Tantangan Terbesar adalah Budaya

Oleh Gunawan Permadi

APAKAH makna terdalam bagi setiap diri masyarakat Indonesia saat merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus?

Pada peringatan ke- 74 tahun, tidak ada salahnya kita mengajak semua saja yang memikirkan ulang perjalanan kemerdekaan bangsa dan tantangan-tantangan bagi Indonesia dan keindonesiaan pada waktu mendatang. Seperti apakah lansekap Indonesia pada 2030, 2040, dan tahun-tahun generasi masa depan?

Kebanyakan terlalu sibuk dan disibukkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi, terutama sekali akibat kehadiran teknologi. Semua orang tercengang dengan kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence), sehingga sudah memersepsikan bahwa itulah masa depan sejati bangsa-bangsa dunia. Semua pemimpin berlomba-lomba menjadikan lingkungan yang dipimpin layak mendapat predikat smart, mulai dengan membangun smart building, smart city, dan segala atribut kecerdasan yang diperoleh dari aplikasi kecerdasan berbasis data dan informasi.

Pada lingkup paling sederhana, perangkatan bermuatan kecerdasan diperkenalkan sejak usia dini dengan ambisi dikuasai oleh anak-anak sedini mungkin. Maka, berlomba-lomba pula pendidikan tingkat taman kanak-kanak memperkenalkan kurikulum komputer, matematika, dan sederet keterampilan-keterampilan yang dianggap sebagai bekal untuk meraih penguasaan kecerdasan itu.

Apakah hasil yang dtunjukkan saat ini? Nyaris tidak ada. Anak-anak bangsa tumbuh menjadi manusia-manusia yang hanya ”cerdas” mengonsumsi teknologi. Ketika manusia- manusia itu harus berkompetisi di ladang kenyataan, juga berkompetisi di ajang global, terseok-seoklah mereka. Keterampilan-keterampilan yang dijejalkan sejak usia dini ternyata tidak memberikan jawaban atas persoalan-persoalan yang cepat berubah dan bermetamorfosis.

Kreativitas sebagai modal utama daya tahan manusia, yang memenuhi teori survival of the fittest, lebih banyak dikorbankan dalam pola mengejar kecerdasan dan teknologi. Menarik sekali bahwa para CEO di Amerika Serikat, negeri yang dipandang sebagai pusat kemajuan teknologi, mulai merisaukan kesenjangan antara teknologi dan manusia. Majalah Harvard Business Review edisi Juli-Agustus 2019 mengulas penelitian yang dilakukan sejak 2016 hingga 2018, dengan satu kesimpulan: tantangan utama bagi kemajuan dan peradaban manusia bukanlah teknologi. Tantangan terbesar justru adalah kultur. Kultur, budaya, kebudayaan, dan karakter makin lama makin terpinggirkan dan bahkan terlupakan. Perlu ditegaskan di sini, yang dimaksud dengan budaya dan kebudayaan bukanlah tradisi. Merujuk definisi Bryan Kurey, peneliti tentang kultur, budaya adalah ”cara manusia mengelola ketegangan antara realitas saat ini dengan hal-hal yang ideal”.

Akar yang Membusuk

Pemerintah mungkin tidak terlalu melupakan. Contohnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat ini sedang mendorong penyelesaian penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) dalam rangka memajukan kebudayaan nasional agar menjadi akar pembangunan Indonesia. Iktikad itu tepat sekali. Di tengah perubahan dunia saat ini yang dipengaruhi globalisasi dan revolusi industri 4.0, banyak negara memikirkan ulang arah dan filosofi pembangunan nasionalnya. Salah satu aspek penting adalah kebudayaan.

Sejarah telah membuktikan, perkembangan peradaban dan kehidupan manusia menorehkan lompatan besar setelah manusia mengenali dan menafsirkan terusmenerus nilai-nilai dalam kebudayaan. Namun, setelah lompatan besar dari masa prakebudayaan ke era modern, kebudayaan malah terlupakan dan terpinggirkan. Komodifikasi budaya mengakibatkan hakikat dasar kebudayaan tertutup dan pembangunan menyempit menjadi sangat ekonomis. Di kalangan masyarakat luas, kata kebudayaan juga mengalami penyempitan makna. Bagi kebanyakan warga, kebudayaan hanya diasosiasikan sebagai seni, produk seni, atau aktivitas seni. Kata ”budaya” juga mengalami percabangan makna yang sesungguhnya lepas sama sekali dari makna hakikinya. Misalnya, istilah ”korupsi yang membudaya” adalah istilah yang salah kaprah karena kerja membudayakan adalah kerja positif, bukan melembagakan nilai negatif. Sedikit banyak hal itu menggambarkan posisi kebudayaan dalam alam pikir pembangunan dan paradigma kehidupan masyarakat. Pengalaman membuktikan, pendekatan budaya lebih ampuh menuai hasil. Penjajahan kebudayaan justru jauh lebih berbahaya dibanding invasi dalam bentuk lain. Invasi kebudayaan menciptakan kesadaran hegemonik atau kesadaran palsu bagi masyarakat yang terpapar. Akibatnya, muncul masyarakat yang konsumtif dan tidak kreatif, bangsa dengan mentalitas kalah. Sikap dan nilai-nilai unggul akan terkikis. Pandangan visioner akan tertutup oleh kesukaan pada hal instan dan pragmatis. Era disrupsi yang diawali dengan perkembangan cepat di sektor digital telah membawa dan mendorong perubahan cepat pula di berbagai bidang.

Industri media massa, termasuk di dalamnya media massa cetak, juga dituntut untuk mengikuti dan berubah seirama dengan gerak alam perubahan itu sendiri. Mengutip pakar marketing Hermawan Kertajaya, 2018 adalah situasi yang serba tidak terduga, serba unpredictable yang tidak cukup disiasati secara kalkulatif. Istilah yang dipandang sangat tepat menggambarkan situasi seperti ini, menurut Hermawan, adalah VUCA (Volatility- Uncertainty-Complexity-Ambiguity). Pergolakan, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Empat kata yang saat ini menguasai perubahan. Lantas, apa yang harus dilakukan?

Dampak pada Radikalisme

Tak pelak lagi, kembali kepada kebudayaan. Memperkokoh kebudayaan sebagai akar perubahan. Perubahan ibarat cabangcabang dan ranting-ranting pohon yang bebas bergerak mengikuti sumber perubahan (yakni, sinar matahari jika diibaratkan pada tumbuhan), namun hal itu hanya terjadi apabila pohon itu memiliki akar yang kuat dan kokoh.

Demikian pula entitas dan realitas Indonesia sebagai bangsa. Pada tataran praksis, penguatan akar itu sebagian terbesarnya menjadi tugas pendidikan, yakni pendidikan yang memerdekakan manusia. Tujuan pendidikan bukan hanya membuat seseorang pintar dan menguasai keahlian-keahlian tertentu, namun lebih dari itu, memberikan ruang berkembang bagi manusia agar bertumbuh menjadi manusia yang merdeka.

Kemerdekaan berpikir adalah syarat utama untuk memperoleh bekal utama dalam kompetisi kehidupan, yakni kreativitas. Karena itulah, sungguh ironis apabila ketika Indonesia memimpikan kemajuan tetapi pada saat bersamaan takut dengan kebebasan berpikir sehingga perlu merazia buku-buku yang dianggap berbahaya. Padahal, tidak ada buku yang berbahaya. Yang berbahaya adalah akal dan pikiran yang tidak berakar. Menarik misalnya, apabila mencermati hasil-hasil penelitian tentang radikalisme. Hasil-hasil riset, baik dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan, menemukan bahwa secara kuantitatif paham radikalisme justru lebih banyak ditemukan di sekolah-sekolah yang mendapat label sebagai sekolah favorit atau sekolah unggulan atau sekolah top, baik itu di tingkat pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi. Secara kuantitatif pula, kelompok eksakta lebih dominan. Temuan itu sebetulnya sudah merepresentasikan ada kekeliruan mendasar dalam sistem pendidikan, yakni hanya terfokus pada upaya mencetak manusia pintar secara keilmuan. Akibatnya, manusia terbelenggu dalam kerangkeng sains.

Tepat pula tema Peringatan Kemerdekaan tahun ini: SDM Unggul, Indonesia Maju. Syarat mutlak agar keunggulan itu kuat, tidak seperti pohon besar yang keropos di dalam, adalah berakar kuat pada budaya sebagai kata kerja, dan kebudayaan sebagai program. Selama 74 tahun merdeka, sudah terlalu lama bangsa ini melupakan tantangan besar itu. Sekaranglah saatnya, diskursus kebudayaan dihidupkan. (03)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar