Menghidupkan Kesenian Cin Mleng di Salatiga

Kembali Dipentaskan setelah Setengah Abad

SM/Moch Kundori : PENTAS CIN MLENG : Pementasan kesenian Cin Mleng di panggung Pentas Budaya Kecamatan Tingkir, Salatiga, 8 September lalu.(24)
SM/Moch Kundori : PENTAS CIN MLENG : Pementasan kesenian Cin Mleng di panggung Pentas Budaya Kecamatan Tingkir, Salatiga, 8 September lalu.(24)

Kesenian Cin Mleng yang dipentaskan Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Tri Sala Salatiga pada Minggu (8/9) di Panggung Kirab Budaya Kecamatan Tingkir mengundang tanya para pemerhati kesenian di Salatiga. Banyak yang tidak mengetahui kesenian yang konon asli Salatiga itu.

PEMERHATI sejarah Salatiga, Edy Supangkat, mengaku baru mendengar tentang kesenian Cin Mleng itu. Tetapi dia tertarik menelusurinya untuk dijadikan bahan tulisan buku. ”Sejauh ini belum ada studi pustaka yang saya temui yang menulis tentang kesenian Cin Mleng itu. Saya baru tahu setelah membaca Suara Merdeka. Katanya kesenian ini asli Salatiga,” tutur Edy.

Ketua Dewan Kesenian Salatiga (DKS) Sujisno mengatakan, selama tinggal di Salatiga, dia belum pernah melihat atau mendengar kesenian mirip lenong itu. Deskripsi tentang kesenian ini pun belum pernah ia baca di buku-buku. Adalah Didick Indaryanto (79) yang saat ini Ketua FK Metra Tri Sala Salatiga yang menggagas pementasan Cin Mleng di Tingkir.

Pemilik sanggar seni tari Bibasari Salatiga itu akan terus berupaya menggali kesenian tersebut. ”Sejauh ini, saya melihat, tidak ada kesenian asli Salatiga. Cin Mleng ini bagian dari upaya kami untuk menelusuri sejarah kesenian Salatiga. Setelah melalui penelusuran lama, akhirnya saya menemukan kesenian ini,” ucap Didick di sanggarnya di Jalan Sukowati Salatiga. Didick menganggap wajar, banyak masyarakat tidak tahu Cin Mleng. Maklum, sudah lebih dari 50 tahun tidak dimainkan. Konon Cin Mleng ini dahulu berkembang di daerah pinggiran Salatiga seperti Kuaman Kidul dan Desa Sendang di Bringin, Kabupaten Semarang. ”Ada beberapa orang di daerah itu yang saat ini masih hidup dan dulu pernah nonton pementasan Cin Mleng. Beberapa kali saya bertemu mereka untuk bertanya dan menggali seperti apa bentuk kesenian ini. Akhirnya saya wujudkan dalam pementasan kemarin,” kata Didick.

Dia menjelaskan, kata Cin Mleng bukan berasal dari bahasa Tiongkok. Kata Cin Mleng itu karena lidah orang Jawa yang suka menirukan bunyi-bunyi yang dihasilkan dalam irama tertentu. ”Kata Cin Mleng itu menirukan irama jinjin pleng, jin-jin pleng, jin-jin pleng,” tuturnya.

Dia menambahkan, irama ”jin-jin pleng” merupakan bunyi dari alat musik semacam terbangan atau jedor. Alat-alat musik itu adalah komponen utama yang mengiringi kesenian Cin Mleng. Jika ditelisik, kesenian itu kental nuansa Arab atau Timur Tengah. Adapun busana yang digunakan saat pementasan di Tingkir adalah perpaduan adat Jawa, pesisir, dan Belanda.

Dominan Humor

Menurut cerita Didick, Cin Mleng merupakan kesenian rakyat yang berkembang pada zaman Belanda atau sekitar 100 tahun lalu. Kesenian itu mirip lenong dari Betawi, ludruk (Surabaya), atau ketoprak. Kisah yang dibawakan merupakan cerita umum yang mengangkat tema kondisi sosial masyarakat. Nuansa humor lebih dominan. Para pemainnya selalu menari ketika masuk dan pergi dari babak dialog. Jadi, meski dalam dialog ada kesan marah, tetapi menjadi lucu, ketika seusai dialog kemudian menari.

Pementasan pun selalu dilengkapi sinden. Semasa zaman Belanda, tidak mudah mendapatkan izin pentas. Pentas biasanya dilakukan di desa-desa sebagai hiburan rakyat ketika itu. ”Pemerintah Belanda tentu mengawasi ketat karena kesenian ini dicurigai sebagai alat propaganda perjuangan kemerdekaan. Akhirnya disiasati oleh pelaku kesenian ini, ada tokoh dari Belanda dalam setiap pementasan, yaitu wanita atau nonik Belanda. Dengan begitu, perizinan akan lebih mudah,” katanya. Karena selalu ada pemeran nonik Belanda, kesenian ini juga kerap disebut Nok Nik. Terkadang ketika tidak bisa menampilkan nonik Belanda asli dalam sebuah pementasan, ada pemain yang memerankan sosok wanita bule tersebut dengan didandani sedemikian rupa. Bahkan terkadang pemerannya adalah pria.

Dalam perkembangan, Cin Mleng ini tidak pernah lagi dimainkan, terutama sejak awal Orde Baru. Karena pengaruh politik, masyarakat takut mementaskannya karena ketika itu organisasi kesenian tertentu dicurigai berhaluan komunis. ”Akhirnya sampai sekarang tidak ada lagi yang memainkan kesenian ini sehingga nyaris punah. Kami akan berupaya menggali dan menghidupkan kembali,” tutur Didick. Dia mengakui pementasan Cin Mleng di Tingkir baru-baru ini masih mencari bentuk ideal seperti aslinya. Kajian-kajian akan terus dilakukan dengan menelusuri orang-orang yang minimal pernah menonton pentas zaman dulu. ”Intinya, kami berkomitmen menghidupkan kembali kesenian asli Salatiga yang bisa menjadi pembeda dari daerah lain,” ucapnya. (Moch Kundori-19)


Berita Terkait
Loading...
Komentar