Industri Furniture Lokal Perlu Didorong

SEMARANG - Pemprov Jateng perlu terus mendorong industri furniture lokal supaya bisa lebih berdaya saing dan efisien untuk mengungkit pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan menembus 7 persen. Wakil Ketua Umum Kadin Jateng Bernardus Arwin mengungkapkan pengalaman kebangkitan ekonomi Vietnam, salah satunya ditopang relokasi industri sehingga menguasai pasar dunia. ''Salah satu kawasan industri furniture di sana, sebagian besar relokasi dari Tiongkok, ada ratusan perusahaan,'' tutur dia dalam dialog Jago Bisnis kerja sama Kadin Jateng dan Suara Merdeka Network (SMN) di TVKU, kemarin.

Jateng, menurut dia, sebenarnya memiliki potensi jauh di atas Vietnam dilihat dari berbagai aspek. Lokasi strategis karena dilalui tol Trans Jawa, serta percepatan pembangunan infrastruktur dan upah pekerja kompetitif membuat daerah ini dilirik karena potensial untuk investasi. ''Ekspor mereka (Vietnam) luar biasa dan ekonomi bertumbuh. Jateng punya potensi jauh di atas negeri itu, semestinya digarap lebih serius,'' tegas Arwin. Narasumber lainnya adalah Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng Ratna Kawuri dan juga anggota DPRD Jateng Andang Wahyu Trianto.

Acara yang dipandu Myra Azzahra itu bertema ''Relokasi Industri Furniture Internasional sebagai Penunjang Potensi Investasi Strategis Menuju Pertumbuhan Ekonomi Jateng 7 Persen''. Arwin melihat Jateng unggul dalam hal upah, lebih kompetitif dibandingkan dengan provinsi lain.

Lebih dari itu, memiliki gubernur yang smart dan visioner. Hal itu menjadi salah satu daya ungkit untuk menawarkan Jateng kepada para investor. Namun, kelemahan industri furniture Jateng adalah inefisiensi yang terjadi akibat kurang sentuhan teknologi dan sistem produksi masih didominasi manual. Di Malaysia, lanjut dia, industri mebel berkembang pesat. Negeri jiran itu menyediakan lahan dua ribuan hektare untuk relokasi dari Vietnam dan Tiongkok. Vietnam, kata Arwin, sudah overload dan jenuh. Selain itu, berebut tenaga kerja. Indonesia, terutama Jateng tentunya memiliki sumber daya manusia (SDM) tidak kalah berkualitas, untuk berkompetisi dinilai sangat mampu. Namun, menurut dia, industri lokal yang didominasi padat karya menggunakan sistem manual, sedangkan di luar negeri sudah menuju otomatisasi yang berbuah efisiensi. Soal SDM, ujar dia, Jateng tidak perlu khawatir karena sudah ada Politeknik Industri Furniture dan Pengolahan Kayu Kendal, sehingga menjamin ketersediaannya. ''Vietnam sudah jenuh. Mereka (perusahaan mebel) berpindah ke tempat lain, contohnya Kamboja dan Malaysia. Indonesia belum kebagian (relokasi), dan lahan 2.000-an hektare yang disediakan Malaysia pun sudah penuh,'' ungkap dia.

Terkini

Anggota DPRD Jateng Andang Wahyu Trianto menilai untuk menuju relokasi industri furniture internasional di Jateng, banyak hal yang harus dipersiapkan. Mulai regulasi, SDM, samnpai pada teknologi; apakah diterima baik. Jika teknologi yang dibawa perusahaan relokasi tidak diterima sepenuh hati, menurut dia, masyarakat hanya menjadi penonton. Update teknologi dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi juga perlu disesuaikan. Investor yang datang, kata dia, harus melakukan transfer pengetahuan dalam proses pelatihan untuk menghasilkan SDM berkualitas.

Pada tahap pelatihan, peralatan penunjang perlu di-updatedisesuaikan dengan teknologi mesin yang berkembang. ''Harus ada regulasi bagi investor yang masuk, mungkin bisa diatur mengenai pelatihan mesin, diupdate sesuai dengan teknologi terkini,'' tegas Andang.

Dengan target pertumbuhan ekonomi 7 persen, imbuh dia, semua pihak perlu bersiap dengan sinergi, serta berbagai elemen menarik investor masuk Jateng. Kepala DPMPTSP Jateng Ratna Kawuri melihat hal itu sangat memungkinkan yang didukung oleh ketersediaan dan kesiapan infrastruktur. Pihaknya siap, termasuk dalam proses perizinan online melalui layanan terintegrasi Online Single Submission (OSS) untuk memudahkan para investor dan calon investor mengurus administrasi perizinan atau perluasan usaha.

Apabila proses OSS dianggap sedikit berbelit, kata dia, mungkin karena belum terbiasa dalam implementasinya. Lembaganya juga sudah menyiapkan tim yang akan mendampingi perusahaan dalam proses tersebut. ''Kami akan lakukan identifikasi wilayahwilayah mana saja yang bisa untuk relokasi. Kita perlu menyamakan persepsi supaya bisa satu frekuensi; yang pasti Jateng sudah on the right track, termasuk mendekatkan kebutuhan dengan ketersediaan tenaga kerja,'' tandas Ratna. (J14-18)