GURU BANGSA

Mbah Moen Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

SEMARANG - Duka mendalam dirasakan Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) dan jaringan Gusdurian Semarang atas kepergian Mustasyar PB NU KH Maimoen Zubair alias Mbah Moen saat menunaikan ibadah haji di Mekkah, Arab Saudi pada Selasa (6/8).

Mereka berkumpul dan mengenang sosok kiai kharismatik tersebut. Sebagai guru bangsa, Mbah Moen yang telah dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa, akan dirindukan. Perjuangan merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) membuatnya patut diusulkan jadi pahlawan nasional.

Demikian diungkapkan Pastor Kepala UPT Reksa Pastoral Unika, Romo Aloysius Budi Purnomo Pr dalam Doa Bersama Tujuh Hari Wafatnya Mbah Moen di Pastoran Johannes Maria, Unika Soegijapranata, Tinjomoyo Dhuwur, Semarang, Senin (12/8) malam. ”Mbah Moen wafat di usia 91 tahun, beliau telah mewartakan serta memperjuangkan NKRI.

Semestinya pemerintah tak ragu menetapkan beliau (Mbah Moen- Red) menjadi pahlawan nasional,” ungkap Romo Budi disela-sela acara. Menurutnya, sejarah pernah mencatat MGR Soegijapranata yang wafat pada 22 Juli 1963 menjadi pahlawan nasional.

Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Giri Tunggal Semarang. Selang empat hari setelah wafat atau 26 Juli 1963, Presiden Soekarno saat itu mengeluarkan keputusan presiden atas nama Soegijapranata sebagai pahlawan.

”Mbah Moen, sabahat perjuangan Soegijapranata tentu layak diusulkan jadi pahlawan,” tandasnya. Aktivis lintas iman Klaten, Vinanda Febriani mengaku ada di Jakarta saat Mbah Moen dikabarkan wafat. ”Saya menangis dalam satu ruangan.

Beliau telah mewujudkan Islam yang damai, dan patut menjadi suri teladan,” tandasnya. Atas hal tersebut, ia juga menilai ayahanda Wakil Gubernur Taj Yasin itu patut menjadi pahlawan nasional.

Di sisi lain, Koordinator Pelita, Setyawan Budi mengatakan, kepergian Maimoen itu tak hanya dirasakan umat Muslim saja, tapi juga dari berbagai agama dan kepercayaan.

”Kami merasakan kehilangan sosok Guru Bangsa. Sebagai wujud cinta dan empati, beberapa tokoh lintas agama dan kepercayaan berkumpul untuk memperingati tujuh hari wafatnya Mbah Moen,” ungkapnya. (J17-64)