Jaga Diri, Solusi Jitu Hadapi Pelecehan Seksual

ANGKA pelecehan seksual yang dirilis Markas Besar Polri memprihatinkan. Tahun ini tercatat 236 kasus pelecehan seksual terhadap anak. Di luar itu, berapa banyak yang tidak melapor? Korban pelecehan seksual biasanya enggan melapor karena malu. Atau, ingin menutupi aib dan malas berurusan dengan hukum. Keluarga korban pun setali dua uang.

Rizky Nurcahyo, anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Sosial (Pesos) Universitas Diponegoro (Undip), mengamini hal itu. Masih hangat diingatan Cahyo, sapaannya, kala mendengar kisah pelecehan seksual di salah satu desa di Temanggung, Jawa Tengah. ”Mirisnya, korban adalah anak TK.

Ketika pihak keluarga minta solusi ke sekolahan, pihak sekolah tidak menggubris,” kata Cahyo. Cerita itu membuat Cahyo sadar bahwa pendidikan seks sangat mendesak. Kendati di satu sisi bahasan soal seks masih dianggap tabu, tapi di sisi lain penting digencarkan penyuluhan. Cahyo melalui Divisi Pendidikan UKM Pesos Undip lantas menginisiasi acara ”Saya Mampu Menjaga Diri (Sapu Jari)”.

Acara berbentuk sosialisasi tersebut berlangsung pada Minggu (22/9) pukul 08.00-12.00 WIB di Gedawang, Semarang. ”Dua tahun lalu UKM Pesos pernah mengadakan Sapu Jari. Tahun ini kembali diselenggarakan dengan harapan meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya pendidikan seks dan kemampuan menjaga diri dalam hal pelecehan seksual,” tutur Cahyo selaku ketua acara.

Bukan tanpa alasan, Gedawang menjadi lokasi sosialisasi lantaran daerah tersebut ditunjuk pemerintah Semarang sebagai Desa Keluarga Berencana (KB). Sementara masyarakat usia dewasa telah melek urusan KB, para remaja menjadi target peserta Sapu Jari agar bisa lebih melindungi diri.

Pubertas

Sesi pertama Sapu Jari ”Generasi ringan mengingat peserta Sapu Jari ialah siswa SMP hingga SMA. Kecuali persoalan remaja secara umum, Syifa menyentil perubahan fungsi seksual pada remaja. Ada pula kiat-kiat memilih pergaulan yang baik. Syifa mengatakan, relasi yang sehat dibuktikan dengan komunikasi yang baik, saling dukung, dan tidak ada kekerasan baik secara fisik, psikologis, ekonomi, maupun seksual.

Terakhir, Syifa memberi gambaran tentang dampak negatif yang timbul jika terjerumus pergaulan bebas. Jika pergaulan tersebut mengarah pada seks, risiko seperti kehamilan yang tidak diinginkan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga tertular penyakit infeksi menular seksual (IMS) dan HIVAIDS bukan tidak mungkin sulit dihindari.

Menyambung Syifa, mahasiswi Psikologi Undip sekaligus eks sukarelawan PILAR PKBI Weni Safitri memberikan materi tentang pelecehan seksual. Dikatakan pelecehan seksual jika perilaku tersebut tidak disukai dan diterima korban. Tiga jenis pelecehan seksual yang ditekankan Weni ialah secara fisik, verbal, dan non-verbal. Bersiul dan melirik termasuk kekerasan seksual non-verbal.

Adapun yang verbal seperti komentar tentang seksualitas, misalnya body shaming atau guyonan yang mengarah seksual. Tak lupa, Weni memberi saran untuk menghentikan pelecehan seksual dengan tidak memakai seksualitas sebagai materi candaan, berhenti bersikap seksis, dan mulai meningkatkan kesadaran tentang pelecehan seksual. (Sofie Dwi Rifayani-53)


Tirto.ID
Loading...
Komentar