Makanan Jalanan Masa Kini

SM/dok - BERJUALAN: Lok Lok Malaysian Street Food berjualan di Semarang, beberapa waktu lalu. (28)
SM/dok - BERJUALAN: Lok Lok Malaysian Street Food berjualan di Semarang, beberapa waktu lalu. (28)

MAKANAN jalanan, atau dalam ungkapan "keren" disebut street food, adalah makanan dan minuman siap santap yang dijual penjaja di jalanan, pedagang asongan, warung, atau kedai di tempat umum. Lapak-lapak itu, antara lain, berada di tepi jalan umum, pasar, pasar malam, atau pekan raya.

Jajanan jalanan biasanya disajikan di kios atau gerobak makanan. Ada pula di truk makanan. Makanan-makanan itu dimaksudkan sebagai makanan yang bisa segera dikonsumsi.

Beberapa jajanan jalanan digolongkan sebagai cemilan dan makanan cepat saji. Rata-rata makanan itu lebih murah daripada harga makanan di rumah makan. Menurut penelitian yang digelar pada 2007 oleh Food and Agriculture Organization, 2,5 miliar orang mengonsumsi jajanan jalanan setiap hari.

Melihat betapa besar peluang usaha itu, orang-orang pun menjajal peruntungan di usaha itu. Sekarang, di Semarang, ada beberapa makanan jalanan kekinian yang dijual. Ada crab party yang berisi jamur enoki dibalut smoked beef sedang dipanggang.

Ada juga daging sapi diolesi bumbu saus keju. Juga taburan jagung dan bawang putih yang menambah wangi aroma adonan. Makanan itu merupakan perpaduan (fusion food) antara masakan ala Barat yang identik dengan daging sapi dan masakan Asia dari Thailand. Carolita, manajer Crab Party, menuturkan crab party merupakan salah satu masakan perpaduan itu.

Daging dari Barat, sedangkan saus bangkok dari Thailand. "Makanan ini salah satu inovasi baru di bidang kuliner. Ini fusion food yang banyak digemari generasi milenial," ujarnya. Selama ini dia menjajakan crab party di sejumlah festival kuliner. Ia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain atau tidak menetap.

"Saya biasa berjualan berpindahpindah. Sering ikut festival kuliner dan pameran di sejumlah tempat. Misalnya, di Sriratu Pemuda, Taman Indonesia Kaya, atau di mal-mal," ujarnya. Dia menuturkan dengan mengikuti pameran, bisa memperoleh omzet lebih besar dibandingkan dengan menetap di suatu tempat.

Selama mengikuti pameran seminggu saja, misalnya, ia bisa meraup omzet lebih dari Rp 5 juta. Sementara, jika harus menetap di suatu tempat, belum tentu bisa meraup omzet sebesar itu. "Konsumen akan bosan dan yang beli hanya orang-orang itu saja. Belum lagi kalau harga sewa tempat mahal. Karena lokasi juga penting, apalagi sewa lokasi yang strategis," tutur dia.

Disukai

Selain crab party, makanan jalanan lain adalah korean hotdog. Makanan itu berupa sosis, kentang dipotong kotak-kotak, dan saus mozarela. Korean hotdog dipadukan dengan saus dari Thailand yang menambah cita rasa.

Karyawan Smile Korean Snack, Verlin Oktisia, menyatakan makanan itu diadaptasi dari negara Korea dan saus dari Thailand. "Sebagian besar penyuka generasi muda. Ada kentang, sosis, saus, dan keju mozarela," katanya. Dia menuturkan masakan Korean selama ini menjadi salah satu makanan kekinian yang disukai. Selama ini dia memasarkan produk melalui sejumlah pameran.

Namun jika tak ikut pameran, setiap hari dia menetap di lokasi dekat kampus Undip Tembalang. "Sekali pameran biasanya dapat menjual sampai lebih dari 100 korean hotdog selama tiga hari atau enam hari. Setiap hari bisa menjual sekitar 50 korean hotdog," ujarnya. Makanan jalanan, kata dia, selama ini banyak disukai generasi milenial karena relatif murah.

"Kami mematok harga terjangkau karena harga sewa jualan di jalan juga tidak mahal. Saya hanya membayar ongkos sewa per hari kepada warga atau pengelola," katanya. (Fista Novianti-28)


Berita Terkait
Loading...
Komentar