Menjaga Nilai Sejarah Kota Lama

FGD Kementerian Pariwisata

Revitalisasi kawasan Kota Lama dinilai sudah menumbuhkan minat masyarakat dari dalam dan luar kota, untuk berkunjung ke kawasan itu. Kini saatnya pemerintah dan pemangku kepentingan terkait, mampu menjaga nilai sejarah dan nilai-nilai keunggulan lain yang ada di Kota Lama.

Pemerhati sejarah dan kebudayaan Anastasa Dwirahmi menilai, narasi berkaitan sejarah Kota Lama, sangat penting untuk dijual ke wisatawan. Selama ini banyak wisatawan selepas berkunjung ke sana, hanya mendapatkan foto tanpa memperoleh pengetahuan mengenai nilai sejarah. ‘’Narasi sangat penting sekali untuk melihat kembali sejarah yang ada. Perlu melihat apa sebetulnya keunggulan Kota Lama. Banyak pengunjung tidak mendapatkan pengetahuan apa-apa, tetapi hanya mendapatkan foto,’’ kata Rahmi, pada Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata di Hotel Star Semarang, Kamis (22/8).

Pemerhati wisata, Yuliansyah Ariawan melihat, Pemerintah Kota Semarang perlu memberdayakan masyarakat lokal. Jangan sampai masyarakat setempat justru terlupakan, ketika kawasan ini sudah jadi. Bersama dengan pegiat pariwisata lain, Ari memberikan pelatihan kepada warga sekitar, untuk menjadi pemandu wisata. ‘’Kami mempunyai jalur atau peta tentang Kota Lama, yang sudah kami ajarkan ke pemandu lokal. Dengan biaya sendiri, kami berusaha untuk membantu masyarakat setempat.

Jangan sampai masyarakat lokal terlupakan,’’ujarnya. FGD ini mengangkat tema Pengembangan Destinasi Pariwisata Kota Lama Semarang dan Pendukungan Sertifikasi Kota Lama Semarang, sebagai World Heritage.

Lebih Tua

Kegiatan yang dimoderatori oleh Adi Eko Priyono, juga menghadirkan Jongkie Tio. Jongkie yang biasa disebut sebagai pendongeng itu, mengusulkan konsep Kawasan Kota Lama, sebaiknya tidak terlalu modern. Dia melihat sejarah yang menonjol selama ini tertuju pada Gereja Blenduk. ‘’Justru yang lebih tua adalah Jalan Gedangan (Jl Ronggowarsito). Di situ sekaligus pintu masuk Kota Lama dan bukan Kali Mberok. Dahulu namanya Seastraat (Jalan Laut), rumah sakit VOC ada di situ,’’sebutnya.

Menurut Redaktur Pelaksana Harian Suara Merdeka, Hartono, yang hadir dalam forum ini, mengingatkan perlunya memperkuat wisata sejarah dan edukasi di Kota Lama. ‘’Misalnya memasang papan nama jalan sekarang dan di bawahnya dilengkapi nama jalan dan tahun, saat zaman Belanda. Demikian pula dengan sejarah masing-masing gedung,’’katanya.

General Manager Star Hotel, Benk Mintosih mengapresiasi upaya pemerintah saat ini. Dia mengakaui, kawasan Kota Lama sekarang kian ramai oleh wisatawan, terlebih pada malam hari. ‘’Perlu diapresiasi, tetapi pada satu sisi, harus diciptakan sesuatu yang kuno, kini dan nanti,’’kata dia. Sementara itu, Tim Percepatan Sejarah, Religi, Tradisi dan Kebudayaan Kementrian Pariwisata, Tendi Nuralam menilai, jika berbicara hingga tingkat dunia, maka yang diunggulkan adalah heritage-nya. Wisata yang saat ini dibutuhkan adalah objek wisata yang memiliki nilai. ‘’Bukan hanya sekadar perbaikan, tetapi produk apa yang akan kita jual. Selain itu suatu daerah harus fokus dengan apa yang ditawarkan dan spesifik,’’jelasnya.

Kepala Bidang Industri Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar menambahkan, beragam acara menarik selalu digelar di kawasan ini. Tujuannya agar semakin menghidupkan kawasan Kota Lama.

Acara-acara tersebut berupa festival tahunan, hingga mingguan seperti kontes keroncong maupun hiburan lain. (Eko Fataip, Erry Budi Prasetyo-42)


Berita Terkait
Loading...
Komentar