Trans Semarang Jadi Percontohan

SM/Hendra Setiawan : TEJEBAK MACET : BRT Trans Semarang Koridor I terjebak kemacetan di Jalan Pandanaran, baru-baru ini. (22)
SM/Hendra Setiawan : TEJEBAK MACET : BRT Trans Semarang Koridor I terjebak kemacetan di Jalan Pandanaran, baru-baru ini. (22)

SEMARANG -Kota Semarang menjadi Kota Percontohan dalam hal pengembangan Bus Rapid Transit (BRT). Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan menggandeng Kota Semarang dan empat kota lainnya untuk mengembangkan BRT full system.

Penandatanganan dilakukan Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi bersama lima kepala daerah. Selain Semarang, keempat kota lainnya, yaitu Kota Batam, Kota Bandung, Kota Makassar, dan Kota Pekanbaru. Kementerian Perhubungan menandatangani nota kesepakatan (MoU) tentang Sinergi Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan Pilot Project Sustainable Urban Transport Programme Indonesia (Sutri Nama) dan Indonesia Bus Rapid Transit Corridor Development Project (Indobus) dengan lima pemerintah daerah di Indonesia. Acara itu dilaksanakan di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (8/10). Hal ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan kerja sama Kemenhub dengan Pemerintah Jerman, Pemerintah Inggris, dan Pemerintah Swiss. Mereka memberikan dana hibah sebesar 21 juta euro untuk membangun transportasi perkotaan dan menurunkan emisi gas rumah kaca. ”Hari ini kami tanda tangan kerja sama bersama lima kota yang menjadi percontohan untuk program Indobus dan Sutri Nama.

Selain kajian juga menyangkut masalah dananya,” ujar Budi Setiyadi di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (8/10).

Tantangan

Sutri Nama merupakan program untuk mengatasi tantangan transportasi perkotaan. Hal itu seperti pertumbuhan penduduk kota dan jumlah kendaraan bermotor. Caranya melalui paduan pengembangan kapasitas dan pembiayaan. Proyek ini akan mengembangkan mekanisme pembiayaan, pemantauan lingkungan dan mempersiapkan program-program transportasi di kota-kota percontohan.

Mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan akan dikembangkan untuk membangun transportasi perkotaan, seperti pengembangan sistem bus, manajemen parkir dan transportasi tidak bermotor. Termasuk fasilitas pejalan kaki dan jalur sepeda. Sementara Indobus merupakan program yang akan mempercepat pembangunan transportasi perkotaan. Termasuk dalam mempersiapkan standar nasional untuk sistem bus rapid transit (BRT) dan pelaksanaannya di kota-kota percontohan.

Semarang dianggap sebagai salah satu kota paling sukses menyelenggarakan sistem BRTsetelah Jakarta. Karenanya Semarang ditunjuk sebagai salah satu kota yang dijadikan percontohan. Pada tahun kesepuluh beroperasi Trans Semarang sudah berhasil menjalankan tujuh koridor dan dengan rata-rata penumpang per hari 33 ribu orang. ”Pengguna ini lebih besar jika dibandingkan dengan kota-kota besar lain yang sama-sama telah mengoperasionalkan BRT. Bahkan hampir semua kota yang sudah menjalankan BRT ataupun yang baru mau menjalankan. Beberapa daerah melakukan studi banding ke tempat kami,” kata Kepala BLU UPTD Trans Semarang, Ade Bhakti Ariawan, kemarin.

Ade menyampaikan, proyek ini arahnya ke dedicated lane (jalur khusus). Hal ini bisa mempermudah perjalanan bus Trans Semarang. Meskipun tahun ini masih dalam tahap pre-feasibility study, semoga hasilnya nanti benar-benar bisa membuat sistem BRT yang sudah dikembangkan akan lebih cepat dan lebih efisien. ”Nantinya bukan hanya pengembangan BRT saja, tapi juga pengembangan secara makro. Misal terkait sistem transportasi massal yang ada di Kota Semarang ini. Sistem BRT akan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, juga akan dijadikan sebagai acuan untuk pembangunan sistem BRT di kota-kota lain di Indonesia,” ungkap Ade.(K18-22)


Berita Terkait
Loading...
Komentar