun. Kondisi buruk itulah yang kemudian membuat tren laju pertumbuhan ekonomi Kota Semarang cenderung rendah. Kini, dengan pola kerja yang baik, pertumbuhan ekonomi meningkat 6,52%.

Pertumbuhan investasi meningkat menjadi Rp 27,5 Triliun. Penurunan angka kemiskinan yang dibarengi dengan penurunan luas wilayah kumuh, penurunan wilayah rawan banjir juga sejalan dengan peningkatan kondisi jalan baik ”Kesejahtetaan masyarakat juga meningkat.

Menilik Index Pembangunan Manusia (IPM) di kota Semarang, semula 77,52 meningkat menjadi 82,72. IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya,” tuturnya.

Hendi pun menekankan, bahwa hal tersebut menjadi bukti nyata implementasi smart city. Di antaranya berupa sistem perencanaan, sistem pembangunan, sistem pelayanan, dan sistem pelaporan yang membuahkan hasil yang baik bagi pembangunan di Kota Semarang.

Contohnya dengan pemanfaatan call center dan sistem Lapor Hendi. Ini mempermudah pelaporan kondisi di lapangan agar segera ditindaklanjuti. Pemanfaatan situation room sebagai ruang monitor dan kontrol terpadu, pemanfaatan big data guna pendataan masyarakat miskin agar dapat ditangani secara tepat sasaran. (K18-42)


Berita Terkait
Loading...
Komentar