ESAI

Politisasi “Getah Getih”: Ironi Kebudayaan (1)

Oleh Tjetjep Rohendi Rohidi

Peristiwa menarik muncul barubaru ini berupa gonjang-ganjing tentang seni rupa bambu “Getah Getih” karya Joko Avianto di Jakarta. Karya itu dipersoalkan di luar jalur estetik dan simbolik dan ditanggapi secara luar biasa di media sosial, dalam sorot pandang beragam, dari awam, peminat seni, dan penguasa (yang merasa perlu mempertanggungjawabkan).

Saya mendudukkan persoalan ke jalur pemahaman sebagaimana ditunjukkan oleh fakta objektif berupa karya seni. Hubungan seni dan politik tak bersifat tertutup dan diametris. Ia sering berkelindan, walau tak selalu langsung berkait. Setidak-tidaknya pola hubungan kedua hal itu dapat dilihat dari perspektif pelaku aktif pengguna: bersifat menyenikan politik atau politisasi seni.

Menyenikan politik adalah upaya membuat, memperindah, menarik, merangsang, dan memperhalus pesan, sikap, dan tindakan politik agar dapat diterima lebih bercita rasa (bermoral dan tentu masuk akal); maksud politik disampaikan dan dapat diterima lebih bermartabat. Para seniman sosialis, misalnya, menyampaikan banyak pesan ideologi politik melalui berbagai media seni: rupa, musik, tari, pertunjukan, kinetik, humor.

Bukankah Bung Karno memanfaatkan penyampaian ideologi dengan pidato dan tulisan menarik, indah, merangsang, dan menggugah? Tentu, dalam konteks itu, sering kita temukan upaya menyenikan politik tetapi kurang menarik, dangkal, dan bahkan membosankan ketika, misalnya, seorang pejabat membuat pantun atau puisi, melukis, dan menari, dengan memaksakan diri, bahkan berpura-pura, agar disebut pencinta budaya. Pseudointelektual.

Dari sini kita dapat menelusur hubungan seni dan politik serta upaya pemanfaatannya. Siapa memanfaatkan apa? Politisasi seni adalah upaya mencapai tujuan politik dengan memanfaatkan seni. Seni adalah kuda tunggangan, korban, bahkan kambing hitam: seni dimanipulasi untuk kepentingan politik.

Seni tidak lagi dilihat dari proses kreatif dan hasil karya indah dan tidak indah suatu ekspresi budaya, tetapi dilihat (baik dan buruk) dari kepentingan politik tertentu. Persoalan seni tak lagi penting. Seni menjadi bagian dari simbol dengan makna yang dapat dimanipulasi; disembunyikan dan diselewengkan demi kekuasaan.

Politisasi “Getah Getih”

“Getah Getih” adalah karya trimatra kontemporer dalam kategori seni instalasi. Karya bermaterial bambu itu direka dalam susunan jalinan, saling lilit, lentur, dalam kesatuan bentuk yang disangga tiang-tiang bambu juga. Secara simbolis judul, tem, dan bentuknya merefleksikan makna kesatuan, ikatan, kelenturan, dan ketegangan yang ditopang oleh kekuatan menyeluruh dari unsur tiang bambu penyangga.

Karya yang dikhalayakkan dalam festival (Asian Games sekaligus menyambut Hari Kemerdekaan RI) itu dirancang hanya berumur enam sampai bulan saja. “Getah Getih” dipajang dan kemudian diresmikan 16 Agustus 2018 dan berakhir (dibongkar) 17 Juli 2019.

Jejak berkesenian Joko Avianto, perupa muda potensial berlatar belakang pendidikan akademik (Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB), melesat dan cukup panjang. Ia diakui dan karyanya bersanding dengan karya perupa internasional di tempat pameran prestisius. Namun, kini, di Ibu Kota negaranya, karyanya disorot secara sinis, kalau tidak disebut menggelikan.

Di tengah hiruk-pikuk politik, yang berawal sejak pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun lalu dan berlanjut sampai pemilihan presiden usai baru-baru ini, “Getah Getih” menerima imbas. Karya seni instalasi itu ditempatkan dan jadi bahan gunjingan di luar konteks kesenian. Ia jadi sasaran tembak untuk kepentingan di luar kesenian. (28)

- Tjetjep Rohendi Rohidi, pemerhati pendidikan seni, guru besar Universitas Dian Nuswatoro (Udinus), pengajar Pascasarjana Unnes


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar