Tunggakan BPJS Rp 51 M

Di RSUD Wongsonegoro

SM/Pamungkas Suci Ashadi - FOTO BERSAMA : Wali Kota Hendrar Prihadi berfoto bersama jajaran manajemen RSUD Wongsonegoro, Jalan Fatmawati Semarang, Rabu (21/8). (48)
SM/Pamungkas Suci Ashadi - FOTO BERSAMA : Wali Kota Hendrar Prihadi berfoto bersama jajaran manajemen RSUD Wongsonegoro, Jalan Fatmawati Semarang, Rabu (21/8). (48)

SEMARANG - Tunggakan BPJS di RSUD KRMT Wongsonegoro mencapai Rp 51 miliar. Besaran tunggakan BPJS tersebut sudah dikomunikasikan manajemen RSUD Wongsonegoro dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi).

”Namun mereka tidak memiliki keuangan yang cukup untuk menangani tunggakan BPJS. Meski demikian, RSUD Wongsonegoro tetap melayani pasien dengan baik,” kata Direktur RSUD KRMTWongsonegoro, Susi Herawati, kemarin.

Adapun tunggakan BPJS di RSUD Wongsonegoro pada 2015 sekitar Rp 8 miliar. Kemudian ditambah tunggakan pada 2019 ini mencapai Rp 51 miliar. Sejak ada tunggakan BPJS, justru meningkat melayani pasien umum.

Kami sedih jika pasien tidak memperoleh hak pelayanan BPJS. ”Kami hanya ingin tunggakan BPJS segera dibayar sesuai dengan tupoksi pelayanan RSUD Wongsonegoro. Sebab RSUD Wongsonegoro sudah terverifikasi lengkap,” imbuh dia.

Menurutnya, kebutuhan pelayanan pasien yang tidak mampu perlu dibantu. Terutama kebutuhan terkait pasien rujukan berjenjang. ”Misalnya pasien dari daerah Rowosari menuju rumah sakit Tipe C di Kota Semarang yang berjarak cukup cukup jauh. Hal itu membutuhkan dana transportasi yang besar, apalagi untuk kebutuhan makan,” papar Susi.

Dibicarakan Bersama

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, problematika tunggakan BPJS di seluruh rumah sakit Kota Semarang perlu ditanggapi dengan serius. Dia menyarankan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, supaya mengumpulkan seluruh rumah sakit di Kota Semarang. Kemudian dibicarakan bersama dengan BPJS Pusat dan Kementerian Kesehatan, agar membahas solusi yang terbaik.

”Bahkan dalam keadaan yang demikian, RSUD Wongsonegoro bisa tetap berjalan melayani pasien. Tetapi tidak boleh begitu, karena di Kota Semarang ada banyak rumah sakit. Jika tunggakan sampai puluhan miliar rupiah bisa bangkrut, sehingga tidak bisa mendukung investasi di Semarang,” tandas Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi. (kas-48)


Berita Terkait
Loading...
Komentar