ESAI

Usia Puisi Dharmadi

Oleh Mufti Wibowo

Chairil pernah bermantra: ingin hidup seribu tahun lagi. Akan tetapi, itu tak cukup untuk menunda kematiannya pada usia muda. Meski tubuh biologisnya telah menyatu dengan tanah Karet, nama dan puisinya abadi.

Siapa hendak menyangkal itu? Anak-anak sekolah masih mengenalnya sebagai “binatang jalang”. Pada lomba-lomba membaca puisi atau pidato Hari Kemerdekaan, kita akrab mendengar puisinya, “Diponegoro”. Bahkan kisah cintanya dengan Ida diketahui banyak orang. Juga obsesinya dengan buku. Chairil mencari jalan estetika yang sedikitnya berbeda dari para pendahulunya.

Dia dan karyanya lahir pada saat yang tepat. Tak heran ia disebut-sebut kanon sastra Angkatan ë45. Dua keberkahan itulah yang kiranya membuat tanggal penting dalam hidupnya diperingati sebagai Hari Puisi. Lain Dharmadi. Dharmadi terus produktif menulis puisi ketika berusia tujuh puluh.

Angka yang membuat penulis muda nan banyak lagak layak menaruh hormat pada sosok bersahaja yang akrab dengan stasiun dan kereta serta pandai memijit itu.

Medio semester pertama 2019, menandai usia ke-70, Dharmadi meluncurkan buku kumpulan puisi pilihan Pejalan. Merunut titi mangsa yang tersurat di setiap akhir puisi, tahun penulisan tertua 1974, sedangkan termuda 2018. Dalam rentang 44 tahun, terpilih 140 judul puisi. Puisi tentu saja ekspresi subjektif sang pernyair.

Ekspresi penyair adalah dialektika tak berkesudahan antara realitas objektif dan nilai-nilai ideal. Dharmadi mengidealkan mengakomodasi keduanya untuk tidak saling menegasikan, alih-alih berkompromi. Pembaca bisa menemukan itu pada penggalan puisi “hakikat”.

langkah belum selesai apa salahnya/runut kembali awal berjalan/ ada yang memerat keangkuhan tak/bermakna keinginan menggelembungkan/diri mari kita gembosi sendiri sebelum meledak/di udara agar tak jadi puing/diterbangkan/ angin// Membaca buku puisi “Pejalan”, pembaca disuguhi autobiografi Dharmadi. Tentu bukan dalam bentuk prosa, melainkan larik dan bait. Dharmadi merekam banyak hal penting dalam puisinya.

Dharmadi memetaforakan hidup sebagai perjalanan, sedangkan dia sebagai pejalan. Kita dapat melihat itu dalam cukup banyak puisi, beberapa di antaranya “gerimis padi”, “di pendapa tbs”, “di jakarta”, “saat sakit”, “hakikat”, “tirai demi tirai”, “sajak batu”, “kabut”, “di stasiun”, “ibu yang zat”, “ritual ibu”, “tiket”, dan “di pasar peterongan”.

Nama dan Persona

Dalam puisi-puisi itu, pembaca akan menemukan nama atau persona hingga peristiwa spesifik dan subtil bagi penyair kelahiran Semarang yang kini tinggal di Tegal itu. Puisi-puisi medio 1980-an hingga 1990-an menunjukkan gaya ucap Dharmadi yang bergeser, meski tak frontal, ke arah realis.

Itu berbeda dari gaya yang ia pilih sebelum dan sesudah medio itu. Pembaca bisa menemukan dasar argumentasi itu pada penggalan puisi “sarajevo-hebron-kabuldan di tempat-tempat lainnya lagi” berikut ini.

sampai juga padaku letusan selongsong/peluru asap mesiu juga aliran darah serpihan daging potongan tulang serta/jeritan yang tertahan//kulihat pada gambar di koran di televisi/kudengar lewat siaran radio helversum bbc/suara amerika juga rri/masuk dalam hatiku wajah anak-anak mengerang/sambil memegang erat-erat kaki kiri/sebentar lagi diamputasi// Juga, pada puisi “exoduse”: ada cangkul/ada sabit//ada keranjang bambu//ada benting/ada kain/ada kebaya//ada potongan rambut//tergeletak di teras rumah//kemudian lambaian tangan//riwayat tenggelam di dasar bendungan/tak ada lagi ziarah panjang/ berjuta jiwa terkapar/di kota metropolitan//asing dari aroma tanah//. Pada titik ini, Dharmadi memerankan diri sebagi bagian dari masyarakat dunia.

Dia adalah subjek kolektif yang terikat oleh nilai-nilai kemanusian yang universal. Wacana itulah yang menjadi roh dalam puisi itu. Dari perjalanan kepenyairannya yang terbentang 44 tahun, capaian estetika tertinggi Dharmadi adalah puisi pendek yang khas.

Dia memiliki kemampuan meramu diksi sederhana dalam larik dan bait yang relatif singkat, tanpa kehilangan keluasan substansi wacana. Simaklah salah satu puisi terbaik Dharmadi, berjudul “daun”, yang memproyeksikan kejernihan batin sekaligus kejeniusan memilih diksi. selembar daun/lepas dari pegangan/ angin meraih//. (28)

- Mufti Wibowo lahir dan berdomisili di Purbalingga, bergiat di komunitas Bunga Pustaka


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar