72 Persen Masyarakat Tak Peduli Sampah Plastik

Produsen Diimbau Beralih ke Barang Daur Ulang

SM/Antara - BAGI TAS: Dua peserta membawa poster saat mengikuti aksi bagi-bagi tas belanja ramah lingkungan pada kegiatan car free day (CFD) di Jalan Ahmad Yani, Bekasi, Minggu (4/8). (24)
SM/Antara - BAGI TAS: Dua peserta membawa poster saat mengikuti aksi bagi-bagi tas belanja ramah lingkungan pada kegiatan car free day (CFD) di Jalan Ahmad Yani, Bekasi, Minggu (4/8). (24)

JAKARTA -Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut sekitar 72 persen masyarakat Indonesia kurang peduli terhadap masalah sampah, terutama limbah plastik.

Hal itu disampaikan Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar berdasarkan laporan indeks ”Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup” dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018.

Dalam laporan itu, Novrizal menyebut ada empat item, salah satunya berkaitan dengan pengelolaan sampah. Indeks yang ditetapkan BPS 0 sampai 1. Indeks yang paling rendah yakni terkait sampah sebesar 0,72 persen.

”Kalau kita belajar statistik, bisa kita artikan 72 persen orang Indonesia tidak peduli terhadap sampah,” kata Novrizal dalam kampanye ''Yuk Mulai Bijak Plastik'' di Jakarta, Rabu (21/8). KLHK mengakui bahwa sampah plastik akan selalu ada. Sebab, plastik tidak dapat terurai dengan cepat, bahkan ada yang membutuhkan waktu puluhan tahun.

Novrizal mencontohkan, pada 1995 komposisi sampah plastik menyentuh angka 9 persen. Lalu 10 tahun kemudian (2015) menjadi 11 persen. KLHK memprediksi 10 tahun lagi komposisi sampah plastik di Indonesia akan tumbuh menjadi 16 persen.

”Jadi tanpa ada perubahan perilaku dan kebijakan-kebijakan (aturan soal pengurangan sampah plastik) yang sangat signifikan, ya memang luar biasa kenaikannya,” jelas dia. Karena itu, KLHK mendorong para produsen, misalnya perusahaan yang bergerak di bidang consumer goods (barang kebutuhan seharihari) seperti Unilever ikut bertanggung jawab mengurangi sampah plastik.

Pada kesempatan yang sama, Vice President of Home Care Indonesia & Dirt is Good SEA-ANZ Unilever Veronika Utami mengatakan, pihaknya tengah mengembangkan inisiatif untuk menghadirkan produk-produk tanpa kemasan plastik.

Veronika menyebut saat ini Unilever menggunakan kemasan tahan lama yang dapat terus diisi ulang atau refill station. ”Skema refill stationmemang merupakan salah satu alternatif yang banyak didengungkan oleh berbagai pihak sebagai pengganti penggunaan kemasan plastik.

Penerapan refill station membutuhkan perencanaan yang sangat matang dan uji coba berkali-kali untuk memastikan bahwa model ini dapat dilakukan dalam skala besar,” paparnya. Selain itu Unilever juga akan mengembangkan model bisnis yang mendukung ekonomi sekular.

Artinya, perusahaan bakal memanfaatkan kembali kemasan yang sudah dipakai menjadi bahan kemasan baru. Model itu akan didukung teknologi CreaSolv yang bisa mendaur ulang sampah kemasan plastik yang berlapis-lapis seperti sachetdan pouch. Dalam konsep ekonomi ini, sampah kemasan plastik akan terus didaur ulang.

Alih Produksi

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengungkapkan, pihaknya tengah menyiapkan imbauan agar tidak menggunakan kemasan plastik sekali pakai untuk air minum.

Dia telah meminta Sekjen KLHK menyiapkan aturan secara menyeluruh sehingga tidak hanya menyangkut penggunaan botol plastik sekali pakai. Siti juga mengatakan bahwa di lingkungan KLHK sudah tidak digunakan lagi kemasan botol plastik untuk air mineral. ”Rapat sudah tidak pakai botol plastik, kemudian karyawan dan anak-anak sudah bawa tumbler dan sebagainya.”

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga telah melarang pemakaian air mineral dalam kemasan plastik dalam acara-acara di kementerian itu karena produk tersebut mengotori lingkungan. ”KKPmengawali dengan (menerapkan aturan) tidak boleh lagi ada botol air mineral,” kata Susi.

Menurut dia, yang melanggar akan kena sanksi berupa denda. Karena itu, ujar dia, diharapkan ada mekanisme pelaporan sehingga kebijakan tersebut berjalan efektif. Susi juga mengimbau perusahaanperusahan di Indonesia menghentikan produksi plastik sekali pakai, lalu beralih dengan memproduksi barang-barang yang dapat didaur ulang.

”Misalnya plastik yang durable, jual tumbler atau jual tas kanepo. Jangan jual tas kresek lagi,” imbaunya. Dia menyarankan agar perilaku bisnis perusahaan diubah dengan pengalihan produksi tersebut untuk mendorong terciptanya kondisi lingkungan yang asri dan bersih.

”Kalau kita boikot tidak mau pakai kresek, pabrik kresek akan berhenti. Jadi tinggal maunya siapa duluan, pabrik yang produksi kresek atau kita,” tegasnya. ”Kita bikin sampah, kita yang rugi karena harus bayar. Lebih baik beli kantong dari kain, rotan, pandan. Bisa terlihat lebih antik dan unik,” tambahnya.

Saat ini sampah plastik sekali pakai menjadi salah satu persoalan terbesar di lautan Indonesia dengan predikat negara kedua penyumbang sampah terbesar di dunia setelah Tiongkok. Kondisi ini mengancam lebih dari 800 spesies dan biota laut, termasuk terumbu karang. (cnn,ant- 19)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar