Dosen Unnes Kembangkan Mesin Penetas Telur

SM/Pamungkas Suci Ashadi  -  GUNAKAN PENETAS TELUR : Dosen Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang (Unnes), menggunakan mesin penetas telur dan inkubator, di peternakan bebek Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati Semarang, belum lama ini. (42)
SM/Pamungkas Suci Ashadi - GUNAKAN PENETAS TELUR : Dosen Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang (Unnes), menggunakan mesin penetas telur dan inkubator, di peternakan bebek Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati Semarang, belum lama ini. (42)

SEMARANG - Empat dosen Jurusan Teknik Mesin di Universitas Negeri Semarang (Unnes), mengembangkan mesin penetas telur untuk peternak bebek di Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati.

Keempat akademisi tersebut adalah Supraptono MPd, Ahmad Roziqin MPd, Bayu Wiratama MM, dan Kriswanto MT. Hal itu dilakukan sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat. ”Kami juga menciptakan inkubator anak unggas. Alat tersebut dilengkapi tombol pengatur suhu, agar dapat memerami telur bebek.

Kemudian kedua alat yang kami ciptakan diterapkan pada peternakan bebek milik Maskon. Dia belum memiliki mesin penetas telur bebek dan inkubator, sehingga jika membeli bibit harus ke luar kota,” kata Supraptono, sekaligus Ketua Tim Pelaksana Pengabdian Masyarakat, belum lama ini.

Menurutnya, temperatur ruang penetas dan inkubasi pada mesin telah dikontrol agar stabil. Suhu tersebut termonitor menggunakan sensor, yang sekaligus untuk mengendalikan lampu.

Jika suhu sudah terlalu panas, maka secara otomatis lampu penghangat akan mati. Kemudian pada kanan dan kiri ruang penetas dan alat inkubator dipasang kipas. Hal itu untuk menjaga kelembaban udara dan sirkulasi udara.

Selain itu, telur di dalam alat itu juga bisa berputar 180∞ secara perlahan, sehingga distribusi temperatur di permukaannya lebih merata. Hal itu sekaligus untuk mencegah embrio telur menempel di dalam cangkang.

”Agar hemat energi, suhu dalam ruang penetas diisolasi menggunakan aluminum foil, sehingga lampu tidak sering menyala. Adapun mesin penetas telur, berkapasitas 450 butir per proses, dengan lama proses 28 hari. Agar dapat berfungsi sebagai inkubasi anak bebek, desain rak sliding dibuat agar mudah dilepas.

Ia mengimbuhkan, bantuan teknologi yang diterapkan tak hanya mesin penetas telur dan inkubasi. Tetapi juga menerapkan panci kukus kapasitas besar, kompor gas low pressure dan regulator tekanan tinggi.

Tujuan dari penerapan panci pengukusan kapasitas besar, agar pemasakan produk telur asin yang dihasilkan untuk menghemat biaya produksi. Sementara itu, Dosen Teknik Mesin, Kriswanto mengatakan, prinsip kerja mesin penetas telur dapat menggantikan fungsi indukan bebek dalam mengerami telur. Mesin penetas telur yang diciptakan juga berfungsi untuk mengurangi tingkat kematian tetasan telur bebek.

”Inovasi yang diterapkan pada teknologi penetas dan inkubator yang diterapkan pada peternakan milik Maskon, menggunakan mikrokontroller Atmega, untuk mengendalikan temperatur ruang, kelembaban udara, sirkulasi udara, dan rak pemutar telur sistim sliding,” ungkapnya. (kas-42)


Berita Terkait
Loading...
Komentar