PRINGGITAN

Kapok Dadi Gareng

Oleh Triyanto Triwikromo

TOKOH serbasalah atau sarwasalah itu bernama Gareng. Kata Ki Amongurip, dalang dari Tingkir, kepada para niyaga, "Manusia itu tak pernah memiliki kesempurnaan. Berbuat benar pun akan senantiasa disalahkan oleh orang lain.

Apalagi bertindak salah. Karena itulah untuk mengingatkan manusia pada ketidaksempurnaan, Sunan Kalijaga menghadirkan Gareng ke jagat pewayangan."

"Mengapa diberi nama Gareng, Ki Dalang?" "Ia bisa saja diberi nama Nala Hairan atau sosok yang memperoleh kebaikan. Ia anak Semar.

Gusti Allah berkenan memberi hadiah kepada Semar anak yang lucu itu karena Semar senantiasa memuja dengan tulus Sang Sangkan Paraning Dumadi," kata Ki Amongurip sambil menunjukkan sosok wayang dengan tubuh tak lengkap.

"Apakah Gareng sengaja dibikin cacat?"

"Tak hanya cacat kaki, tangan, dan mata, ia juga tak mahir berbicara.

Segala yang dia katakan, di mata orang lain, dianggap salah. Jika saja Gareng bagian dari keluarga bangsawan, bisa saja ia disebut sebagai Raden Sarwasalah atau Raden Sarwaluput."

Kita kemudian tahu di jagat pewayangan Gareng nyaris tak dianggap becik. Bagi Gareng, tak ada becik ketitik ala ketara. Yang ada ala atau luput saja. Bagi Gareng tak ada sapa sing salah seleh.

Yang ada salah melulu. Itu berarti jika ada pohon tumbang, maka Gareng yang disalahkan. Jika ada burung mati, maka Gareng juga yang disalahkan.

Pendek kata, kampung banjir, hutan terbakar, bumi gempa, ibu mati, ayah tertabrak gajah, dan tubuh Petruk tertusuk tombak, Garenglah yang disalahkan.

Kebenaran dan hal-hal baik bukan milik Gareng. Hanya, jangan anggap tak ada maksud di balik ketidaksempurnaan Gareng.

"Tangan cacat Gareng itu melambangkan ketidaksanggupan manusia menggapai apa pun sesuai dengan keinginan sendiri. Manusia boleh saja berikhtiar Gusti Allahlah yang menentukan."

"Mengapa mata Gareng juga harus cacat, Ki Dalang?" "Mata cacat Gareng itu melambangkan ketaksanggupan manusia memahami realitas kehidupan.

Sayang, kebanyakan manusia menganggap mereka telah mengetahui segalanya." "Mengapa pula Gareng harus berjalan dengan terpincang-pincang ya, Ki Dalang?"

"Kaki cacat Gareng itu melambangkan kesulitan manusia menjalani kehidupan."

"Apakah Gareng akan jadi lambang ketidaksempurnaan manusia sepanjang zaman? Apakah Gareng tidak bisa melawan takdir?

Apakah tidak boleh ia menjadi bagian penting dari lakon Gareng Dadi Ratu?" Kita tidak tahu apa jawaban Ki Amongurip saat itu.

Yang paling mungkin dibayangkan, Gareng bisa jadi raja, tetapi ia akan tetap dirongrong oleh sosok-sosok yang menganggap diri sebagai manusia yang mendapatkan wahyu kedhaton.

Gareng akan dianggap sebagai ratu yang dungu, tak layak memimpin, dan patut di-lengserkan kapan pun, oleh siapa pun, dan dengan alasan apa pun. Garengbisasajalolosdariolok-olokatauupaya-upayapenurunan dari kekuasaan.

Akan tetapi, tak lama kemudian, akan muncul olokolok atau alasan-alasan baru untuk menghancurkan ke-ratu-an Gareng.

Dalam situasi semacam itu Gareng sebagaimana Sisifus seperti mendorong batu ke puncak Gunung Semeru dan begitu sampai, batu itu akan oleh kekuatan lain digelindingkan ke lembah.

Parahnya, Gareng harus mendorong batu itu ke puncak gunung lagi. Batu itu akan menggelinding lagi dan harus didorong lagi ke puncak. "Kalau begitu sungguh berat jadi Gareng.

Apakah Gareng tak pernah kapok jadi Gareng?" "Ia tak akan pernah kapok. Ia akan menjadi sosok yang terus mengabdi bagi kebaikan orang lain. Punakawan tak akan sempurna tanpa Gareng.

Arjuna seperti burung kehilangan sayap tanpa Gareng. Karangkadempel akan sunyi tanpa Gareng." "Ia semacam ketaksempurnaan yang harus ada di dalam kesempurnaan?"

"Ia adalah pengingat bahwa kita tak pernah mencapai kesempurnaan." "Ia semacam tumbal kehidupan?" "Ia sekali lagi adalah Nala Hairan. Ia adalah sosok yang mendapatkan kebaikan. Bagaimana mungkin sosok yang senantiasa mendapatkan kebaikan akan kapok menerima kebaikan?"

"Apakah Gareng tak pernah lelah jadi Gareng? Apakah ia bisa menyerah sehingga mudah dilengserkan? Apakah Gareng selalu menjadi sosok pemberani?" "Gareng tetap saja memiliki rasa takut dan mudah menyerah." "Jadi, Gareng mudah roboh, Ki Dalang?" "Ya, ia mudah dirobohkan.

Karena itulah ia harus berikhtiar berdiri tegak dan jangan sekali-sekali melakukan kesalahan.î ìIa harus menjadi manusia yang sarwaapikdan sarwabener?" "Ya karena itulah tugas sekaligus penderitaan utama Gareng." "Penderitaan utama?" "Ya.

Karena ia harus berhadapan dengan kejahatan dan keculasan sepanjang waktu." "Sepanjang waktu?" "Ya, sepanjang waktu." "Apakah dalam diri kita ada Gareng, Ki Dalang?" "Ya. Kitalah Gareng. Kitalah ketidaksempurnaan yang dipaksa untuk selalu sempurna itu." (28)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar