Sedulur Sikep Olah Sampah Plastik Jadi Batako

Terus Berkarya meski Minim Respons

SM/Saiful Annas - OLAH SAMPAH : Gunondo mengolah sampah plastik menjadi batako dan ”batu tempel” di rumahnya, Selasa (20/8). (24)
SM/Saiful Annas - OLAH SAMPAH : Gunondo mengolah sampah plastik menjadi batako dan ”batu tempel” di rumahnya, Selasa (20/8). (24)

Bermula dari rasa prihatin melihat pencemaran lingkungan yang kian masif, sejumlah warga komunitas Sedulur Sikep di Kudus berupaya mengolah limbah plastik menjadi batako. Mereka terus berkarya meski mendapat tanggapan yang kurang menyenangkan dan bahkan dianggap tidak waras.

ASAP hitam langsung mengepul begitu Gunondo (45) mulai membakar tumpukan sampah plastik. Tanpa masker, Gunondo terus menumpuk plastik di atas api yang mulai membesar. Bau menyengat dari pembakaran tak terlalu dihiraukan kakek satu cucu itu.

Ketika tumpukan plastik melumer kehitaman, tangannya sigap meraih tongkat besi di sampingnya. Dengan tongkat yang ujungnya telah dibengkokkan itu, Gunondo mulai mengaduk sampah plastik hingga meleleh seluruhnya.

Tatakan seng yang digunakan sebagai alas memudahkannya mengaduk-aduk ”bubur” plastik itu. Nur Hadi (35) yang berdiri tak jauh dari Gunondo menyorongkan cetakan besi berbentuk persegi ketika melihat bubur plastik sudah meleleh. Dengan hati-hati, Gunondo menciduk bubur plastik menggunakan sekop kecil ke dalam cetakan itu. Giliran Nur Hadi yang sibuk.

Begitu cetakan penuh, ia mengangkat dan memasangnya ke dalam cetakan pres besi sederhana. Setelah ditutup bagian atasnya, Nur Hadi memutar tuas besi hingga cetakan tertekan. Sesekali mengecek cetakan, Nur Hadi kemudian membukanya setelah memastikan bubur plastik itu telah padat.

Dengan cekatan, ia membuka cetakan dan mengambil lembaran plastik yang sudah padat, kemudian merendamnya ke dalam ember berisi air. ”Direndam air biar tidak panas. Setelah itu baru proses finishing untuk meratakan setiap sisinya,” kata Gunondo, Selasa (20/8). Gunondo dan Nur Hadi tidak sedang bermainmain dengan limbah plastik itu.

Keduanya berinisiatif mengolah limbah menjadi batako dan lembaran padat semacam batu candi (batu tempel-Red) untuk hiasan rumah. Semua proses dilakukan dengan peralatan sederhana. Bengkel kerjanya pun hanya menempati kebun pisang, persis di sebelah rumah Gunondo di RT 5 RW 6 Dukuh Kaliyoso, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Pembuatan batako dan ''batu candi'' dari limbah plastik itu baru ditekuni keduanya seminggu terakhir. Gunondo belum berani berandai-andai produknya akan laris di pasaran. Membayangkan ada yang mau membeli saja, baginya sudah cukup. Harapan itu tak berlebihan.

Dengan modal minim dan alat-alat yang sangat sederhana, Gunondo sadar produknya masih jauh dari sempurna. ”Produk ini sebagai cara kami berpartisipasi mengurangi sampah plastik, sekaligus mencari tambahan penghasilan untuk ekonomi keluarga dan kelompok,” katanya.

Inisiatif mengolah limbah plastik menjadi batako dan batu tempel itu muncul saat Gunondo, Nur Hadi, dan seorang kerabatnya yang lain, Mohammad Arifin, ngobrol bareng. Obrolan melebar hingga membahas soal limbah plastik yang kini menjadi persoalan besar di mana-mana.

Sebagai warga keturunan komunitas Sedulur Sikep, keluarga Gunondo memang dekat dengan alam. Berita-berita tentang masalah sampah plastik membuat mereka tergerak untuk berbuat sesuatu. Untuk modal usaha, ia harus merelakan sepasang burung murai kesukaannya. ”Burung murai ini juga kesukaan anak saya. Saya izin ke dia untuk menjual. Burungnya laku Rp 6 juta. Kemudian digunakan untuk modal membuat cetakan besi hingga membeli bahan baku limbah,” katanya.

Modal Tambahan

Modal tambahan didapat dari hasil patungan Nur dan Arifin. Setelah uang terkumpul, mereka pun membagi tugas. Arifin mencari bahan baku, sementara Gunondo dan Nur Hadi menyiapkan tempat produksi dan mengelas sendiri mesin cetak.

Mereka juga membuat sendiri cetakan batako berbentuk segi enam dan cetakan batu tempel dengan ukuran 20X40 sentimeter. Ketika produk batako dan lembaran batu candi limbah plastik mulai menumpuk, Gunondo pun memutar otak untuk menjualnya. Sejumlah kenalan dan relasi ia hubungi.

Pemerintah desa hingga kecamatan tak ketinggalan ia pameri produk itu. Namun, dari sekian orang yang dihubungi, hanya sedikit yang memberi respons positif. ”Respons pemerintah desa juga belum ada. Sama seperti tetangga kanan-kiri saat kami mulai kegiatan ini. Banyak yang mengatakan kami kurang waras menumpuk sampah di kebun,” katanya.

Namun, Gunondo dan kerabatnya tak patah arang. Ia terus berkarya. Dia yakin, suatu saat ada yang melirik produknya itu. Selain ramah lingkungan, batako dari sampah plastik diklaim lebih kuat dibanding dari bahan pasir dan semen. Rencananya, dia akan menjual produknya seharga Rp 6 ribu per batang atau Rp 72 ribu per meter persegi.

”Jika ada modal, kami ingin membeli mesin oven dan peralatan penunjang, agar tidak harus membakar sampah. Mesin oven juga penting untuk mengurangi asap hasil pembakaran. Kami khawatir tetangga mengeluhkan asap itu,” katanya. Anggota DPRD Kudus asal Undaan Aris Suliyono mengapresiasi inisiatif warga komunitas Sedulur Sikep itu.

Tak hanya karena niat baik mereka sebagai solusi atas persoalan sampah plastik, namun juga sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat. Namun sebagai sebuah bisnis, lanjut dia, harus dihitung lebih detail. ”Bagaimanapun bisnis harus menguntungkan. Produk yang dibuat harus menarik. Kami akan berusaha membantu mulai mencarikan akses permodalan hingga pelatihan untuk mengembangkan produk tersebut,” katanya.

Kepala Dinas Perumahan Kawasan Lingkungan dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus Agung Karyanto mengatakan, bupati Kudus telah menerbitkan Instruksi Bupati Nomor 660/02/2019 tentang Pembentukan Bank Sampah di Setiap Desa/Kelurahan.

Melalui instruksi itu, setiap desa dan kelurahan diwajibkan membangun pusat daur ulang sampah. ”Jika sudah ada warga yang berinisiatif mendaur ulang sampah seperti itu, apalagi memiliki nilai ekonomi, bisa dimasukkan sebagai kegiatan di bank sampah. Pemerintah desa harus merespons sebagai upaya pemberdayaan masyarakat,” katanya. (Saiful Annas-19)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar