Marabunta Bisa Jadi Pusat Kegiatan Kesenian

KOTA Lama merupakan kawasan yang terbentuk dalam benteng De Vijfhoek buatan Belanda. Kawasan yang juga dikenal dengan Little Netherland ini awalnya benteng untuk pertahanan sekaligus batas wilayah dengan masyarakat pribumi. Dalam kawasan benteng ini, didirikan sejumlah bangunan berupa rumah, gereja, gedung pemerintahan, hingga tempat hiburan untuk menunjang kehidupan masyarakat Eropa di Kota Semarang.

Salah satu bangunan tersebut adalah gedung kesenian StadSchouwburg. Gedung ini sempat roboh, kemudian dibangun dengan gaya arsitektur kolonial dan kini dinamai ”Marabunta Gedung Multiguna”.

Merujuk pada jurnal ilmiah tentang Ikonografi pada Gedung Marabunta yang disusun Lois Debora Sudarmono dari Universitas Kristen Petra Surabaya, pada masa keemasannya, gedung ini dijadikan tempat untuk pentas seorang penari yang terkenal dengan nama panggung Mata Hari. Penari ini juga dikenal dengan tarian kreasinya yang merupakan hasil perpaduan tarian balet klasik dengan tari tradisional Jawa.

”Setelah kemerdekaan, gedung Stad- Schouwburg menjadi terbengkalai karena masyarakat Eropameninggalkan Indonesia. Gedung ini kemudian diambil alih oleh Yayasan Empat Lima yang salah satu anggotanya adalah mantan presiden Soeharto,” sebut Lois.

Pada 29 Agustus 1956 gedung tersebut diresmikan dan dimanfaatkan sebagai kantor PT Marabunta Semarang. Namun pada 1994, gedung ini roboh karena usia dan faktor lingkungan. Pengelolaan gedung kemudian ditangani oleh Yayasan Rumpun Diponegoro.

Masing-masing sudut atas di bagian depan gedung, dijumpai patung berbentuk semut, yang merupakan lambang dari gedung ini. Lois menuliskan, hiasan ini melambangkan sifat gotong royong dan kerajinan bekerja seperti halnya pada semut.

Jenis semut itu adalah semut tentara atau biasa disebut dengan army ant. Semut ini berasal dari daerah Afrika Selatan, berukuran 4-12 milimeter. Biasanya hidup berkoloni hingga mencapai jumlah 2 juta ekor dan menyerang mangsa berukuran besar.

Bukan Aset Pemerintah

Aktivis sosial dari Rumah Pancasila, Yosep Parera menilai, gedung Marabunta lama terbengkalai. Pemerintah Kota Semarang perlu berperan merawat kembali bangunan bersejarah yang terletak di Jalan Cendrawasih Semarang tersebut.

Keberadaan gedung itu, menurut Yosep, bisa dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan kesenian dari berbagai daerah di Indonesia. Mahasiwamahasiswa dari luar Kota Semarang bisa dilibatkan dalam berbagai kesempatan untuk menampilkan masingmasing kesenian khas daerahnya.

”Gedung Marabunta merupakan gedung seni modern pertama di Indonesia. Gedung itu wajib dipertahankan, kami sudah melayangkan surat atau permintan tertulis kepada pemerintah,” kata Yosep. Usulan itu merupakan bentuk partisipasi pihaknya dalam membangun bangsa dan negara.

Harapannya, seni jangan sampai kalah dengan teknologi modern. ”Ini sekaligus jalan tepat untuk mengajak masyarakat mencintai sejarah dengan memberi masukan kepada pemerintah,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Industri Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar mengemukakan, gedung tersebut bukan termasuk aset/milik pemerintah kota. Sehingga pemerintah tidak bisa secara langsung melakukan revitalisasi.

Langkah yang bisa dilakukan adalah mendorong pemilik atau pengelola untuk memberikan perhatian terhadap bangunan itu, minimal upaya perawatan. ”Gedung Marabunta memang salah satu tempat yang akan kami rencanakan menjadi destinasi wisata.

Solusi pertama mengundang/koordinasi dengan pemilik dan itu sudah kami lakukan. Tidak hanya gedung ini, semua yang terkait dengan bangunan kuno kami juga meminta hal sama, setidaknya dirawat,” kata Samsul. (Eko Fataip, Erry Budi Prasetyo-48)


Berita Terkait
Loading...
Komentar