BLENCONG

Mahadusta tentang Minak Jingga (2)

Oleh Saroni Asikin

KUDA yang ditunggangi Kuda Atumpak memasuki wanuapertama di pinggiran Trowulan. Dari balik dedaunan lelaki itu melihat sang bagaskara telah lingsir ke barat dan dia memperkirakan hari baru memasuki saat tunggang gunung. Dia memperlambat laju kuda. Dia tak ingin memasuki gerbang kotaraja saat hari masih terang.

Dia tak ingin kepulangannya ke Trowulan diketahui orang-orang yang mungkin mengenalnya sebelum bertemu orang yang telah memerintahkannya melakukan tugas sandi di wilayah Blambangan. Karena itu, begitu menjumpai rumah minum, dia menghentikan tunggangannya.

Pemilik rumah minum itu menyambut dengan salam dan sapaan riang pada saat Kuda Atumpak menambatkan tunggangannya ke dahan tanjung. Di dalam warung tak seorang peminum pun dia jumpai. Itu suasana yang tepat untuk orang yang sedang menjalankan tugas rahasia seperti dia. Itu juga suasana yang bagus untuk sejenak merehatkan diri dan kudanya.

Maklum, sejak keluar dari wilayah Singasari pada pagi buta dia memacu kuda dengan kecepatan tinggi dan hanya sempat berhenti sejenak di satu rumah minum di Pare. Ketika pemilik warung membawa bumbung tuak yang besar, Kuda Atumpak memberi isyarat kepada lelaki itu agar memberi bumbung kecil.

Dia sedang tak ingin mabuk karena ingin segera menghadap Sang Puan Ratu dan melaporkan penyelidikannya di Blambangan. Apalagi sebenarnya dia sudah tak sabar ingin segera melaporkan bahwa semua cerita buruk tentang Menak Jingga adalah omong kosong.

Karena itu pula dia harus benar-benar berhati-hati begitu memasuki wilayah Trowulan, khususnya di lingkungan istana. Dia yakin, cerita buruk tentang perangai Menak Jingga dan penderitaan kawula Blambangan di bawah kekuasaan lelaki itu, cerita yang tersebar di Trowulan, pastilah sengaja dibuat oleh orang-orang tertentu.

Cerita buruk tentang seseorang yang telah berjasa bagi kerajaan seperti Menak Jingga pastilah berkaitan dengan orang-orang yang berkedudukan tinggi di lingkungan istana. Itu sebabnya selama perjalanan dari Blambangan, dia memikirkan apa yang akan dia lakukan sekembali ke Trowulan. Dia akan menyelidiki.

Berat buat dia karena bukan penggawa di salah satu kesatuan prajurit atau pegawai di lingkungan istana. Namun dia melihat peluang itu karena mengenal lingkungan istana, dan sebagian besar pejabat tinggi itu menjadi pelanggannya untuk barang-barang dari mancanegara seperti kain dari India dan porselin dari Tiongkok. Setelah menandaskan sebatok tuak, Kuda Atumpak mengedarkan pandangan, juga ke arah luar warung sebelum mengeluarkan seikat lontar dari kantong kain. Lontar dari Menak Jingga untuk Ratu Kencanawungu.

Si pengirim lontar telah membacakan isinya saat Kuda Atumpak bertemu lelaki perkasa itu di kamar pribadinya. Menak Jingga juga telah mengizinkannya untuk membaca kapan pun dia mau sebelum menyerahkan lontar itu ke sang ratu. Kuda Atumpak ingat dia agak terkejut karena merasakan jalinan aksara yang digurat Menak Jingga untuk Ratu Kencanawungu terdengar indah.

Dia bertanya-tanya bagaimana bisa wacana seindah itu lahir dari lelaki yang dikenal berperangai keras dan suka tertawa. Dia memang tak mengenal karya para kawi, tetapi dia merasa jalinan aksara dari MenakJinggamiripkaryaparakawi. Memangtakpanjang, hanya empat larik di atas dua lempir lontar, tetapi Kuda Atumpak merasakan benar-benar keindahannya.

Karena itu, meskipun sudah hafal isinya, dia beberapa kali telah membaca saat rehat di suatu tempat dalam perjalanan balik ke Trowulan. Akulah burung kalangkyang dan kau tetesan pertama hujan./Kemarau masih panjang dan lengkingan keperihan kerinduanku tak tertahankan/Aku akan datang berkendara sang bayu/sebelum tetes hujan jadi badai dan bunga-bunga layu.// Setelah membaca lempiran lontar itu dan memasukkan kembali ke kantong kain, dia kembali menuangkan tuak ke batok minumnya.

Ketika hendak menyeruput, telinganya mendengar suara kaki-kaki mendekat ke warung. Dia terkesiap ketika menoleh ke pintu. Beberapa prajurit telah merangsek ke dalam warung dan menghunus dan menujukan pedang mereka ke arahnya.

Belum sempat mengucapkan sesuatu, dua prajurit telah meringkus dan menyeret dia keluar. Di luar, Kuda Atumpak melihat dua penunggang kuda yang terlihat angkuh. Dia tak pangling, itu kakak-beradik Layang Seta dan Layang Kumitir. Dia ingin meneriakkan sesuatu ke kedua anak Mapatih Logender itu ketika merasakan kepalanya dipukul keras. (28)

Catatan:
Wanua: desa atau perdukuhan; bagaskara: matahari; tunggang gunung: waktu sekira pukul 16.00.


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar