HARAPAN-HARAPAN BARU

Merdeka dan Terus Berkarya

SM/Nugroho PS : Yanuar Iman Santoso : Bowo Leksono : Dea Valencia
SM/Nugroho PS : Yanuar Iman Santoso : Bowo Leksono : Dea Valencia

Kemerdekaan bukanlah sekadar bebas dari penjajahan. Bagaimana anak-anak bangsa bebas berkreasi untuk memajukan negeri adalah kemerdekaan. Bagaimana mewujudkan bangsa berkualitas dengan harapan-harapan baru adalah kemerdekaan juga. Bagaimana pembangunan diisi dengan tindakan-tindakan yang kreatif adalah kemerdekaan juga. Apakah harapan-harapan baru? Harapan itu adalah menciptakan kesehatan yang paripurna. Harapan itu adalah memerdekakan kreativitas. Harapan itu adalah terus hidup dalam aneka karya yang kian mengualitaskan bangsa dan negara.

DI Indonesia banyak pengusaha muda sukses. Salah satunya Dea Valencia Budiarto (25), pemilik Batik Kultur. Perempuan kelahiran Semarang, 14 Februari 1994 ini mengawali perjalanannya dengan berdagang batik lawas milik ibunya. Sejak kecil, Dea memang sudah dikenalkan dengan batik. Dia mengerti betul proses pembuatan batik tulis dari hulu ke hilir.

Sebagai lulusan Program Studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Dea paham bagaimana besarnya kekuatan internet sebagai media pemasaran produk. Karena itu, 95% pemasaran Batik Kultur dilakukan secara daring atau online.

Berbicara tentang kemerdekaan Republik Indonesia, Dea punya pandangan sendiri. Sebagai orang yang bergelut di bidang ekonomi kreatif, makna kemerdekaan baginya adalah bebas berkarya, bebas berkreativitas, dan bebas berinovasi.

Ini sangat penting untuk mengenalkan budaya Indonesia. ”Indonesia kaya budaya. Salah satunya bisnis yang saya tekuni adalah batik dan kain Nusantara seperti tenun dan songket. Kita harus mencintai budaya sendiri dengan menggunakan batik dan kain Nusantara,” ujar anak pasangan Ariyani Utoyo dan Iskiworo Budiarto itu. Di balik kesuksesannya sebagai pengusaha muda nan sukses, Dea punya pesanpesan untuk generasi mendatang. Pertama, bertanggung jawab terhadap segala yang dikerjakan. Kedua, jangan terjebak alasan untuk menunda pekerjaan. ”Ketiga, untuk mencapai kesuksesan selalu ada kendala. Kendala-kendala itu harus dilewati, karena itulah yang membuat kita lebih andal dan kuat. Terpenting, mulai dulu saja,” ujar pengusaha yang punya 120 karyawan itu.

Keberhasilannya mempromosikan batik ke dunia internasional pun mendapatkan perhatian dari Presiden Joko Widodo. Dea diundang hadir dalam Upacara Peringatan HUT Ke-74 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Sabtu (17/8). ”Saya masih tidak percaya mendapat undangan ini. Ini merupakan pengalaman luar biasa dan tidak akan terlupakan,” ujar wanita yang pernah menjadi pembicara dalam forum UNESCO itu. Kemerdekaan dalam berkarya juga merupakan hal penting di mata Bowo Leksono (42), sineas yang konsisten mengibarkan bendera perfilman banyumasan.

Menurut pria asal Desa Gandasuli, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga itu, pembuat film semestinya mendapat ruang kebebasan untuk berkarya dengan berbagai isu dan beragam konten. Selain itu, mereka seharusnya juga bebas memperoleh fasilitas dari pemerintah. Pasalnya, film merupakan media pendidikan yang paling ampuh di tengah kondisi masyarakat Indonesia yang semakin miskin literasi. Melalui film pula, jembatan informasi menjadi lebih lengkap karena mencakup audio dan visual. Karena itu, setiap kali mendampingi pelajar memproduksi film, dia menekankan bahwa membuat film itu tidaklah mudah. Setiap cerita yang diangkat memiliki misi memberikan informasi, mendidik, dan mengasah penonton agar peka terhadap persoalan sosial kemasyarakatan. ”Sebagian besar karakteristik film garapan saya maupun yang diproduksi oleh pelajar menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumas. Pola ini masih kami pertahankan karena selain lebih komunikatif dan dekat dengan penonton, orang dari luar Banyumas menjadi lebih familiar dengan dialek lokal ini,” kata pendiri Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga itu.

Menyelaraskan dengan perkembangan zaman, CLC Purbalingga mulai mengakrabkan diri dengan dunia digital. Mereka membuat laman dan media sosial untuk publikasi kegiatan serta kanal Youtube untuk menyiarkan dokumentasi karya yang menjadi pemenang di sejumlah festival. Film-film itu juga ditayangkan di sejumlah kanal terkenal seperti Vidsee. Nurkhayat Bowo Leksono, nama lengkap bapak satu anak itu, mengaku tak pernah terpikir bakal bertahan hingga lebih dari 14 tahun di dunia film. Jatuh bangun pendiri Laeli Leksono Films ini dirasakan sejak 2006. Hingga saat ini, tak kurang dari 40 karya film pendek fiksi dan nonfiksi lahir dari tangan dinginnya. Selain itu masih ada lebih dari 200 judul film lahir dari para pelajar yang berkarya bersamanya di CLC yang didirikan pada 2006. Menurut peraih penghargaan Apresiasi Insan Film Pendek Indonesia Berprestasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2012) tersebut, mengelola komunitas film tak semudah membalik telapak tangan. Selain harus konsisten memproduksi karya, mereka juga harus mampu bertahan hidup. Sejak awal CLC berdiri, Bowo mengaku sudah terbiasa dengan kondisi serbakekurangan dana. Bahkan, kadangkala, mereka kesulitan membiayai Festival Film Purbalingga (FFP) yang sudah berjalan selama 13 tahun. Komunitas film, kata dia, serupa dengan kelompok kreatif lainnya, misalnya grup musik. Bila mereka tak mampu memasarkan lagu yang sudah dibuat dengan cara menggelar konser atau merilis lagu, maka band tersebut akan kesulitan mempertahankan eksistensinya.

Bicara soal kemerdekaan berkarya, suami Puspaningsih (30) itu pernah mengalami berbagai rintangan, bahkan ancaman dan teror. Dia menuturkan, para sineas pelajar juga pernah mendapat teror baik fisik maupun psikis dari aparat, preman, pihak sekolah, sampai didemo kelompok tertentu. Bahkan, ada pula pelajar yang mengalami pelecehan seksual. ”Setiap film yang dibuat pelajar itu terkadang bersinggungan dengan pihak tertentu. Seperti film fiksi Melawan Arus tentang konflik lahan petani Urut Sewu dengan tentara. Sempat ada teror psikis yang membuat kami merasa paranoid ketika hendak mengambil gambar,” ungkap peraih penghargaan Insan Penggerak Komunitas Film dalam ajang Anticorruption Film Festival (ACFFest) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) (2014) itu. Tantangan lain terkini adalah persaingan di dunia digital. Bowo mengakui, kuantitas film yang diproduksi pelajar dari Banyumas Raya tahun ini menurun. Produksi film pelajar terusik kehadiran para influencer yang moncer di media sosial.

Kontribusi Lebih

Kemudahan mendapatkan uang dari kanal Youtube, kata dia, menjadi tantangan tersendiri. Para pelajar mulai enggan memperhatikan kualitas dan kekuatan cerita saat memproduksi sebuah video. ”Youtuber itu cukup berpengaruh sekaligus tantangan. Orang yang tidak tahu film pendek pasti persepsinya kalau membuat video ya harus dapat uang, cuma lucu-lucuan saja,” jelasnya.

Kehadiran teknologi digital yang kian maju tak hanya diantisipasi oleh pengusaha atau kreator film, tapi juga oleh ahli dari bebragai profesi lain untuk mengimplementasikan ilmunya. Dengan pemanfaatan teknologi, mereka bisa memberikan kontribusi lebih kepada institusi dan masyarakat. Itu pula yang dilakukan dokter Yanuar Iman Santosa Sp THT-KL MSi Med. Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) ini memanfaatkan blog dan aplikasi berbasis Android untuk memberikan informasi penting seputar kesehatan. Yanuar mulai menulis di blog pada 2012. Kemudian, kurang lebih setahun lalu, dia mengembangkan dua aplikasi sekaligus, yaitu Lanungga Studio dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI Kota Semarang). ”Sekarang memasuki revolusi industri 4.0. Di bidang kedokteran, sebagian besar dokter masih belum memahami sepenuhnya. Mau tidak mau, kita harus menguasai teknologi, termasuk dokter,” kata Yanuar, kemarin.

Dia menjelaskan, aplikasi Lanungga Studio berisi informasi seputar THT, teknologi kedokteran, dan kewirausahaan. Adapun aplikasi IDI Kota Semarang bertujuan mempermudah komunikasi anggota dan pengurus organisasi itu serta memberikan akses jurnal guna mengikuti perkembangan ilmu kedokteran. ”Adapun blog yang saya tulis dengan Bahasa Indonesia ternyata juga diakses orang-orang di luar negeri. Artinya, ada kebutuhan akan informasi kedokteran oleh warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri,” ujar staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu. Lewat aplikasi Lanungga Studio, imbuh Yanuar, masyarakat dan pasien akan dimudahkan dalam mencari informasi seputar jadwal dokter, penyakit THT beserta penjelasan dalam bentuk animasi dan video, serta konsultasi awal. ”Konsultasinya sebatas awal atau ringan, bukan untuk memberikan resep. Pemeriksaan fisik harus tetap dilakukan, sesuai Undang-Undang Praktik Kedokteran,” imbuhnya. Informasi yang dia tuangkan dalam aplikasi itu bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penyakit THT. Harapannya, keluhan pasien akan lebih mudah dideteksi sedini mungkin. ”Dokter juga bisa memiliki pola pikir pengusaha dan menguasai teknologi digital. Selama ini ada batasan antara informasi yang diinginkan pasien dan informasi yang disampaikan dokter. Kadangkadang waktunya tidak cukup kalau bertemu langsung,” papar Yanuar.

Dia berharap setiap dokter mampu berinovasi dengan membuat dan memiliki satu aplikasi untuk praktiknya. Tujuannya untuk memberikan pelayanan dan memecahkan masalah kesehatan di tengah masyarakat dengan tetap menjaga kode etik kedokteran. ”Dokter sebagai pelaku utama di pelayanan kesehatan wajib menguasai teknologi, minimal mengerti. Itu akan membantu pelayanan kepada pasien,” jelasnya. Demikianlah kemerdekaan adalah mewujudkan harapan-harapan baru yang lebih baik. (Hendra Setiawan, Nugroho Pandhu Sukmono, Eko Fataep-19)


Berita Terkait
Loading...
Komentar