Dari Prajurit Romawi hingga Lutung Kasarung

SM/Khalid Yogi : KOSTUM BAMBU : Kontingen dari Kabupaten Kudus mengenakan kostum yang dihiasi berbagai macam anyaman bambu dan sabut kelapa saat Parade Seni Budaya dalam Pesta Rakyat Hari Ulang Tahun ke-69 Provinsi Jawa Tengah di jalan Jenderal Soedirman, Kabupaten Wonogiri, Minggu (25/8). (55)
SM/Khalid Yogi : KOSTUM BAMBU : Kontingen dari Kabupaten Kudus mengenakan kostum yang dihiasi berbagai macam anyaman bambu dan sabut kelapa saat Parade Seni Budaya dalam Pesta Rakyat Hari Ulang Tahun ke-69 Provinsi Jawa Tengah di jalan Jenderal Soedirman, Kabupaten Wonogiri, Minggu (25/8). (55)

WONOGIRI - Parade Seni Budaya dalam rangka Pesta Rakyat Hari Ulang Tahun Ke-69 Provinsi Jawa Tengah di Jalan Jenderal Soedirman, Kabupaten Wonogiri berlangsung meriah, Minggu (25/8). Seluruh kontingen dari 35 kota/kabupaten berusaha menampilkan yang terbaik. Mereka juga menyuguhkan pertunjukan yang unik dan menarik. Berkali-kali atraksi mereka mengundang tepuk tangan meriah ribuan penonton di sepanjang jalan protokol tersebut. Misalnya yang ditampilkan kontingen Kabupaten Kudus. Mereka mengenakan kostum yang didominasi anyaman bambu dan sabut kelapa, termasuk untuk topi, topeng, dan perisai. Alas kaki terbuat dari karung goni. Sekilas penampilan mereka seperti pasukan Romawi, namun dengan nuansa lebih unik dan eksotik.

Adapun kontingen Kabupaten Pati menampilkan para penari yang berdandan seperti singa. Penampilan atraktif mereka juga disambut aplaus pengunjung. Kontingen Kabupaten Cilacap membawakan tema salah satu tokoh legenda terkenal, yakni Lutung Kasarung. Koreografi yang ditampilkan begitu rancak dan bersemangat.

Sementara itu, kontingen Kabupaten Banyumas membawakan koreografi apik yang diiringi musik khas daerah itu, calung banyumasan. Para penonton juga disuguhi penampilan marching bandUNS Surakarta.

Gubernur Ganjar Pranowo dalam sambutannya mengatakan, tajuk Ngrumat Bebrayan dalam Pesta Rakyat Jawa Tengah itu mengandung nilai budaya yang harus dirawat, yakni paseduluran dan bebrayan. Kedua kata tersebut merupakan implementasi konkret sila ke-3 Pancasila, yakni Persatuan Indonesia. Persatuan Indonesia saat ini sangat dibutuhkan. Karena itu diperlukan toleransi, berhati-hati dalam bermedia sosial dan menggunakan gawai, serta memilih diksi yang tepat dalam menyatakan sesuatu hal ke hadapan publik. ”Ngrumat Bebrayan merupakan bagian dari cara merawat persaudaraan dan kekeluargaan, menjaga perasaan, sehingga terwujud persatuan Indonesia yang kuat,” ujarnya. (J11-19)


Berita Terkait
Loading...
Komentar