PANEN TEMBAKAU

Kemarau Panjang Bawa Berkah

SM/Raditia Yoni Ariya  -  TEMBAKAU RAJANGAN : Sejumlah pekerja mengangkut keranjang berisi tembakau rajangan kering dari para petani di salah satu gudang di wilayah Bulu Temanggung, belum lama ini. (24)
SM/Raditia Yoni Ariya - TEMBAKAU RAJANGAN : Sejumlah pekerja mengangkut keranjang berisi tembakau rajangan kering dari para petani di salah satu gudang di wilayah Bulu Temanggung, belum lama ini. (24)

TEMANGGUNG - Kemarau panjang justru menjadi berkah bagi petani tembakau. Hal itu diungkapkan Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Temanggung, Noer Ahsan. Dia mengungkapkan, bila kondisi tanpa hujan bisa terus bertahan hingga masa panen pada musim tembakau tahun ini. maka diperkirakan komoditas ini akan baik, bahkan diyakini bisa lebih baik dibandingkan masa panen tahun lalu.

"Selama kemarau panjang maka kualitas akan baik. Dari pengamatan kami ke ladang-ladang tembakau di lereng Gunung, Sumbing, Sindoro, dan Prau secara umum kualitas tanaman tembakau taun lebih baik dari tahun lalu.

Petani berharap cuaca akan tetap bagus hingga akhir panen nanti," ujarnya Selasa (13/8). Dikatakan, pertanian tembakau butuh air atau tersiram hujan adalah pada saat sebelum masa tanam, lalu pada masa pertumbuhan butuh air sesekali saja, dan selanjutnya tidak terlalu butuh air.

Kemarau panjang membuat mingsri (kadar nikotin dan tar) menjadi tinggi sehingga kualitas tembakau Temanggung menjadi baik. Berbeda jika hujan turun terus menerus, maka tanaman tembakau pasti akan busuk dan mati hingga terserang jamur.

Petani pun harus melakukan penyulaman (tanam kembali) menggunakan tanaman baru secara berulang sehingga membuat biaya tanam membengkak. "Sejauh ini kondisi cuaca cukup bagus, dengan kemaraunya panjang, tapi masih lembab artinya kondisi tanah masih basah tidak terlampau kering.

Keadaan ini membuat kualitas tanaman membaik di mana ciri khas tembakau Temanggung ada pada tingginya kadar tar dan nikotin sehingga cocok untuk produksi rokok keretek," tambahnya. Petani asal Wonosobo juga mengungkapkan hal serupa. Petani dari Kapencar, Kertek, Sudarji mengatakan, hasil panen tahun ini lebih bagus dari tahun lalu.

Dengan datangnya musim panas yang lebih awal ditambah tidak ada hujan yang berlarut menjadikan kualitas tanaman tembakau lebih bagus. "Kalau pada tahun lalu, menjelang musim panen masih terdapat hujan. Kalau tahun ini rata-rata panas terus, sehingga hasilnya bisa maksimal," ungkapnya.

Belum Jelas

Sementara soal harga, Noer Ahsan pun berharap bisa tinggi bahkan lebih baik dibanding 2018. Harga tembakau tahun lalu paling rendah berkisar Rp 30.000 hingga Rp 35.000 per kilogram dan harga tembakau srintil dengan grade G Rp 400.000 per kilogram.

"Untuk panen perdana tembakau sudah mulai sejak akhir bulan Juli utamanya di zonasi pegunungan utamanya di lereng Gunung Prau. Yang tanamnya lebih awal maka panennya lebih cepat. Tapi secara umum di bulan Agustus semua wilayah sudah panen semua," katanya seraya mengungkapkan beberapa pabrik rokok besar telah memesan ribuan ton.

Meksi begitu, hingga memasuki pekan kedua Agustus ini kejelasan harga di pabrikan masih belum menentu. Di tingkat petani harga tembakau rajangan kering di kisaran harga Rp 40.000 sampai dengan Rp 70.000 per kilogram, dengan rincian harga Rp 40.000- Rp 50.000 untuk tembakau grade B+, dan Rp 55.000- Rp 70.000 untuk grade C.

"Di beberapa wilayah tertentu, grade C di tingkat petani ada yang sampai harga Rp 80.000 per kilogram. Tapi untuk yang harga di pabrik sampai sekarang belum ada harga standar artinya masih belum jelas di mana harga rata-rata Rp 35.000-Rp 70.000 per kilogram.

Kami berharap agar pabrikan bermain fair dalam jual beli lalu kami minta pemerintah melakukan pengawasan ketat dalam perniagaan tembakau ini,"katanya. Bahkan APTI mengusulkan kepada pemerintah untuk membuat posko pengaduan selama masa penjualan ini. Hal tersebut sebagai upaya antisipasi jika ada pihak-pihak tertentu yang berupaya curang terutama kepada para petani.

Selama ini tata niaga tembakau dirasa terlalu panjang sehingga petani tidak memiliki nilai tawar atau tidak bisa menentukan harga karena yang menentukan harga adalah pembelinya. Kerugian petani masih sering dirasakan, sebab dalam setiap satu keranjang yang dibeli masih ada potongan timbangan berupa rafaksi sehingga dianggap merugikan.

Sistem ijon atau nglimolasi juga masih menjadi momok petani yang dengan cara ini bisa terjerat rente dengan para juragan yang meminjamkan uangnya meski tanpa agunan tapi berbunga tinggi, bahkan kadang ada kewajiban membeli keranjangnya dari para juragan lalu tembakau harus dijual kepada para juragan itu juga.

Adapun untuk luasan tanaman tembakau, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung mencatat pada musim tanam 2019 mencapai 17.940 hektare. Luasan ini mengalami peningkatan daripada luasan lahan tanaman tembakau pada 2018 yang hanya mencapai 17.918 hektare.

Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Temanggung, Untung Prabowo menyebutkan, memang ada penambahan luasan tanam kurang lebih sekitar 22 hektare. Luasan tanaman tembakau tersebut tersebar di Lereng Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Prau, terutama di 17 kecamatan di wilayah Kabupaten Temanggung yang merupakan sentra penghasil tembakau.

"Dari 20 Kecamatan yang ada di Temanggung, hanya ada tiga kecamatan yang petaninya tidak membudidayakan tanaman tembakau," katanya. Menurut dia, musim kemarau tahun ini memang datang lebih dini, sehingga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tembakau.

Secara otomatis juga berpengaruh terhadap produksi tanaman tembakau. Hanya sebagian petani yang memiliki tanaman tembakau yang tumbuh dan berkembang sempurna, terutama petani yang tanam tembakaunya lebih dini yakni sekitar bulan Februari hingga April.

Akan tetapi bagi yang tanam tembakau di akhir bulan Mei hingga Juni, pertumbuhan tanaman tembakaunya tidak bisa maksimal. Sebab, kondisi cuaca sudah tidak ada hujan.

Padahal untuk tumbuh sempurna, tanaman tembakau tentu membutuhkan air hujan. Wilayah dengan pertumbuhannya bagus seperti di Kecamatan Tretep, Wonoboyo dan Ngadirejo. Tetapi meskipun kurang air, tanaman tembakau di sejumlah daerah masih bisa berkembang, hanya saja memang kurang maksimal.

Apalagi, saat ini petani sudah menanam tembakau varietas Kemloko sesuai permintaan pabrikan rokok keretek yang membeli tembakau ranjangan kering petani Temanggung.

Sempat Khawatir

Sementara itu, Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq mengaku sempat khawatir bisnis pertembakauan di Temanggung di masa mendatang ditinggalkan para petani.

Pasalnya, ada masalah yang dihadapi petani tembakau di Temanggung, yakni dalam beberapa tahun terakhir, mereka tidak bisa menikmati hasil pertanian tembakau secara maksimal, karena harga tembakau di tingkat petani tak menggembirakan.

Menurut dia, kondisi harga tembakau yang tak memihak terhadap petani, tentu harus menjadi agenda bersama, bagaimana memikirkan nasib mereka di masa depan agar tetap mau bertani tembakau. "Jika nasib petani tidak dipikirkan dan akhirnya petani tidak menanam tembakau, maka akan jadi pukulan pada dunia industri karena bahan baku rokok keretek akan kesulitan," katanya.

Khadziq mengaku menyaksikan sendiri, susahnya para petani tembakau menanam tembakau berbulanbulan, akan tetapi giliran saat musim panen tiba, rupanya marginnya masih sangat minim. "Marilah membangun dunia pertembakauan ini secara sportif, bersih, dan jujur.

Sekarang mulailah menghindari pedagang-pedagang yang tidak jujur, pedagang yang membeli harga tinggi, tetapi tidak dibayar atau dibayar hanya separoh," katanya. Di Wonosobo, awal bulan menjelang panen raya, harga tembakau yang baik dinilai sebagai permulaan yang bagus daripada tahun sebelumnya. Dikatakan Eko, petani dari desa tersebut, pada pertengahan bulan Agustus diharapkan harga tembakau naik.

Diusung adanya harga daun tembakau kiloan seharga Rp 6.000 rupiah di awal bulan Agustus per kilogramnya yang dirasa menjadi awal yang baik dalam masa panen tahun ini. "Ada yang sudah jual dengan harga Rp 6.000 hingga Rp 6.500 daun tembakau per kilogramnya, itu daun tembakau yang bawah, kualitasnyapun belum bagus," kata Eko yang ditemui di lahan tembakau miliknya.

Dengan munculnya harga diawal bulan yang tergolong bagus tersebut, Eko berharap bukan hanya menjadi penggembira di awal saja. Sebab apabila harga pada awal bagus, tidak menutup kemungkinan pada masa jual kepada konsumen harga akan turun "Bisa saja harga turun, karena berbagai wilayah juga panen.

Sudah menjadi kepastian apabila stok melimpah harga menjadi turun," ungkap Eko. Pria yang sudah 20 tahun menjadi petani tembaku tersebut juga mengungkapkan, dimulainya harga tembakau yang dianggap lemah berimbas kepada harga panen raya menjadi anjlok.

"Pernah terjadi awal menjelang panen raya ada harga Rp 6.000, kemudian saat panen raya karena stok melimpah harganya anjlok bahkan sampai Rp 4.000 per kilogramnya," katanya. Dengan munculnya harga yang dianggap bagus tersebut Eko lebih memilih mengolah tembakau sendiri. Eko beranggapan dengan mengolah sendiri tembakau miliknya, harga setelah diolah lebih menjanjikan daripada dijual daun per kilogram.

"Mendingan dirajang, dijemur, diolah sendiri. Kalau diolah, harga tembakau bawah yang kualitasnya kurang bagus ini bisa menjadi Rp 20.000 hingga Rp 25.000 rupiah, apalagi tembakau yang berada di atas mesti haganya lebih mahal kalau diolah," katanya sembari menali tembakau. (K41,kim-56)


Berita Terkait
Loading...
Komentar