GAYENG BARENG

Refleksi

Oleh Mudjahirin Thohir

Usia kemerdekaan ke-74 tahun ini sudah selayaknya disyukuri. Perlu syukuran. Disyukuri dan mengadakan syukuran sebagaimana dilakukan warga. Di kampung-kampung, di pelosok Tanah Air, hampir semua warga merasa terpanggil untuk berkumpul; mengadakan tasyakuran malam tujuhbelasan.

Mempercantik lingkungan masing-masing. Warga sepakat mengumpulkan dana untuk mewujudkan rasa syukur. Berlomba masakan alakadarnya, terutama bagi gadis-gadis untuk kelak bisa menjadi ibu rumah tangga. Membuat panggung pertunjukan sebagai wujud rasa kegembiraan.

Nah, dari sinilah awal mula seorang-dua orang anak manusia belajar tampil di panggung. Entah berpuisi atau bernyanyi. Dalam kegembiraaan, kesulitan hidup, misalnya karena masih menganggur, bisa terlupakan. Bisa jadi, pengangguran bisa difilsafatkan sebagaimana umum dalam seminar. Di balik bersyukur itu, ada hal yang patut direnungkan.

Dalam usia sudah 74 tahun hidup di negara merdeka, sudah banyak rakyat yang makmur dan tidak sedikit yang masih hidup terlunta. Apa yang belum dikerjakan dan apa saja yang justru terabaikan dan diabaikan oleh sebagian pejabat yang diberi amanat? Lihatlah Umar bin Khattab selama menjabat kepala negara.

Dia sering turun ke bawah (turba) untuk memastikan keadaan rakyatnya. Pada saat turba, dia mendengar tangisan anak yatim di balik rumah yang reyot. Dia ketuk pintu rumah itu, lalu menanyakan kepada penghuninya yang ternyata seorang janda beranak dua.

Ternyata, dia dapati dua anak kecil menangis karena lapar dan tidak ada lagi bahan makanan yang bisa disajikan. Melihat kenyataan itu, Umar tidak sabar. Dia segera mengambil gandum di gudang penyimpanan. Tidak menyuruh bawahan, dia dipanggul untuk dia serahkan kepada rakyat yang menghadapi kesulitan.

Tokoh Umar bukan kisah imajiner, melainkan faktual. Sama faktual dengan gambaran sejumlah pejabat di negeri ini, yang masih bisa tersenyum kendati menyandang rompi berwarna kuning ketela melekat di tubuh saat digelandang masuk gedung KPK. Oh, apa yang salah di negeri ini?

***

TUJUH puluh empat tahun bukan usia remaja lagi. Sudah waktunya para pemimpin di negeri ini melakukan refleksi diri. Lihatlah negeri sebelah, Korea Selatan misalnya. Mengapa negeri itu lebih berkemakmuran? Apa yang terjadi di Korea Selatan? Pada 1960-an, Ghana dan Korea Selatan sebagai perbandingan adalah dua negara yang memiliki produk domestik bruto (PDB) per kapita setara. Ekonomi kedua negara itu semula sama-sama ditopang oleh produk, manufakturing, dan jasa.

Mereka juga menerima bantuan ekonomi dari negara donor dalam jumlah setara. Namun tiga puluh tahun kemudian, yakni 1990-an, Korea Selatan sudah menjadi raksasa industri dengan ekonomi terbesar keempat di dunia. Korea Selatan telah berhasil membangun perusahaan-perusahaan multinasional, ekspor mobil, alat elektronik, dan barang canggih hasil pabrik lain dalam jumlah besar.

Akibat dari itu semua, pendapatan penduduk per kapita menjadi 15 kali lebih besar dari Ghana. Apalagi sekarang. Mengani hal itu, kita merespons sambil mengumandangkan jargon, “Bangga menjadi orang Indonesia”. Tentu sambil pegang HP Samsung di tangan. Bagaimana menjelaskan perbedaan luar biasa dalam perkembangan itu? Banyak faktor berperan.

Namun budaya manusianyalah yang memainkan peran besar. Orang Korea Selatan secara umum menghargai hidup hemat, investasi, kerja keras, pendidikan, organisasi, dan disiplin. Bagaimana dengan budaya kita sendiri? Budaya yang kita kumandangkan masih sebatas budaya wacana kata. Menurut kaum akademisi, budaya soft alias lemah lembut bin luwes, bisa mulur-mungkret.

Budaya yang mengakomodasi kata “harus” menjadi “seharusnya”. Budaya yang kita pegang bukan budaya ketat pada aturan, melainkan pada budaya “semua bisa diatur”. Jika ada “masalah” di kelembagaan, dibahas panjang-lebar dan diakhiri dengan kesepakatan “secara adat”. Maksudnya kompromi dan dikompromikan. Dalam istilah “Jepang” yang sudah dikromoinggilkan: ngono ya ngono ning aja ngono.

Spirit juang bagi kaum pejuang, seperti ungkapan: rame ing gawe, sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana, giat bekerja, membantu tanpa pamrih, memelihara alam semesta, mengendalikan hawa nafsu, dalam praktik laku keseharian masih lebih dekat dengan ungkapan jauh panggang dari api. Spirit untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan masih banyak yang berorientasi pada administrasi daripada substansi. Itulah di antara ciri budaya “seolah-olah lancar”, padahal masih banyak persoalan tertinggal. Benarkah? Tanyalah pada dirimu sendiri. Itulah makna refleksi. (28)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar