919 Ribu Orang Terkena ISPA

SM/Antara : DISELIMUTI ASAP: Sebuah pesawat bersiap lepas landas di Bandara Sultan Thaha, Jambi, yang diselimuti kabut asap karhutla, Senin (23/9). (24)
SM/Antara : DISELIMUTI ASAP: Sebuah pesawat bersiap lepas landas di Bandara Sultan Thaha, Jambi, yang diselimuti kabut asap karhutla, Senin (23/9). (24)

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan ada 919.516 orang yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengatakan, jumlah itu tersebar di enam provinsi, yaitu Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. ”Ini catatan Kementerian Kesehatan, kemudian kami sajikan,” kata Agus dalam jumpa pers di Graha BNPB, Jakarta, Senin (23/9). Secara rinci, Agus memaparkan 275.793 penderita ISPAberada di Riau, 63.554 orang di Jambi, 291.807 di Sumatera Selatan, 180.695 di Kalbar, 40.374 di Kalsel, dan 67.293 orang di Kalteng. Agus menuturkan, jumlah tersebut sangat mungkin bertambah mengingat kepekatan asap semakin meningkat. BNPB masih menunggu pembaharuan data resmi dari Kemenkes. Pihaknya mengimbau warga yang terdampak kabut asap memanfaatkan rumah singgah yang ada di rumah sakit dan kantor pemerintah. Agus menyebut di Provinsi Riau ada 15 rumah singgah.

Di tempat tersebut pemerintah menempatkan dokter hingga memberikan masker, obat, dan makanan tambahan untuk ibu hamil dan anak-anak. Selain itu, rumah singgah juga dilengkapi alat penyaring udara. Dalam sehari sekitar 100 orang bergantian memanfaatkan rumah singgah di Pekanbaru. ”Kalau sudah sehat, keluar, satu-dua jam istirahat, nanti ada masker, tidak nginap. Kalau sudah parah, dirujuk ke rumah sakit terdekat,” imbuh Agus. Selain kerugian dari sisi kesehatan, lanjut dia, karhutla juga menimbulkan kerugian materi sekitar Rp 66,3 triliun. ”Perkiraannya kurang lebih sepertiga dari 2015. Tahun 2015 kerugian Rp 221 triliun, jadi perkiraan awal kami 30 persen dari itu,” ujarnya. Kepala BNPB Doni Monardo memastikan upaya optimal dalam penanggulangan karhutla. Namun demikian, pihaknya meminta bantuan doa agar hujan alami segera turun di daerah-daerah terdampak karhutla. ”Peran Dewan Masjid Indonesa kami butuhkan agar dalam berbagai kesempatan kerja keras kami perlu diimbangi dengan doa, supaya Tuhan memberikan kemudahan agar relatif tidak lama lagi hujan diturunkan,” kata Doni.

Dia menerangkan, upaya kerja sama dengan DMI ditempuh guna melengkapi langkah-langkah penanggulangan yang sudah dilakukan BNPB, seperti pemadaman lewat jalur darat, water bombing, dan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Wisnu Widjaja mengatakan, kebakaran hutan dan lahan harus diatasi secara permanen untuk mencegah agar tidak berulang setiap tahun. ”Kebakaran hutan dan lahan tidak bisa ditangani saja setiap tahun. Harus ada upaya pencegahan,” kata Wisnu dalam Forum Merdeka Barat 9 yang diadakan Kementerian Komunikasi dan Informatika di Jakarta, kemarin.

Wisnu mengatakan, 99 persen kebakaran hutan dan lahan terjadi karena ulah manusia, baik disengaja maupun tidak. Masalah mendasar adalah mata pencaharian masyarakat di bidang pertanian dan perkebunan. Untuk membuka hutan dan lahan, kebanyakan masyarakat dan perusahaan perkebunan mengambil jalan pintas dengan membakar karena berbiaya murah. ”Selama itu belum diatasi, kebakaran hutan dan lahan akan terus terjadi. Karena itu, BNPB berupaya menggandeng beberapa perusahaan untuk memperbaiki perekonomian masyarakat,” tuturnya.

Wisnu menambahkan, terdapat segitiga api yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan, yaitu oksigen, media bakaran berupa gambut, dan sumber panas. Menurut dia, lahan gambut sebenarnya memiliki fungsi sebagai rawa. Namun karena ulah manusia, kanal-kanal di lahan gambut menjadi kering dan mudah terbakar. ”Adapun sumber panas juga disebabkan oleh ulah manusia,” ujarnya. Karena itu, untuk mencegah kebakaran, fungsi ekosistem lahan gambut sebagai rawa harus dikembalikan. Selain itu, perlu pemberdayaan masyarakat untuk menanam tanaman yang cocok untuk lahan gambut.

Keselamatan Pelayaran

Guna menjamin keselamatan dan keamanan kapal, khususnya yang berlayar di perairan dengan jarak tampak terbatas (restricted visibility) akibat asap kebakaran hutan yang masih terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan mengeluarkan Maklumat Pelayaran Nomor.64/PABL/2019 tertanggal 18 September 2019 tentang Keselamatan Kapal Terkait Kabut Asap.

Berdasarkan maklumat tersebut, Direktur Jenderal Perhubungan Laut melalui Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ahmad menginstruksikan para kepala Unit Penyelenggara Teknis (UPT) Ditjen Perhubungan Laut dan pihak terkait agar meningkatkan kewaspadaan, mengawasi, dan mengingatkan kapal-kapal yang berlayar atas ancaman kabut asap yang dapat mengganggu keselamatan pelayaran. ”Semua pihak terkait baik para kepala UPT, marine inspector (MI), nakhoda, maupun perusahaan pelayaran harus melaksanakan instruksi ini dengan penuh tanggung jawab dan wajib melaporkan kepada direktur Jenderal Perhubungan Laut,” kata Ahmad.

Menurut Ahmad, para nakhoda agar selalu melakukan pengamatan dengan penglihatan, pendengaran, maupun sarana yang tersedia di atas kapal sesuai penilaian terhadap situasi dan bahaya tubrukan. Selain itu, para nakhoda harus mengurangi kecepatan kapal sampai serendah-rendahnya apabila mendengar isyarat kabut dari kapal-kapal lain ataupun menghilangkan kecepatan sama sekali sampai potensi bahaya tubrukan berlalu.

Sementara itu, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mulai menyelimuti kawasan wisata terkenal di Thailand, Phuket, sehingga kualitas udara mencapai tingkat tidak sehat. Pemerintah pun mengimbau warga mengenakan masker jika keluar ruangan. ”Kabut asap melingkupi Phuket setiap tahun akibat kebakaran lahan di Indonesia. Tahun ini merupakan yang terparah karena tidak ada hujan,” ujar Charn Jindachote, pejabat Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Phuket. Charn melontarkan imbauan ini setelah Indeks Kualitas Udara (AQI) di Phuket dilaporkan menembus angka 158. Berdasarkan skala AQI, 0-50 menunjukkan kualitas udara baik, 51-100 menengah, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, dan 301 ke atas berarti berbahaya. Menurut Charn, kabut asap lebih pekat di daerah pantai ketimbang kawasan kota Phuket. Ia pun mengimbau warga untuk selalu memakai masker ketika keluar ruangan. Ia juga meminta warga selalu memastikan pintu dan jendela tertutup rapat sebelum meninggalkan rumah. Selain Phuket, kawasan selatan Thailand juga terperangkap kabut asap dari Indonesia.

Asap tebal dilaporkan terlihat di distrik Hat Yai, Songkhla, di mana AQI mencapai 93. Pihak berwenang dilaporkan sudah melakukan operasi semprot air di sekitar area yang terkena kabut asap sebagai upaya penanggulangan awal. Tak hanya Thailand, kabut asap akibat karhutla di Indonesia sebelumnya mencapai Malaysia dan Singapura. (bn,cnn-19)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar