Sertifikasi Profesi Pembatik

Diharapkan Angkat Kesejahteraan Pekerja

SM/ Isnawati : SERTIFIKAT KOMPETENSI: Nafilah (27), warga RT 03/ RW 03 Kelurahan Gamer, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan menunjukkan sertifikat kompetensi pembuatan batik tulis, Senin (16/9).(24)
SM/ Isnawati : SERTIFIKAT KOMPETENSI: Nafilah (27), warga RT 03/ RW 03 Kelurahan Gamer, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan menunjukkan sertifikat kompetensi pembuatan batik tulis, Senin (16/9).(24)

Program sertifikasi profesi bagi pembatik bisa mengangkat kesejahteraan para pembatik. Namun, tidak semua pembatik yang telah mengikuti sertifikasi profesi mengalami kenaikan upah. Karena sebagian pengusaha batik mempunyai standar sendiri untuk meningkatkan upah pembatik yang dipekerjakannya.

SERAYA mengawasi kedua anaknya yang tengah bermain, Nafilah (27), warga RT 03/ RW 03 Kelurahan Gamer, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan, menyelesaikan batik tulis pesanan pengusaha batik yang mempekerjakannya, Selasa (17/9). Bagian demi bagian dari motif batik ditutupnya dengan malam. Untuk satu kain sepanjang dua meter, biasanya bisa diselesaikan Nafilah dalam setengah hari. "Dalam sehari, saya biasanya menyelesaikan dua potong. Siang satu potong, malamnya satu potong buat lemburan," kata Nafilah. Di Kota Pekalongan, Nafilah merupakan salah satu pembatik di Kota Pekalongan yang telah mengikuti sertifikasi profesi yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Pekalongan tahun lalu.

Menurut Nafilah, sertifikasi profesi yang diikutinya berdampak pada peningkatan pendapatan yang diterimanya. Setelah mengantongi sertifikat kompetensi pembuatan batik tulis pada bidang industri batik dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi, upah yang diterimanya meningkat menjadi Rp 30.000 untuk setiap potong kain. Sebelumnya, dirinya mengaku hanya menerima upah Rp 20.000 per potong. "Setelah saya menerima sertifikat ini, saya tunjukkan kepada bos batik yang mempekerjakan saya. Besoknya, bos saya menaikkan upah dari Rp 20.000 menjadi Rp 30.000 per potong," tutur Nafilah sambil menunjukkan sertifikat kompetensi pembuatan batik tulis yang diterimanya.

Kenaikan upah juga dirasakan Sulis Tiana, pembatik lainnya yang juga telah mengikuti sertifikasi profesi. Sulis Tiana yang bekerja di industri batik dengan sistem harian, sebelumnya menerima upah Rp 35.000. Namun setelah mendapat sertifikat kompetensi, upahnya naik menjadi Rp 45.000 per hari. Keduanya berharap, program sertifikasi profesi bagi pembatik bisa mengangkat kesejahteraan para pembatik. Namun, tidak semua pembatik yang telah mengikuti sertifikasi profesi mengalami kenaikan upah. Karena sebagian pengusaha batik mempunyai standar sendiri untuk meningkatkan upah pembatik yang dipekerjakannya. Salah seorang pengusaha batik, Tri Murni mengatakan, peningkatan upah bagi pembatik yang dipekerjakannya tidak berdasarkan dari sertifikat kompetensi. Namun berdasarkan kualitas kerja dan lamanya pembatik bekerja dengannya. Sehingga, sertifikat kompetensi yang dikantongi pembatik yang bekerja dengannya tidak menjamin peningkatan upah jika tidak dibarengi dengan kualitas produksi.

Dari 30 pembatik yang dipekerjakan Tri Murni, sepuluh di antaranya telah mengikuti sertifikasi profesi. "Sebelum adanya sertifikasi, saya sudah menjaga kualitas produk karena batik saya dijual keluar negeri. Myanmar, Jepang, kualitasnya saya jaga betul. Pembatik yang bekerja di tempat saya sejak awal sudah saya beri pengarahan, saya telateni satu persatu, saya ajari. Jadi, kualitas kerjanya sudah bagus sebelum adanya sertifikasi," jelasnya.

Standar SDM

Sertifikasi profesi bagi pembatik merupakan upaya untuk menyiapkan dan memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan profesional. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Keputusan Menteri Ketenagakerjaan No 104/2018 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Kategori Industri Pengolahan Golongan Pokok Industri Tekstil Bidang Industri Batik.

Dijelaskan dalam, Keputusan Menteri tersebut, penetapan SKKNI Batik merupakan upaya untuk mengukur dan meningkatkan kualitas pekerja batik di seluruh Indonesia sekaligus memberikan perlindungan terhadap batik Indonesia melalui batasan proses, bahan, alat, dan motif. Terkait hal itu, setiap tahun Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Pekalongan memfasilitasi sertifikasi profesi bagi pembatik di Kota Pekalongan. Tahun ini tercatat sebanyak 30 pembatik tulis dan cap. Sementara tahun lalu, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Pekalongan memfasilitasi sertifikasi profesi bagi pembatik tulis. Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Pekalongan M Wahyu menjelaskan, sertifikasi profesi bagi pembatik sebagai regenerasi pembatik. "Selain itu juga sebagai penganugerahan hasil kerja kepada pembatik. Sertifikat kompetensi yang diterima pembatik menjadi dasar dalam pemberian pengetahuan dan pendampingan dalam membatik," kata Wahyu. Selain fasilitasi dari APBD Kota Pekalongan, sebagian pembatik di Kota Pekalongan juga mengikuti sertifikasi yang difasilitasi lembaga lain. Pada Juni lalu, sebanyak 100 pembatik dari Kota Pekalongan dan sekitarnya mengikuti sertifikasi profesi batik yang difasilitasi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Direktur Harmonisasi Regulasi dan Standardisasi Bekraf Sabartua Tampubolon menjelaskan, uji kompetensi sertifikasi profesi batik bertujuan untuk menaikkan kelas pembatik. "Harapannya, uji kompetensi sertifikasi ini berimplikasi pada meningkatnya kesejahteraan para pembatik," terangnya pada pembukaan acara Fasilitasi Sertifikasi Profesi Batik, saat itu.

Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Batik Subagyo mengatakan, hingga saat ini tercatat 11.000 pembatik sudah mengikuti uji kompetensi sertifikasi profesi batik. Mereka tersebar di 60 kota/ kabupaten di Indonesia. Dari jumlah itu, pembatik dari Kota Pekalongan paling banyak. "Yang difasilitasi Bekraf ada 200 orang. Selain itu ada fasilitator lain. Sehingga jumlahnya sudah lebih dari 500 orang," terangnya.

Menurut Subagyo, kompetensi profesi batik semakin meningkat. Jika pada tahuntahun sebelumnya tingkat kompetensi antara 60 persen hingga 70 persen, dalam beberapa tahun terakhir sudah di atas 76 persen. "Kalau trennya awal-awal yang mengikuti sertifikasi kebanyakan sudah sepuh. Akhir-akhir ini sudah banyak (pembatik) yang muda. Ini menandakan pembatik tidak punah," jelasnya. (Isnawati-64)


Berita Terkait
Loading...
Komentar