Perundungan ke Siswa Diantisipasi

SM/Hendra Setiawan : BERI ARAHAN : Wali Kota Hendrar Prihadi memberi arahan tentang Sosialisasi Penerapan Program Pencegahan Bullying dan Disiplin Positif Tingkat SMP se-Kota Semarang di Gedung Balai Kota, Senin (7/10). (22)
SM/Hendra Setiawan : BERI ARAHAN : Wali Kota Hendrar Prihadi memberi arahan tentang Sosialisasi Penerapan Program Pencegahan Bullying dan Disiplin Positif Tingkat SMP se-Kota Semarang di Gedung Balai Kota, Senin (7/10). (22)

SEMARANG - Data dari Dinas Pendidikan Kota Semarang menunjukkan penurunan kasus perundungan atau bullying. Dari 60 persen pada 2013 menjadi 5 persen tahun ini. Namun perundungan tetap menjadi fokus perhatian Wali Kota Hendrar Prihadi.

Wali Kota yang akrab disapa Hendi itu mengatakan, anak-anak hampir separuh waktunya ada di sekolah. Karenanya kasus perundungan sangat mungkin dilakukan di sekolah. Untuk menekan perundungan di sekolah, Hendi menginginkan agar sekolah benar-benar bisa dijadikan rumah kedua bagi anakanak. ”Perundungan bisa dimulai dari ajakan siswa untuk mengejek siswa lain atau bisa juga makian dari guru yang dilakukan secara tidak sadar kepada siswa,” pesan Hendi. Hal itu disampaikan saat membuka kegiatan Sosialisasi Penerapan Pencegahan Bullying dan Disiplin Positif Tingkat SMP Kota Semarang, di Gedung Balai kota, Senin (7/10).

Menurut Hendi, guru memiliki peran dalam pencegahan dan pengawasan kasus perundungan di sekolah. Hal itu baik yang berbentuk fisik maupun verbal. Tugas pertama guru adalah mengingatkan. Tidak boleh, misalnya ada anak diintimidasi oleh temannya yang badannya lebih besar, itu pasti mengganggu. Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri mengatakan, perlunya peningkatan pengawasan secara berjenjang. Di mana terdapat pengawas sendiri di setiap sekolah. Solusi lain, yakni perlunya guru untuk meningkatkan mutu pendidikan karakter kepada para siswa. ”Sifatnya, jika ada laporan, maka dipanggil. Paling penting, bagaimana menyangkut siswa, kami bisa memulihkan psikologi mereka,” ujar Gunawan.

Dia menilai peran guru berhasil apabila perundungan di sekolahnya tidak ada lagi. Lebih jauh, Gunawan menuturkan, pentingnya penerapan nilai-nilai pendidikan karakter maupun Pancasila dilakukan sejak jenjang PAUD. ”Sebenarnya di PAUD tak langsung diajari teori. Namun lebih kepada praktik nilai sopan santun, disiplin, keberanian, yang merupakan penerapan Pancasila,” imbuh Gunawan. (K18-22)


Berita Terkait
Loading...
Komentar