Widodo: Gamelan Gambaran Hidup Bernegara

Gamelan Jawa makin digandrungi masyarakat internasional. Melalui komunitas atau lembaga formal, gamelan dipelajari dan menjalankan beragam fungsi. Bagaimana pembelajaran gamelan di mancanegara saat ini? Berikut perbincangan wartawan Suara Merdeka Saroni Asikin dengan Dr Widodo, yang mulai awal September ini sampai beberapa bulan ke depan mengajar gamelan di Amerika Serikat.

Setiap tahun selalu ada permintaan mengajar gamelan di luar negeri, baik pada pribadi maupun lembaga. Itu fenomena apa?

Semua itu tidak terlepas dari estetika, etika, dan kultur di dalam gamelan yang berbeda dari musik lain, terutama musik Barat. Di dalam gamelan ada nilai kebersamaan, penghormatan, kerukunan, kolektivitas, dan spiritualitas, yang kelihatannya baru orang modern cari belakangan ini. Dalam menekuni kehidupan sehari-hari, mereka merasa hampa. Mungkin itu salah satu alasan karena nilai-nilai di dalam gamelan sangat banyak. Estetikanya berbasis pada rasa yang diraih dengan cara saling hormat, rukun, bekerja sama, gotong royong, saling menghargai, dan apa yang dirasakan pihak lain.

Tanpa semua itu, gending yang dimainkan tidak akan berbunyi, menyatu, dan indah. Itu perbedaan mendasar dari musik Barat, yang lahir dari budaya berbeda. Di sana menitikberatkan pada rasionalitas, semua serbaterukur, dan pasti. Seorang komposer musik berwenang mutlak dan semua ditulis dalam partitur. Asalkan bisa membaca dan mengikuti perintah dirigen, pemusik dianggap terampil. Dalam gamelan, tak ada instruksi bunyi dan tidak ada yang lebih penting karena semua berperan secara musikal.

Oleh karena itulah, di beberapa negara muncul fenomena gamelan juga digunakan sebagai media terapi. Orang yang melakukan tindak kriminal di satu sisi adalah orang-orang yang tidak mau mendengarkan. Di sisi lain, ketika memainkan gamelan, pendengaran menjadi kunci penting. Jadi gamelan adalah gambaran tatanan bermasyarakat hingga bernegara. Tidak ada yang merasa lebih baik atau lebih penting. Semua dituntut membangun orkestrasi yang indah.

Bagaimana kondisi pembelajaran gamelan di mancanegara?

Di Youtube, ada banyak kawan mancanegara yang tabuhannya (permainan gamelan) mengalahkan orang Jawa. Mereka gandrung pada gending klasik yang bahkan orang Jawa kadang sudah tidak bisa lagi memainkan. Beberapa waktu lalu, saya bertemu Ki Manteb Soedarsono. Ia menceritakan ada komunitas pemain gamelan mancanegara yang mampir ke rumahnya, lalu main gamelan. Ki Manteb kaget ketika yang mereka mainkan adalah Gending Kombang Mara yang sudah sangat jarang dimainkan. Ya, umumnya seperti itu di Inggris, Prancis, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Jepang.

Bagaimana pula kondisi pembelajaran gamelan di dalam negeri?

Memang di satu sisi, di banyak wilayah, pemain gamelan hanya menuruti masyarakat awam untuk tujuan menghibur. Itu menjadikan orientasi pemain hanya menyajikan gending populer. Tidak banyak lembaga punya kepedulian yang mengenalkan pada budaya bangsa, termasuk gamelan. Padahal, rasa cinta dimulai dari pengenalan. Ada yang berusaha, tetapi karena kapasitas pelatih yang tidak punya bekal cukup, tujuan jadi tidak tercapai. Anak menjadi kurang senang belajar gamelan karena proses yang kurang menyenangkan.

Jika merujuk gamelan Jawa, yang paling bertanggung jawab atas pelestarian dan pengembangan semestinya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Namun, beberapa tahun belakangan ini mereka biasanya menyelenggarakan lomba yang berorientasi nasional. Musik dimainkan hanya oleh lima orang. Bagaimana mungkin gamelan dimainkan oleh lima orang? Jika memang punya komitmen, semestinya pemerintah daerah mengadakan sendiri. Semua instrumen gamelan dimainkan sebagaimana layaknya, yaitu 20-30 orang.

Di Indonesia, ada 143 jenis musik yang ansambelnya tidak sebesar musik gamelan. Gamelan termasuk yang paling besar. Jika lomba gamelan diadakan, pengaruhnya besar. Orang tua akan mengantar anak berlatih, sekolah akan mengupayakan alat dan pelatih, anak akan belajar kedisiplinan, tanggung jawab, dan saling menghargai melalui gamelan. Semua jadi punya kesadaran. Ketika sudah belajar kesenian ini, diharapkan mereka jauh dari paham radikalisme atau ekstremisme.

Lantas apa saja fungsi gamelan?

Gamelan sebagai terapi dipilih karena mengajarkan orang agar mau saling mendengarkan. Sebab, gamelan bisa berbunyi dengan semestinya karena pemain mau saling mendengarkan permainan masingmasing. Ada fungsi lain, yaitu untuk penelitian. Para peneliti luar negeri biasanya membaur dengan para pemain gemalen, sehingga bisa menghayati. Ada peneliti yang menjadi penggerong (vokalis), pesinden, atau penabuh gamelan.

Fungsi lain untuk mendukung kegiatan ritual atau persembahan. Membangun suasana spiritual ketika berdoa. Dalam pertunjukan gamelan untuk klenengan (penyajian karawitan mandiri untuk keperluan penghayatan), mengiringi wayang, hingga ketoprak. Hampir semua jenis seni tradisi Jawa memerlukan dukungan gamelan. Ada juga fungsi membentuk kepribadian. Orang yang mempelajari gamelan sampai pada tataran terampil, suka mendengarkan pihak lain dan bakal berperilaku santun.

Bagaimana gambaran masyarakat mancanegara yang menghargai gamelan?

Karena punya rasa ingin tahu tinggi, mereka belajar gamelan secara sungguhsungguh. Mereka banyak bertanya, sampai hal yang terduga pun mereka tanyakan. Mereka sangat menghargai pelatih. Disiplin dan tidak mau mereBagaimana gambaran masyarakatpotkan pelatih. Mereka mengundang ahli untuk melatih, karena itu banyak tokoh gamelan, baik Jawa, Bali, maupun Sunda diundang ke mancanegara untuk mengajar. Mereka mendatangi di mana pun tempat ada klenengan.

Apa saja yang akan Anda lakukan selama di Amerika?

Secara formal saya ditugasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi atas permintaan Direktur Sekolah Musik Universitas Michigan. Di sana ada pelajaran gamelan yang sudah berlangsung lama. Menurut kontrak kerja, saya mengajar dua kelas, satu beginner dan satu kelas lanjut. Hasil pembelajaran kelak dipentaskan. Tugas kedua, Kementerian Pariwisata punya program Karavan Budaya yang akan membawa tim seni ke tujuh kota di Amerika. Tahun ini, diberangkatkan tim seni dari Bogor dan saya diminta menemani mereka di beberapa kota.

Saya juga ditugasi meneliti. Saya akan meneliti metode pembelajaran gamelan Jawa bagi warga mancanegara. Bagaimana metode yang tepat, mengingat mereka punya kultur yang berbeda. Itu juga sebagai sarana mempererat hubungan antarperguruan tinggi. Universitas Michigan punya rekam jejak penelitian yang bagus dan saya bisa belajar dari mereka. Itu kerja sama yang saling menguntungkan. (28)


Berita Terkait
Loading...
Komentar