ESAI

Sastra, Teknologi, dan Digitalisasi

Oleh Muharsyam Dwi Anantama

Pada era serbamodern seperti hari ini, peran teknologi dalam laku sehari-hari amatlah vital. Aktivitas manusia dalam keseharian kerap kali ditunjang oleh teknologi. Teknologi seolah mampu menjawab hasrat manusia akan tuntutan pekerjaan yang cepat, mudah, dan menghemat waktu. Kita hidup pada era serbateknologi. Perkembangan teknologi dan digitalisasi telah merambah semua sisi. Keadaan itu tak pelak mengubah hampir semua sisi kehidupan menjadi serbadigital.

Beberapa pekerjaan bisa selesai hanya dalam satu genggaman. Dengan gawai, misalnya, hidup kita serasa begitu dimudahkan dan dimanjakan. Sastra menjadi objek yang tak luput dari gempuran perkembangan teknologi. Salah satu dampak yang bisa dirasa adalah kelahiran sastra digital. Sastra digital adalah anak kandung era geliat teknologi yang begitu masif. Hiruk-pikuk dan kesesakan perjuangan menerbitkan dan memublikasikan karya sastra menjadi musabab kelahiran sastra digital.

Kelahiran sastra digital merupakan angin segar bagi para penulis pemula. Kemunculan Instagram, Facebook, website hingga blog menjadi sarana yang murah dan mudah bagi penulis untuk membagikan karya. Kehadiran media-media sosial itu memiliki implikasi yang cukup baik terhadap dunia sastra. Media-media itu membuat karya sastra lebih membumi dan tidak lagi terasing. Dengan kehadiran media-media itu, karya sastra makin mudah diakses oleh setiap orang.

Sastra terasa makin cair dan terbuka, bisa dijangkau siapa saja. Fenomena sastra digital dapat digunakan sebagai sarana yang membantu penyebaran virus cinta terhadap sastra. Tak bisa dimungkiri, selama ini banyak orang merasa antipati terhadap karya sastra. Rasa antipati itu mungkin lahir karena akses yang amat terbatas terhadap karya sastra. Dengan kelahiran sastra digital, akses yang terbatas itu bisa terpangkas.

Kualitas Sastra Digital

Sastra digital membuat jurang pemisah antara pembaca dan penulis karya sastra perlahan tergerus. Eksklusivitas yang selama ini seolah melekat pada dunia sastra meluntur. Perjumpaan dan dialog antara pembaca dan penulis karya sastra pun makin mudah terjalin. Misalnya, melalui kolom komentar yang disediakan media sosial tempat karya sastra dipublikasikan.

Ruang itu bisa digunakan sebagai wahana mengapresiasi dan menyikapi secara kritis. Saling berkirim salam dan memuji juga tersedia di media itu. Kesempatan memublikasikan karya sastra memang terbilang sangat mudah pada era teknologi ini. Tak bisa dimungkiri, kehadiran fenomena sastra digital membuat publikasi karya sastra begitu mudah. Sebelum ada internet, para penulis begitu sulit memublikasikan karya.

Apalagi jika penulis itu terbilang pemula. Ia harus sabar dan tawakal menunggu karyanya diterbitkan. Namun banyak orang beranggapan kemudahan berbanding lurus dengan kualitas. Makin mudah karya diterbitkan, bisa diprediksi karya itu kurang mumpuni. Banyak karya belum siap dipublikasikan, tetapi dipaksa disebarluaskan. Hal itulah yangmenjadititiklemahdalamsastradigital. Sebelum era sastra digital, publikasi karya sastra bukanlah hal mudah dan sederhana.

Perlu proses panjang dan kesabaran. Setiap karya yang akan terbit, di sebuah koran misalnya, perlu melalui berberapa tahapan seleksi. Editor berhak memilah dan memilih karya sastra yang dinilai mumpuni untuk terbit di koran dan disebarluaskan. Tidak sembarang karya bisa nangkring di koran. Hanya karya yang secara bahasa dan estetika baik yang bisa diterbitkan. Hal itu tidak bisa kita jumpai dalam proses penyebarluasan karya sastra digital.

Dalam pemublikasian karya sastra digital, tidak ditemui ada editor yang menimbang dan memilih karya sastra mana yang boleh terbit di media sosial. Penulis atas inisiatif dan keyakinan sendiri memublikasikan karya. Tak terlalu peduli aturan bahasa atau estetika. Ketiadaan editor dalam karya sastra digital memancing riuh-rendah perdebatan. Sekelompok orang mempertanyakan siapa yang berhak menilai kualitas sastra digital.

Mereka juga menyangsikan karya sastra yang terbit di media sosial baik secara kualitas. Tampaknya hal itu perlu dikaji lebih jauh. Di dunia sastra, aspek estetika merupakan hal mutlak. Tidak bisa sembarang karya kita kategorikan sebagai karya sastra. Harus ada penilaian dan pertimbangan tersendiri untuk menentukan karya itu layak disebut sebagai karya sastra atau bukan. (28)

- Muharsyam Dwi Anantama, mahasiswa Pascasarjana PBI UNS Surakarta, belajar sastra di Komunitas Penyair Institute (KPI) Purwokerto. Dia tinggal di Desa Lebeng RT 02 RW 02 Nomor 32, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, bisa dihubungi melalui 081240893138/085742752823 (WA) atau [email protected]


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar