Linda Christanty:

Baru Sebagian Orang Nikmati Kemerdekaan

Agustus ini, kita memperingati 74 tahun sudah negeri ini merdeka dari penjajahan. Apa makna kemerdekaan itu? Bagaimana kesadaran mengenai kebangsaan sekarang ini? Berikut perbincangan wartawan Suara Merdeka Kartika Runiasari dengan sastrawan sekaligus wartawan Linda Christanty.

Apa pandangan Anda atas kesadaran kebangsaan warga Indonesia saat ini?

Saya tak berwenang menakar kesadaran orang terhadap nilai-nilai dan praktik kebangsaan. Kesadaran itu akan lahir ketika seseorang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan menalar dan mengartikan apa yang terjadi dengan dia dan orang-orang di sekelilingnya. Pada masa penjajahan, misalnya, tak semua orang serta-merta merasa dijajah dan merasa perlu melawan penjajah. Hanya sedikit orang yang sadar telah dijajah dan lebih sedikit lagi yang sadar ingin bebas dari penjajahan dan berani melawan. Kesadaran adalah juga proses belajar. Dari mereka yang sadar dan ingin melawan penjajahan itu pula kelak tercetus gagasan tentang bangsa Indonesia, bangsa yang lahir dari imajinasi emansipatoris dan berfungsi menyatukan semua bangsa yang tertindas di wilayah Hindia Belanda untuk memerdekakan diri dari penjajahan. Jadi bangsa Indonesia adalah identitas politik hasil kesepakatan politik untuk bersama, yang lahir dari perlawanan bersama terhadap penjajahan dan ketidakadilan. Proses itu masih berlangsung dan belum berakhir sampai sekarang.

Kemerdekaan di negeri ini baru dapat dinikmati sebagian orang. Itu bukan fiksi. Ketimpangan sosial masih terjadi. Kesenjangan ekonomi masih tajam. Semua itu fakta. Namun di bawah rezim otoriter, biasanya tuntutan atau protes atas situasi dianggap gangguan terhadap kehidupan berbangsa dan bertanah air.

Kesadaran kebangsaan tumbuh ketika orang merasa dalam bahaya dan ketidakadilan. Namun rasa kebangsaan juga akan menguat ketika orang merasa diperlakukan adil, dij a m i n haknya, dan dih a rg a i m a r - tabatnya sebagai i n d i v i d u , manusia, dan rakyat.

Bagaimana generasi milenial memaknai kebangsaan?

Saya tak dapat menjawab soal bagaimana generasi milenial memaknai kebangsaan. Generalisasi bisa menyesatkan dan pengecualian tanpa penelitian biasanya mengandung motif tertentu. Namun saya ingin berbagi pengalaman setahun lalu ketika memandu diskusi di Yogyakarta dengan pembicara anak-anak SMPdan SMA. Usia mereka antara 15 dan 17 tahun. Pemikiran mereka sangat menarik dan independen. Mereka memaknai kebangsaan sebagai hal dinamis, memiliki sisi menyatukan dan tidak luput dari persoalan yang perlu diselesaikan. Latar belakang mereka beragam, secara suku, agama, dan politik. Pengetahuan mereka terhitung luas. Ada yang gemar menyimak ceramah Jordan Peterson dan Jonathan Haidt melalui video di internet. Peterson adalah psikolog asal Kanada dan profesor di bidang psikologi, Haidt adalah psikolog Amerika dan ahli psikologi moralitas. Ada yang memberi saran bagaimana mengatasi masalah di Aceh agar kelak tidak meminta berpisah dari Indonesia. Mereka menyatakan tidak lagi membaca koran (media cetak) dan menonton televisi (media elektronik), yang generasi saya lakukan. Saya tidak pesimistis. Setiap zaman memiliki orang-orang terbaik. Namun ironis, tak selalu orang terbaik yang jadi pemimpin.

Sekarang sebagian orang menganggap kebangsaan atau terkadang disebut nasionalisme sudah lampau dan tak dibutuhkan lagi. Sudah dianggap arkaik. Nasionalisme juga dianggap berpotensi menjadi ekstrem dan menakutkan seperti praktik Nazi di Jerman. Sampai sekarang masa Nazi dianggap salah satu masa tergelap dalam peradaban manusia. Namun kita tak boleh mengabaikan kebenaran sejarah bahwa kemunculan Nazi di Jerman merupakan dampak dari krisis ekonomi yang parah dan kekalahan Jerman pada Perang Dunia I. Kondisi ekstrem memunculkan solusi ekstrem.

Namun jika membuang sama sekali nasionalisme atau kebangsaan ini, kita juga akan mengalami situasi tak kalah buruk. Kamus Merriam-Webster mendefinisikan nasionalisme sebagai kesetiaan dan pengabdian kepada sebuah bangsa. Para pejuang republik ini tidak hanya mendefinisikan, tetapi mencontohkan: merebut kembali atau mempertahankan tanah atau negeri dan menegakkan martabat bangsa dengan mengorbankan apa saja, termasuk jiwa, raga, dan harta benda. Karya sastra Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Mohammad Diponegoro, dan bahkan Nugroho Notosusanto membuat generasi sekarang berkesempatan mengetahui kisah yang diinspirasi oleh masa revolusi kemerdekaan dan tak lama sesudahnya. Kisah-kisah itu sangat menyentuh. Dalam kata ìkebangsaanî atau ”nasionalisme” juga terkandung makna emansipasi, resistensi, dan eksistensi.

Bagaimana kini masyarakat memaknai budaya negara lain yang populer di Tanah Air, sebut saja Kpop di kalangan generasi muda serta arabisasi dan budaya Barat?

Sejak dulu kita tidak hidup dalam ruang kedap atau wilayah yang dibentengi tembok. Sebelum Indonesia ada, sejumlah orang di Nusantara pergi berlayar, berdagang, mengelana atau belajar ke negeri-negeri lain. Para pelaut Nusantara juga, misalnya, dulu mendirikan kerajaan di Madagaskar, yang disebut Kerajaan Merina. Oleh karena itu, Presiden Madagaskar Hery Rajaonarimampianina yang berkunjung ke Jakarta pada 2015 meminta Pemerintah Indonesia membantu percepatan pembukaan Kedutaan Besar Madagaskar di Jakarta dan Kedutaan Besar Indonesia di Antananarivo, ibu kota Madagaskar. Setelah berpuluh-puluh tahun mempelajari budaya, bahasa, sejarah, dan ciri fisik manusianya, para pemimpin Madagaskar mufakat: Indonesia adalah tanah asal nenek-moyang bangsa Malagasy, bangsa yang dominan dan terkuat di Madagaskar.

Teori terbaru tentang migrasi bangsa-bangsa yang dicetuskan Stephen Oppenheimer, ahli genetika Inggris, dalam buku Eden in the East, memperkuat kemufakatan itu. Menurut Oppenheimer, Nusantara merupakan pusat dari arus perpindahan bangsa dan budaya menuju Daratan Asia, bukan kebalikannya yang selama ini tercantum dalam buku pelajaran sekolah. Oppenheimer memberi dasar ilmiah tentang pembenaran kekuatan masa lalu bangsa Nusantara dalam menyebarkan genetika dan linguistik, dari ujung Afrika di Madagaskar hingga ujung Amerika di Pulau Paskah. Tentu, teori itu akan ada yang mendebat. Namun orang mencetuskan teori tentu bukan tanpa dasar.

Sebaliknya, orang-orang dari Eropa datang untuk berdagang dan akhirnya menjajah. Perpindahan, kepergian, dan kedatangan orang-orang berbeda budaya itu ke suatu tempat tentu mewarnai atau memengaruhi budaya setempat, apalagi ada yang kawin-mawin dan sebagainya. Pengaruh-memengaruhi itu dimungkinkan oleh pertemuan, kontak dagang, dan kontak budaya, bahkan melalui hal ekstrem seperti perang atau penaklukan.

Kini, K-pop dari Korea Selatan sangat populer di mana-mana. Anak muda tergila-gila K-pop. Di Indonesia dan Singapura banyak anak muda penggemar K-pop. Perempuan usia matang atau paruh baya di Jepang juga gemar K-pop.

K-pop bagian dari strategi Pemerintah Korea Selatan untuk memopulerkan produknya agar jadi komoditas dunia dan mendatangkan keuntungan ekonomi. Akhirnya K-pop jadi wabah.

Seharusnya budaya atau produk budaya Indonesia dapat menyebar ke tempat lain di dunia, mewarnai tempat itu dan memajukan ekonomi kita. (28)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar