Balai Budaya Rejosari

Oasis Kebudayaan di Kesejukan Lereng Muria

SM/Adhitia A  -  Suasana Balai Budaya Rejosari
SM/Adhitia A - Suasana Balai Budaya Rejosari

Di salah satu bagian lereng Gunung Muria, tepatnya di Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Balai Budaya Rejosari didirikan. Di sana, alunan gamelan, lantunan puisi, serta merdu petikan gitar terdengar.

BALAI Budaya Rejosari terletak belasan kilometer dari alun-alun Kudus. Terletak di dataran tinggi, sekelilingnya masih banyak berupa perkebunan. Tempat itu sendiri juga terlihat asri dan rindang. Setelah masuk lewat gerbang yang terbuat dari bambu, beberapa pohon besar terlihat kokoh berdiri. Di bawahnya ada dua joglo yang dilengkapi dengan seperangkat gamelan serta jejeran wayang.

Tak jauh dari joglo yang berhadapan itu, ada bangunan perpustakaan serta kesekretariatan. Satu deret dengan bangunan tersebut, berdiri pula rumah adat Kudus. Petugas sekretariat Balai Budaya Rejosari, Agus mengungkapkan, wacana pendirian Balai Budaya Rejosari telah muncul sejak 2007.

”Rumah Khalwat dan Balai Budaya Rejosari atau kemudian lebih dikenal sebagai Balai Budaya Rejosari ini berawal dari gerakan hati dan kepedulian realitas pantura oleh para Imam Misionaris Sacra Familia,” terangnya Mereka terutama pemerhati budaya yang berkarya di daerah pantura Jawa Tengah bagian timur yang kami sebut rayon Busidiana (singkatan dari: Gubuk, Kudus, Pati, Purwodadi, Jepara dan Juwana) untuk mengembangkan pusat pastoral kreatif di pantura.

Wacana tersebut terinspirasi dari Mgr Ign Suharyo dalam pewartaan khas Asia yang berciri pengembangan triple dialog, yaitu dialog kemiskinan, budaya, dan agama.

Wacana ini itu kemudian dilanjutkan Romo Wignyo MSF yang membentuk panitia ad hoc. Pendirian Balai Budaya Rejosari kemudian berjalan secara bertahap. Di bawah kepemimpinan Romo Windyatmoko MSF, pada 2010 terealisasi pembelian tanah di Rejosari.

Kemudian pada 2011 mulai dibangun Omah Kuldi yang dilanjutkan dengan pembangunan Joglo 1 pada 2012. Selanjutnya di bawah kepemimpinan Romo YB Haryono MSF berhasil membangun Joglo 2 dan pada 2018 hadir rumah adat Kudus.

Semua pembangunan tersebut buah karya bersama Keuskupan Agung Semarang, kongregasi MSF, dan paroki Kudus serta paroki se Rayon Busidiana, dengan hasil gotong royong sedulur sikep dan masyarakat umat Rayon Busidiana, yang diperuntukkan bagi masyarakat.

Semua Lapisan

Pimpinan Balai Budaya Rejosari saat ini, Lukas Heri Purnawan MSF atau biasa disapa Romo Ipenk menegaskan, tempat tersebut terbuka untuk semua lapisan masyarakat. ”Balai Budaya Rejosari ini terbuka untuk siapa saja.

Berbagai kegiatan seni budaya bisa digelar di sini,” terangnya. Di tempat itu ada kegiatan yang sudah menjadi tradisi selama beberapa tahun. Acara tersebut diberi tajuk Ngangsu Banyu. Pada 2019 ini, kegiatan itu memasuki tahun keenam. Acara tersebut diisi dengan berbagai kegiatan budaya.

Puncaknya yakni arak-arakan dari sendang terdekat menuju Balai Budaya Rejosari. Lewat kegiatan itu, Balai Budaya Rejosari ingin mengingatkan pentingnya pelestarian alam dalam menjalani kehidupan ini.

Tahun ini, Ngangsu Banyu dibuka dengan pameran seni rupa yang dibuka akhir pekan lalu. Seniman yang tinggal di Kudus, Asa Jatmiko mengungkapkan, pameran tersebut akan berlangsung hingga 24 Agustus nanti.

Tanggal tersebut juga bakal menjadi puncak kegiatan Ngangsu Banyu. ”Balai Budaya Rejosari telah menjadi tuan rumah bagi beberapa kegiatan budaya. Saya dan rekanrekan di Teater Djarum juga beberapa kali menggelar pementasan di sana,” terangnya. Balai Budaya Rejosari bisa disebut sebagai oase di lereng Muria.

Bermacam kegiatan budaya digelar. Sementara beberapa hari dalam seminggu, ada pelatihan tari dan wayang dimana siapa saja yang berminat bisa terlibat. Semua itu tak hanya bermanfaat bagi warga sekitar atau Kudus serta kawasan Muria saja, tapi juga labih banyak pihak. (Adhitia Armitrianto-56)


Berita Terkait
Loading...
Komentar