Indonesia Perluas Pasar Ekspor ke Afrika

NUSA DUA -Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita menyatakan terus berupaya membuka akses pasar produk-produk Indonesia ke pasar nontradisional, khususnya di kawasan Afrika.

Hal itu disampaikan oleh Enggartiasto setelah melakukan pertemuan bilateral dengan empat menteri dari kawasan Afrika yang hadir dalam kegiatan “Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue” di Nusa Dua, Bali, Rabu (21/8).

Keempat menteri tersebut adalah Menteri Industri, Perdagangan, dan Investasi Wilayah Otonomi Khusus Zanzibar, Tanzania, Amina Saloum Ali; Menteri Perdagangan Djibouti Hassan Houmed; Menteri Pekerjaan Umum, Rekonstruksi, dan Perumahan Somalia, Abdi Adam Hoosow; dan Second Deputy Prime Minister dan Menteri untuk Komunitas Afrika Timur Uganda, AM Kirunda Kivejinja.

“Zanzibar ingin impor tekstil dan beras dari Indonesia dan mengundang Indonesia untuk membangun sektor pariwisata. Sedangkan dengan Djibouti disepakati untuk memulai proses joint feasibility study yang akan menjadi dasar penentuan bentuk kerja sama, apakah PTA, FTA atau CEPA,” kata Enggartiasto di Nusa Dua, Bali, Rabu (21/8).

Total perdagangan Indonesia- Tanzania tahun 2018 mencapai 334,70 juta dolar AS. Jumlah ini terdiri atas ekspor Indonesia ke Tanzania sebesar 263,20 juta dolar AS dan impor 71,50 juta dolar AS.

Produk ekspor utama Indonesia ke Tanzania antara lain kelapa sawit, pakaian wanita, kertas dan karton, serta mesin pengolahan mineral. Adapun produk impor utama Indonesia dari Tanzania antara lain cengkeh, kapas, tembakau yang belum diolah, serta tembaga murni dan paduan.

Peluang Besar

Sementara itu, total perdagangan Indonesia dengan Djibouti tahun 2018 mencapai 211,46 juta dolar AS. Dari nilai tersebut, ekspor Indonesia tercatat sebesar 211,45 juta dolar AS dan impor 4 ribu dolar AS.

“Total perdagangan ini masih jauh dari yang diharapkan sehingga masih terbuka peluang yang sangat besar untuk meningkatkan perdagangan kedua negara. Djibouti memerlukan berbagai produk untuk pembangunan infrastruktur,” jelas Mendag. Produk utama yang diekspor Indonesia ke Djibouti antara lain sabun, minyak kelapa sawit, kertas dan karton, buku tulis, serta margarin.

Sedangkan produk-produk yang diimpor Indonesia dari Djibouti antara lain pakaian bayi dan aksesori. Pada pertemuan dengan Somalia, Enggartiasto mengungkapkan, Somalia perlu mitra untuk membangun perumahan karena baru saja pulih dari perang saudara yang diikuti dengan kembalinya diaspora Somalia yang memerlukan tempat tinggal baru.

Selain itu, kedua negara sepakat mendorong kerja sama business-to-business (B-to-B), termasuk forum bisnis, serta penjajakan kesepakatan dagang (business matching). Somalia sendiri telah memiliki 15 kantor perwakilan dagang atau agen pembelian di Indonesia. “Somalia akan menjadi pintu masuk ke Ethiopia dan Kenya bagi produk Indonesia.

Untuk meningkatkan perdagangan kedua negara, Indonesia dan Somalia sepakat mencari solusi permasalahan pembayaran transaksi perdagangan, termasuk mendorong kerja sama perbankan dan kemungkinan dilakukannya imbal dagang. Saat ini total perdagangan kedua negara tercatat 68,1 juta dolar AS yang didominasi ekspor Indonesia,” ungkapnya.

Adapun Uganda mengundang Indonesia untuk melakukan investasi di sektor sepatu kulit dan mengundang bank syariah Indonesia untuk membuka cabang dan beroperasi di Uganda. Selain itu, Menteri Uganda juga mengusulkan agar disediakan help desk untuk memfasilitasi produk-produk Indonesia ke Uganda.

Terkait perjanjian dagang, Uganda berjanji mendorong Council Minister of EAC untuk mengagendakan pembahasan terkait proposal Indonesia untuk merundingkan PTA dengan EAC yang telah diusulkan pada Juni 2017. “Melalui pertemuan bilateral ini, Indonesia meminta dukungan Uganda agar pembahasan PTAIndonesia-EAC dapat segera dimulai,” katanya. (bn,dtc-46)


Loading...
Komentar