Higienitas Minyak Goreng Curah Diragukan

SM/Antara : MENATA MINYAK: Pedagang menata minyak curah dagangannya di Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (8/10). Mulai 1 Januari 2020 minyak curah wajib menggunakan kemasan yang berstandar. (24)
SM/Antara : MENATA MINYAK: Pedagang menata minyak curah dagangannya di Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (8/10). Mulai 1 Januari 2020 minyak curah wajib menggunakan kemasan yang berstandar. (24)

JAKARTA - Pemerintah menegaskan, tidak melarang warga atau industri kecil untuk menggunakan minyak goreng curah yang beredar di pasar. Hanya saja, pemerintah memperingatkan bahwa minyak curah rawan dioplos dengan minyak jelantah. Selain itu, higienitas minyak curah saat proses pendistribusian juga diragukan. ”Konsumen dan umat harus terlindungi. Karena itu, harus tersedia produk yang dipastikan higienis dan halal. Pemerintah masih tetap mempersilakan masyarakat mempergunakan minyak goreng curah,” tandas Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita di Jakarta, Selasa (8/9). Meski demikian, pemerintah mewajibkan bagi para pelaku industri untuk segera mengisi pasar dengan kemasan sederhana dan mematuhi harga eceran tertinggi (HET) Rp 11.000/liter.

Enggar menjelaskan, tidak ada sama sekali maksud pemerintah mematikan industri rakyat atau usaha kecil dan menengah yang biasa menggunakan minyak goreng curah. Karena itu, pemerintah ingin menjamin ketersediaan minyak goreng kemasan dengan harga tidak memberatkan/tidak terpaut kauh dari minyak goreng curah. Kemasan-kemasan ini juga terdiri atas kemasan kecil yang ekonomis hingga besar, 200 ml hingga 1 liter. Dengan demikian, masyarakat dapat memilih minyak murah yang lebih terjamin kehiegenisannya. Mendag menegaskan, minyak curah tidak akan ditarik dari pasaran.

Tidak Ditarik

”Tidak ditarik. Jadi, per tanggal 1 Januari (2020) harus ada minyak goreng kemasan di setiap warung, juga sampai di pelosok-pelosok desa,” tegasnya.

Enggart menambahkan, yang sebenarnya diserukan adalah agar konsumen lebih cerdas memilih minyak goreng yang terjamin kehalalannya, higinietasnya, juga kandungan gizi. Menurutnya, minyak goreng curah merupakan minyak yang diproduksi produsen dan merupakan turunan dari CPO serta telah melewati proses refining, bleaching , dan deodorizing (RBD) di pabrikan.

Pendistribusian minyak goreng curah dilakukan dengan menggunakan mobil tangki yang dituangkan ke drum-drum di pasar. Proses distribusi minyak goreng curah biasanya menggunakan wadah terbuka. Akibatnya, rentan kontaminasi air serta binatang. Penjualannya ke konsumen juga sering menggunakan plastik pembungkus tanpa merek. Kelemahan lain, minyak curah rentan dioplos dengan minyak jelantah. Padahal, tak banyak konsumen yang bisa membedakan antara minyak goreng curah dari pabrik dan minyak jelantah (minyak goreng bekas pakai) yang dimurnikan warnanya. ”Karena risiko-risiko itu, kami mendorong agar produsen wajib mengemas minyak goreng agar masyarakat mendapatkan produk yang higienis serta bebas dari kemungkinan pengoplosan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tahuid Saadi menyatakan memahami langkah pemerintah. Soal unsur halal juga diamini, yakni minyak goreng curah tanpa kemasan sering tidak jelas. Hanya saja, langkah tersebut harus disertai kebijakan pemberian insentif bagi pedagang kecil, seperti IKM dan UKM berupa subsidi harga. MUI berharap, harga minyak goreng kemasan bisa dijangkau masyarakat kecil. MUI khawatir, jika minyak kemasan mahal, pedagang kecil akan terdampak. ”Bisa dipastikan, banyak pedagang kecil gulung tikar. Jadi harga minyak kemasan harus terjangkau,” kata Zainut.

Sementara itu, kandungan gizi minyak curah dan minyak kemasan yang bermerek juga berbeda. ”Minyak yang dijual dengan merek, produsen sudah menambahkan fortifikasi, misalnya tambahan gizi. Minyak curah tidak ada tambahan, hanya kelapa sawit,” ungkap Medical Department Kalbe Farma dr Dedyanto Henky Saputra, MGizi.

Apalagi dengan minyak curah yang telah dipakai berkali-kali dan disaring hingga bening kembali. Kandungan lemak minyak jenis ini tidak stabil karena telah melalui pemanasan berkali-kali. ”Struktur lemak yang sering dipanaskan tidak stabil atau dikenal sebagai minyak trans. Semakin dipanaskan, lemak jadi tidak stabil. Kandungan lemak trans tinggi,” tandasnya. Lemak trans bisa meningkatkan kolesterol jahat atau LDLyang memicu penyakit jantung, salah satu penyebab utama kematian pria dan wanita. Lemak trans juga terkait dengan risiko tinggi terhadap diabetes tipe 2. (ant-41)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar