PITUTUR

Kebo Nyusu Gudel

KERBAU menyusu gudel (anak kerbau). Adalah aneh bila terjadi fenomena ini, karena seharusnya dan yang biasa terjadi, adalah gudel menyusu kerbau. Jadi pituturitu adalah sebuah sanepanatau sindiran kepada orang tua yang tidak mau meningkatkan kualitas atau kemampuannya sehingga dia tidak lagi menjadi tumpuan anak-anaknya, sebagai tempat bertanya dan meminta. Sebetulnya posisi yang wajar adalah gudel (anak) menyusu kepada induknya.

Akan tetapi kenyataan kini telah berubah, telah terjadi perkembangan yang unpredictable, tak dinyana sebelumnya Ya harus disadari bahwa zaman sudah berubah. Saat ini perubahan ditandai dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat dan cepat. Tak ada lagi ruang tanpa sentuhan teknologi. Teknologi mampu membantu manusia secara cepat, tepat, dan akurat sehingga teknologi saat ini bukan lagi hanya merupakan alat atau sarana untuk mencapai apa yang ingin diwujudkan. Namun sudah merupakan kebutuhan manusia, sehingga zaman ini sudah menjadi era teknologi, era digital. Di sinilah kelebihan anak-anak bahkan cucu dibandingkan orang tua atau kakeknenek mereka. Jari-jari mereka sangat fasih dan lincah menari di atas tombol-tombol gawai. Gawai sudah menggantikan banyak peran guru dan orangtua.

Padahal gawai juga otomatis pula sudah menjadi kebutuhan para orangtua. Namun kecepatan mereka menyesuaikan diri dengan teknologi itu sangat jauh ketinggalan dibanding anak dan cucu mereka. Karena itu mereka belajar kepada anak-anak tersebut. Nah di sinilah menjadi kenyataan, bahkan ”keharusan” bagi orang tua untuk belajar kepada anak-anak. Sehingga pitutur ”kebo nyusu gudel” bukan lagi menjadi sanepanatau sindiran tetapi sudah fenomena baru, menjadi anjuran atau perintah.

Memang sebenarnya mencari ilmu atau jawaban atas permasalahan yang dihadapi tidak terbatas kepada mereka yang berusia lebih tua tetapi pada kemampuannya memberikan solusi atau pemecahan masalah, seperti yang dapat kita baca pada firman Allah dalam Surah An Nahlayat 43 yang artinya :”maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (DrKH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah-23)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar