Bumi Manusia

Gejolak Cinta dalam Penindasan

Oleh Eko Edi Nuryanto

”Saya hanya ingin jadi manusia bebas. Tidak diperintah dan tidak juga ingin memerintah” Itu menjadi sebaris ungkapan ‘Minke’ yang terekam jelas dalam film Bumi Manusia. Kegelisahan pribumi yang tak terbendung pada masa itu terekam jelas melalui tokoh Minke yang diperankan oleh aktor muda, Iqbaal Ramadhan.

Kisah novel Pramoedya Ananta Toer ini diadaptasi ke film oleh rumah produksi Falcon Pictures di bawah arahan sutradara Hanung Bramantyo. Selain Minke, sosok bernama Nyai Ontosoroh juga merasakan kegelisahan yang sama. Keduanya menjadi tokoh yang menggambarkan pemberontakan atas hukum Belanda di masa lalu. Keduanya juga tengah mencari keadilan bagi kaum pribumi.

Bumi Manusia memotret ulang peristiwa pahit Indonesia di masa lalu. Ketika kaum pribumi Tanah Air tak memiliki kesempatan untuk berdiri dan memiliki pilihan di negeri sendiri. Dalam trailer berdurasi sekitar dua menit, digambarkan deretan tokoh yang menjadi pusat cerita dalam novel aslinya.

Ada Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, Mawar de Jongh sebagai Annelies hingga Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh. Cuplikan demi cuplikan adegan dalam trailer menampilkan perjalanan sosok Minke, seorang pribumi bangsawan Jawa dan persinggungannya dengan Annelies, seorang anak perempuan indo Nyai Ontosoroh dari perkawinannya dengan seorang Belanda.

Pramoedya dalam novelnya menggambarkan bagaimana Indonesia di masa lalu. Terutama ketika Belanda masih menjajah dan berkuasa di Tanah Air. Sutradara Hanung Bramantyo menggambarkan situasi tersebut lewat tiga peran Minke, Annelies juga Nyai Ontosoroh.

Minke menghadapi pergulatan cintanya dengan Annelies yang di sebuah peristiwa harus terbentur aturan Hindia Belanda. Hal serupa dirasakan oleh Nyai Ontosoroh ketika kematian sang suami menyeretnya ke dalam sistem pengadilan menghadapi bangsa Eropa.

Setia pada Novel

Film Bumi Manusia garapan Hanung Bramantyo diakui sangat setia dengan setiap cerita dan adegan yang dijelaskan dalam novelnya. Karya besar Pramoedya itu ini dikemas secara sama di dalam film termasuk adegan pemerkosaan yang dialami karakter Annellies.

Hal itu diungkapkan Frederica selaku produser dalam rumah produksi Falcon Pictures saat jumpa pers Bumi Manusia dan Perburuan di Hotel Majapahit, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (10/8).

”íSebenarnya kita setia sekali dengan novelnya,” jawabnya. Pihak Falcon Pictures tak khawatir dengan adegan tersebut. Mereka kembali mempertegas segmentasi filmnya kali ini dan kesetiaan mereka terhadap karya Pram. ”Apa yang ada di novelnya kita filmkan.

Kami juga mendapatkan sensor 17 tahun ke atas untuk film ini,” sambung dia lagi. Sementara Hanung mengaku sempat ragu menjadikan Iqbaal Ramadhan sebagai Minke yang merupakan tokoh utama. ”Saya awalnya nggak yakin, masa sih dia,” ujar Hanung.

”Tapi kemudian Salman Aristo yang kasih tau saya, ‘lu udah nonton ‘Dilan’belum?, lu nonton deh ‘Dilan’’. Kemudian saya nonton ‘Dilan, kenapa, ‘Minke tuh kayak gitu. Itu ikon kita’. Itu yang membawa spirit Pram masuk menembus relung imajinasi anak-anak milenial sekarang hanya Iqbaal.

Yaudah.” Ia juga memberikan pengajaran bagi Iqbaal untuk mendalami karakter melalui kehidupan pribadinya. ”Saya nggak ngomong kamu harus jadi Minke, enggak. Saya enggak ngomong gitu. Saya cuma ngulik apa yang sudah kamu lakukan saat kamu ada di Kanada,” cerita Hanung.

”Iya kan dia cerita, ‘saya juga di Kanada jadi minoritas’. Iya pada saat di sana dia bergaul sama orang-orang Amerika, orang-orang China. Kata Iqbaal ketika disebut orang Asia, itu bayangannya adalah China. ‘Kamu dari China ya?’, ‘bukan, dari Indonesia’. Jadi Indonesia itu mana lagi gitu. Nah itu rasain itu,” jelas Hanung.

Tidak hanya itu, Iqbaal juga nyatanya telah diberikan beberapa buku untuk mengetahui sejarah serta perkembangannya oleh suami Zaskia Adya Mecca tersebut. ”Sambil baca Multatuli, sambil baca Max Havelaar, sambil baca pemikirannya feminisme Kartini. Terus ada beberapa buku-buku kok yang saya kasih ke dia, dan ini dalam waktu 2 bulan saya suruh begitu,” ujar dia.

Film yang mengambil beberapa aktor berdarah Belanda untuk memerankan tokoh seperti antaranya Robert Suurhof, Jean Marraise, Dokter Martinet, hingga Maurits Mellema, diputar mengambil momen kemerdekaan. Nyatanya, film ini memang sudah ditunggu sangat lama sekali oleh pembaca Bumi Manusia.

Di novelnya Pram telah menyuntikkan semangat perlawanan yang luar biasa. Sekalipun perlawanan itu pada akhirnya kalah. ”Kita kalah Nak Nyo, tetapi kita telah melawan dengan sebaik-baiknya!” kata Nyi Ontosoroh kepada Minke. Na bagaimana Hanung menerjemahkan semangat itu? Tentu sangat menarik ditunggu. (49)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar