Bank Sampah Cermat Swawal Timur, Jepara

Tiap Warga Bisa Mendapat Rp 150 Ribu/Bulan

SM/Septina Nafiyanti : DEKORASI SAMPAH: Pengelola bank sampah cermat Desa Swawal Timur mempersiapkan dekorasi panggung.(63)
SM/Septina Nafiyanti : DEKORASI SAMPAH: Pengelola bank sampah cermat Desa Swawal Timur mempersiapkan dekorasi panggung.(63)

Sampah yang bagi banyak orang dianggap menjijikkan, ditangan tangan-tangan kreatif pengelola Bank Sampah Cermat Swawal Timur, diubah menjadi barang yang menarik dan bernilai ekonomi. Bahkan, setiap warga/anggota bisa mendapat Rp 150 ribu/bulan.

HINGGA pukul 23.00 malam, sekumpulan anak muda masih sibuk membuat dekorasi untuk background dan aneka hiasan panggung pertunjukkan di Desa Demaan, Kecamatan Jepara. Awalnya tidak ada yang aneh dari dekorasi tersebut, karena hasilnya tampak indah sebagaimana dekorasi berbahan mahal. Namun ternyata, ada yang unik dari dekorasi ini, yakni semua bahan yang digunakan terbuat dari sampah yang dikumpulkan warga di Desa Swawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, Jepara.

Ada bungkus kopi, kemasan minuman bersoda, kemasan air mineral, sedotan plastik bekas, hingga kantong palstik bekas. Bahan-bahan ini telah dibersihkan dan dibentuk menjadi berbagai macam hiasan, seperti bunga, daun, tanaman hijau, juga anyaman indah yang ditempatkan pada background panggung. Para pemuda kreatif itu adalah pengelola Bank Sampah Cermat Desa Swawal Timur. Sejak 2017, mereka menggeluti pengelolaan sampah di desanya. Tak sekadar mengumpulkan, memilah, dan menjual sampah, para pemuda ini juga menjadi kreator berbagai kerajinan dari bahan sampah. ”Hampir semua sampah plastik yang masih bagus bisa dikreasikan menjadi berbagai kerajinan,” ungkap Koordinator Bank Sampah Cermat Bedi Wuryanto di sela-sela kesibukannya membuat aneka kerajinan, Rabu (21/8).

Mereka berhasil membuat dekorasi dan background untuk pernikahan, pertunjukan, pengajian, dan berbagai acara lain yang diselenggarakan warga. Setiap tahun, mereka juga mendapatkan pesanan membuat pohon dan aneka hiasan Natal berbahan sampah. Hasilnya, cukup untuk mengisi kas kelompok yang selalu dialokasikan untuk berbagai kegiatan sosial di lingkungan sekitar. Meski tidak mematok biaya sewa bagi masyarakat yang menggunakan dekorasi berbahan sampah, mereka bisa mengumpulkan hingga Rp 1,5 juta/bulan dari pemberian sukarela warga yang menggunakannya. Biasanya warga tetap memikirkan biaya angkut dan kas untuk kegiatan yang sering mereka lakukan.

Tujuan Sosial

”Biasanya penyewa mengira-ngira sendiri kebutuhan transportasi hingga kas. Tujuan kami untuk sosial, jadi tidak memasang tarif,” tuturnya.

Upaya ini juga menjadi solusi atas permasalahan sampah di masyarakat. Jika sebelumnya, sampah menumpuk di sekitar rumah atau dibuang ke sungai, kini dengan keberadaan bank sampah, masalah tersebut hilang. Tidak ada lagi warga yang membuang sampah sembarangan. Warga juga mendapatkan uang tabungan dari kegiatan mengumpulkan sampah. Pada awal kegiatan ini, tiap warga bisa mendapatkan tabungan Rp 150 ribu/bulan. Ada 200 nomor rekening di bank sampah yang merupakan milik warga sekitar.

Uang yang terkumpul ini menjadi hak warga dengan pembagian 70% untuk penyetor sampah dan 30% untuk pengelola bank sampah. ”Kami juga memberikan edukasi kepada masyarakat untuk memilah sampah dan membuat tempat mengolah sampah organik untuk kebutuhan pemupukan juga menyuburkan tanah. Sampah nonorganik kami ambil dan bisa menjadi tabungan mereka,” terang Arifin yang juga aktif sebagai pengelola bank sampah ini.

Bank sampah juga mendukung program pemerintah desa, seperti program ”Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) satu hari lunas”. Program bisa terwujud karena pembayaran pajak tidak lagi dikeluarkan langsung oleh masyarakat, tetapi diambilkan dari tabungan sampah mereka. Cara ini sangat meringankan warga, juga memudahkan pemerintah desa dalam mengumpulkan pembayaran PBB warganya.

Pendirian Bank Sampah Cermat Desa Swawal Timur, semula tidak terlepas dari peran Pendeta Setyo Widodo dari Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Pakis Suwawal. Dialah yang memotivasi para pemuda yang sering berkumpul dan mabuk-mabukan di salah satu rumah (sekarang menjadi basecamp bank sampah) di Desa SWawal Timur Kecamatan Pakis AJi. Para pemuda yang sudah memiliki cap buruk di masyarakat ini, dalam waktu tidak lama bisa berubah karena melihat nasib Mbah Surip. Janda yang sudah renta itu tinggal di gubug reot.

Meski sudah tua, dia harus terus berjualan untuk bisa bertahan hidup. Mbah Surip setiap hari lewat depan basecamp saat berjualan. ”Jadi Pak Widodo memang sering mendatangi kami untuk mengajak ngobrol para pemuda, kemudian dia memantik kami agar prihatin terhadap nasib seseorang. Dari situ, kelompok kami ternyata masih punya hati dan tergerak untuk membantu Mbah Surip,” terang pengelola bank sampah cermat Bedi Wuryanto menceritakan masa lalunya.

Usaha untuk membantu tidak hanya dari kantong pribadi karena keterbatasan keuangan para pemuda yang terkumpul. Saat itu, diupayakan penarikan sumbangan kepada warga. Tetapi hasilnya tidak cukup. Cap buruk masyarakat ternyata membuat mereka tidak bisa yakin dan percaya terhadap pengelolaan keuangan para pemuda saat itu. Dari situ, Pendeta widodo memberikan idenya untuk meneruskan niat para pemuda ini dengan cara mengelola dan menjual sampah. Para pemuda yang saat itu datang harus membawa sampah untuk sumbangan. Mereka menabung sampah mulai dari tahun 2015. Dengan sampah itulah, hingga satu tahun kemudian dana yang dibutuhkan untuk membedah dan memperbaiki rumah mbah Surip terealisasi.

Perkembangannya, mereka tidak hanya mengelola sampah dari anggota, tetapi juga dari masyaarkat sekitar. Dari kesibukan mengelola sampah ini, ternyata bisa menghilangkan kebiasaan para pemuda yang semula negatif menjadi lebih positif. Cap buruk dari masyarakat juga lamalama luntur dengan sendirinya. Kegiatannya juga mendapat respon positif dari pemerintah desa, sehingga mendapatn dukungan penuh. ”Sebenarnya, kami awalnya prihatin dengan para pemuda itu sendiri yang memiliki kebiasaan buruk mabukmabukan, makanya kami berusaha mendekati mereka,” terangnya.

Bank sapah cermat saat ini tidak hanya menjadi tempat mengolah sampah, tapi dari para pemuda di sana telah banyak kegiatan sosial yang dilakukan untuk masyarakat. Mereka juga mengalokasikan dananya untuk membantu pembangunan masjid. ”Bonusnya adalah, toleransi antar pemeluk agama yang ada di sana semakin terjaga kuat. Mereka yang mayoritas muslim mau membantu kami yang non muslim, begitu pula sebaliknya,” ungkap Widodo. (Septina Nafiyanti-41)


Berita Terkait
Loading...
Komentar