Menyoal Bahasa Tumbal

Oleh Sendang Mulyana

Masihkah mungkin segala keberanian, kekuatan, kejayaaan, dan kedudukan akan bisa dikalahkan oleh sikap bijak, lembut hati, dan sabar seperti semboyan suradira jayaningrat lebur dening pangastuti?

Lalu, kenapa untuk menegakkan kebenaran dan keadilan harus ada yang jadi tumbal? Apakah hal itu lantaran pemilik kedudukan yang kebangeten atau rakyat sudah tak lagi bisa merawat kesabaran? Pertanyaan retoris yang tentu tak gampang untuk menjawab.

Penguasa butuh kawula. Tanpa kawula, silakan berkuasa di kamar mandi. Akan tetapi, justru penguasa yang sering lupa hingga tega memperdaya dan menganiaya kawula lantaran syahwat rakus dan pongah.

Kawula yang mengkritik atas dasar kasih sayang sekalipun dicurigai, bahkan digebuk. Para pemuja kedudukan dan kekuasaan akan cenderung menganggap pengkritik sebagai lawan, meskipun bibirnya selalu bilang pemikiran-pemikiran kritis diperlukan demi dinamika kehidupan.

Demi kelangsungan hidup, egoisitas, dan makna kelanggengan kekuasaannya, sikap bijak, lembut hati, dan sabar itu didistorsikan, dibungkus dengan istilah gagah, yaitu pendidikan karakter. Yang berteriak dianggap tak bijak. Yang tunduk disebut tawaduk.

Sikap bijak diarahkan ke pemahaman agar rakyat menerima saja segala keputusan yang diformulasikan sang penguasa dengan dalih semua demi kebaikan kehidupan bersama. Bila tak setuju, rakyat dipersilakan memanfaatkan saluran-saluran yang telah disediakan. Akan tetapi, sejatinya jaring-jaring konspirasi telah menyelinap rapi.

Lembut hati diarahkan ke penyikapan agar rakyat tidak mencela penguasa, sebrengsek apa pun penguasa perlu dihormati dan dijunjung tinggi harkat dan martabatnya. Kita bangsa Timur, berbudi luhur, berbudaya adiluhung, jangan berbuat kasar pada para petinggi, apalagi mau bikin ontran-ontran pada kemapanan tatanan, tidak baik itu.

Begitu kata mereka. Sabar didistorsikan pada pemahaman tentang betapa perlu rakyat menerima apa adanya. Bila ada kekurangan dan kecurangan diperbaiki pelan-pelan. Rakyat diwanti-wanti dan dikhotbahi agar tak marah, sebab marah tak menyelesaikan masalah.

Tentu terdengar indah. Namun, pada saat yang bersamaan, mereka, para penguasa, baik eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun "tif-tif" yang lain, bersekutu secara sempurna hingga kapal bangsa berjalan tanpa arah. Kemandrian budaya, misalnya, dimentahkan dengan dalih berkompetisi pada era global. Namun, sabar ana watese.

Ada batas-batas kesabaran. Ketika kekuasaan sudah kelewat lupa, kawula muda yang peka ats fenomena-fenomena yang berkembang di sekitarnya, tak bisa dininabobokan, dibuai dengan aneka rupa pencitraan. Korupsi harus dikikis habis. Jangan lemahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Biarkan rakyat mengkritik penguasa, jangan berlindung di balik formulasi undang-undang perlindungan martabat kekuasaan, biarkan kaum tani berdaulat, hukum berat para cukong pembakar hutan yang telah bikin rakyat terjerat asap, junjung tinggi nilai-nilai universal kemanusiaan, dan seterusnya, kawula muda itu berteriak dengan tulus secara bergelombang. Lalu, ada lagi yang mati. Mereka mati muda. Ada yang jadi tumbal. Bahasa yang sungguh menggetarkan sukma lebih-lebih diucapkan pada bulan Sura ini.

Tumbal adalah sesajian, kadang berupa benda, hewan, atau bahkan manusia yang diserahkan sebagai korban untuk suatu keinginan tertentu. Tumbal berkaitan erat dengan dunia mistik, sehingga pembuktian sangat susah. Seseorang yang dijadikan tumbal biasanya akan meninggal atau mengalami cacat seumur hidup.

Wisanggeni

Wisanggeni sering dijadikan simbol heroisitas kawula muda dalam jagat pewayangan. Dari namanya sudah mengandung doa. Wisanggeni berarti bisanya api. Ia terus bergerak membakar kesewenang- wenangan. Tanpa pandang bulu, tak peduli siapa pun, musuh, saudara, kawan, semua dilabrak kalau sewenang-wenang dengan kekuasaan. Ia bertekad menegakkan kebenaran dan keadilan.

Hanya dengan menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, kesejahteraan rakyat akan mewujud. Uniknya, kelahiran Wisanggeni di luar kehendak dewa. Wisanggeni disebut sebagai cah edan lantaran tidak mengenal takut. Maklumlah, sebutan edan yang dialamatkan pada Wisanggeni tidak lebih dari ekspresi ketakutan para dewa akan tuah yang dibawa.

Wisanggeni membuat ontranontran di Kahyangan karena hendak dibunuh oleh kakeknya, Batara Brama, atas perintah Sang Hyang Giri Nata atau Batara Guru karena kelahiran Wisanggeni dianggap menyalahi kodrat. Ia lahir dari rahim Dresanala (bidadari) yang mengandung benih Arjuna (manusia). Akan tetapi, Wisanggeni adalah titisan Sang Hyang Wenang, ia luput dari bala tersebut. Ia tak bisa dibunuh, justru sebaliknya ganti mengobrakabrik kahyangan.

Wisanggeni tumbuh dan dibesarkan oleh Batara Baruna (Dewa Penguasa Samodra) dan Hyang Antaboga (Raja Ular yang tinggal di dasar bumi), yang menjadikan Wisanggeni punya kemampuan yang luar biasa. Di jagat pewayangan, dia bisa terbang seperti Gatotkaca dan masuk ke bumi seperti Antareja dan hidup di laut seperti Antasena.

Sebuah pribadi muda yang memiliki kemampuan sempurna. Barangkali luka di hati yang tetap berakar menjadi energi yang menjadikannya satria berkemampuan luar biasa. Karakter Wisanggeni memang nungkak krama (tidak menggunakan bahasa krama ketika berbicara dengan siapa pun) seperti Bima.

Akan tetapi, bukan berarti tak punya etika. Ia senantiasa bertanya, siapa sebenarnya yang menyalahi kodrat? Ia cerdas dan jitu dalam memperediksi dan membuat estimasi. Weruh sadurunge winarah (mampu melihat hal yang belum terjadi). Wisanggeni tinggal di Kahyangan Daksinapati bersama sang ibu.

Sayang, ia (di)mati(kan) menjelang Bharatayuda bersama Antasena atas permintaan Batara Kresna sebagai siasat untuk kemenangan Pandawa. Ia dan Antasena dicurigai dan dikhawatirkan merusak tatanan dan skenario besar yang tersembunyi. Jangan katakan Wisanggeni sebagai tumbal.

Kawula muda yang jadi korban dalam hiruk-pikuk demonstrasi barangkali kemampuannya belum seluar biasa Wisanggeni. Akan tetapi, mereka telah menetapi darma kesatria muda. Mereka pun tak pernah berniat jadi tumbal. Kecuali atas nama takdir, tak seorang pun anak manusia bersedia jadi tumbal. Kidung megatruh yang mengiris nurani semoga tak menjadikan para pejuang kebenaran dan keadilan angles kekes! (28)

- Sendang Mulyana, dosen sastra dan budaya Universitas Negeri Semarang


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar