Jadi Buruan Para Pelancong

BERBURU aneka makanan jalanan yang terkenal lezat di berbagai negara biasanya tak pernah terlewatkan oleh penggemar traveling. Ritual mengenyangkan perut dengan aneka camilan siap santap dan lezat wajib hukumnya bagi mereka saat menyambangi satu tempat baru.

Salah satu makanan jalanan yang baru dikembangkan di Semarang adalah Joy Lok Lok Fried & Barbeque. Kendati belum memiliki kedai permanen, kedatangannya selalu ditunggu dari acara ke acara kuliner. Sang pemilik, Nabila, menuturkan satai lok lok banyak dijual di Singapura dan Malaysia. Selain bisa dibakar atau goreng, ada juga yang direbus dengan kuah kaldu.

Di negara tersebut, satai lok lok seperti gorengan di pinggir jalan. ''Yang lain mungkin sekadar berjualan sosis dan frozen food lain. Ingin orang datang cari cemilan sambil ngobrol sepulang kerja dengan harga tidak terlalu mahal seperti di restoran," ujar Nabila, kemarin. Dia mengemukakan yang membuat lok lok berkesan premium dan berbeda dari makanan di jalanan antara lain dari sisi higienitas atau kebersihan. Peralatan masak selalu keadaan bersih.

Setelah berjualan, semua langsung dicuci untuk berjualan keesokan hari. "Makanan kami tutup pakai wrapping. Pegawai kami saat produksi juga selalu pakai sarung tangan plastik. Jadi customer nggak perlu jijik karena kotor atau jorok," ujar dia. Dari sisi pilihan bahan, tanggal kedaluwarsa bahan baku seperti sosis, aneka bakso, dan lain-lain selalu dicek.

Minyak pun tidak menggunakan minyak curah, tetapi minyak rumah tangga bermerek. Sebelum warna minyak berubah langsung diganti baru. Alas makan berbahan kertas food grade, sehingga aman bagi kesehatan. Pangsa Berbeda Lok Lok Malaysian Street Food menjual lebih dari 40 jenis aneka satai premium dan enam jenis saus premium untuk cocolan. "Karena di distributor pun memang menjual jenis frozen food dan saus mulai yang murah sampai mahal.

Rasanya tentu berbeda," katanya. Media sosial dia pilih untuk memasarkan makanan itu. Itu dia lakukan karena makanan tersebut punya pangsa pasar berbeda dari makanan para penjual yang berada di pinggir jalan. Harga yang dibandrol untuk makanan itu dari Rp 5.000 per tusuk hingga Rp 30.000 per tusuk.

"Beberapa varian yang paling disukai seperti sosis bratwurst bakar, otak-otak singapura, dan crab stick," kata Nabila yang hobi bepergian itu. Dia menuturkan pelanggan di sini mau membayar lebih mahal, asalkan kebersihan terjamin.

"Dengan varian aneka satai serta saus pilihan, mereka tidak perlu repot masak di rumah. Semua sudah siap mau satai apa, dibakar atau digoreng, mau pakai saus apa, semua ada," ujar dia. Saat ini, Joy Lok Lok masih berjualan dari acara ke acara. Lapak tetap bisa ditemui di Java Supernall setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu di Festival GoFood area parkir belakang mal.

"Selain itu kami ikut di event kuliner. Yang terdekat kami ikut di event Medcology Market FK Unisula, 27 September, di kampus Unissula serta Harmony for Run FK Undip di Jalan Pahlawan, 29 September," katanya. (Modesta Fiska-28)


Berita Terkait
Loading...
Komentar