Kampanyekan Antikekerasan dan Perundungan

PERUNDUNGAN bisa berawal dari kalimat candaan. Kendati belum banyak yang sadar, mengusik seseorang semacam itu tentu tak bisa dibiarkan. Isu soal perundungan tersebut dipaparkan Executive Director Great Indonesia Ismi Novia dalam Workshop Semarang “Kekerasan itu #TidakMewakiliSaya” di Monod Diephuis, Minggu (1/9). Ide mengangkat tema itu berasal dari jawaban para peserta tentang alasan mereka mengikuti workshop ini. “Dari jawaban-jawaban mereka, kami menangkap tiga poin utama.

Pertama, mereka ingin tahu lebih banyak soal kekerasan dalam konteks remaja. Kedua, mereka pernah mengalami perundungan dan butuh solusi agar tidak ada lagi kasus serupa. Terakhir, mereka ingin ikut menyuarakan gerakan remaja tanpa kekerasan,” tutur Ismi. Meski punya dampak sejenis, Ismi mengatakan perundungan punya beberapa perbedaan dengan kekerasan.

Perundungan biasanya dalam lingkup individual dan kerap dikaitkan dengan mencela secara verbal, sementara kekerasan seringkali dilakukan antarkelompok. Di hadapan 50 peserta workshop, Ismi membuka sesi interaktif yang memungkinkan peserta berbagi pengalaman soal perundungan. Menariknya, di antara beberapa peserta yang mengaku sebagai korban, ada pula yang terang-terangan pernah menjadi pelaku.

“Candaan, seperti yang saya bilang, bisa tergolong perundungan jika berdampak pada psikologis orang, terutama jika dilakukan berulang-ulang. Contoh sederhananya bisa berupa ejekan soal bentuk badan, gaya penampilan, atau status sosial,” ungkap Ismi. Solusinya bukan berarti meniadakan guyonan, melainkan memilah kalimat yang dirasa tidak menyakiti psikis si lawan bicara.

Sebab, tiap orang punya level berbeda dalam menyikapi candaan. Bagi yang tidak berkenan, bisa saja candaan menimbulkan krisis percaya diri, bahkan depresi. Kecuali Ismi, acara yang dipandu moderator yang sekaligus Duta Genre 2018 Jawa Tengah Febby Cyntia itu juga menghadirkan ASEAN Youth Changemaker Randa Sandhita sebagai pemateri.

Jika Ismi mengupas soal perundungan, Randa menjelaskan lebih dalam soal kekerasan, utamanya yang mengarah pada radikalisme. Tema ini menarik mengingat beberapa saat lalu terjadi insiden pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. Sebuah hadiah yang tak indah sehari menjelang perayaan kemerdekaan Indonesia.

Hasil Kolaborasi

Workshop “Kekerasan itu #Tidak- MewakiliSaya” adalah rangkaian acara antarkota yang diinisiasi Katalisator Muda Indonesia (Kamu). Sebelum Semarang, workshop ini diadakan di Surabaya. Lalu setelahnya akan meluncur ke Bandung dan Jakarta. Saat di Surabaya, Kamu menggandeng beberapa influencer muda untuk menyukseskan workshop ini. Adapun di Semarang, giliran Great Indonesia yang diajak berkolaborasi.

Gerakan Kerelawanan Internasional (Great) merupakan organisasi nirlaba pengusung misi perdamaian dunia yang berdiri sejak 2015. Sebagai salah satu pendiri, Ismi mengaku kampanye anti kekerasan yang digaungkan Kamu selaras dengan target utama Great. “Kerja sama ini berjalan baik karena kami punya tujuan yang sama sehingga bisa saling melengkapi.

Great memakai metode sukarelawan untuk mendukung perdamaian dunia, sedangkan Kamu fokus pada kampanye anti kekerasan di Indonesia,” ujar Ismi. Meski hanya diselenggarakan sehari, acara yang berlangsung pukul 13.00- 18.00 WIB itu diharapkan bisa membuat peserta lebih peka ihwal perundungan dan kekerasan.

Di luar itu, pihak penyelenggara mengajak generasi muda untuk berpartisipasi dalam kompetisi foto dan vlog dengan tema “Kekerasan #TidakMewakiliSaya”. Kompetisi ditutup pada Oktober, bertepatan dengan usainya Workshop “Kekerasan itu #Tidak- MewakiliSaya” di Jakarta. (Sofie Dwi Rifayani-53)


Tirto.ID
Loading...
Komentar