Pameran Kokkang ”Merajut Indonesia”

Redam Gejolak Politik lewat 250 Karikatur

SM/Rosyid Ridho : PAMERAN KARTUN: Ketua Kokkang Totok Haryanto melihat salah satu gambar karikatur yang dipamerkan dalam Pameran Kartun Nasional. (24)
SM/Rosyid Ridho : PAMERAN KARTUN: Ketua Kokkang Totok Haryanto melihat salah satu gambar karikatur yang dipamerkan dalam Pameran Kartun Nasional. (24)

Situasi politik Indonesia sebelum dan setelah Pemilu 2019 yang sempat memanas, coba didinginkan kembali oleh 40 kartunis Kelompok Kartunis Kaliwungu (Kokkang) dengan tema ”Merajut Indonesia.”

ADA banyak cara menyampaikan ajakan, imbauan, dan kritik, tetapi tanpa menimbulkan emosi dan justru lebih mudah diterima banyak pihak. Salah satu caranya, lewat kartun. paling tidak inilah yang coba disampaikan para kartunis anggota Kokkang dalam meredam perpecahan akibat Pemilu 2019. Banyak cara yang bisa digambarkan untuk mengajak masyarakat untuk kembali bersatu, seperti lewat karikatur Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Karikatur ini menggambarkan arti penting persatuan dan memberikan semangat untuk membangun Indonesia tanpa perbedaan. Karikatur lain yang dipamerkan juga berisi pesan untuk menangkal berita hoaks dan antikorupsi. Selain itu, bersatu tanpa memandang perbedaan.

Karikatur karya Kokkang ini dipamerkan di Tirto Arum Baru Kendal sejak Sabtu (10/8). Ketua Pameran Kartun Nasional Kokkang Agus Widodo mengatakan, pihaknya memilih tema ”Merajut Indonesia” karena melihat situasi politik dan sosial di Indonesia penuh konflik. ”Dari sini muncul gagasan untuk kembali menyatukan bangsa melalui karya kartun. paling tidak, ada 250 karikatur yang digambar kartunis Kaliwungu yang tersebar di sejumlah kota di Indonesia,” ujarnya. Tak urung, Deputi IV Kantor Staf Presiden Eko Sulistyo pun memuji langkah Kokkang.

Dia mengatakan, kritik merupakan pesan yang dapat ditampung. Pemerintah sekarang bukan pihak yang alergi terhadap kritik. Penyampaian kritik melalui media kartun memberikan nuansa berbeda dalam penyampaian kritik. Sebab, pesan yang disampaikan berisi makna teguran yang diwarnai dengan nuansa humor. ”Tema ini (‘Merajut Indonesia’) sangat bagus, karena merespons situasi akibat situasi politik yang penuh dengan ujaran kebencian dan fitnah. Kritik bukan ujaran kebencian, kritik bukan hoaks. Kritik melalui gambar kartun menjadi semacam jamu buat pemerintah,” tuturnya.

Banyak Penghargaan

Penyelenggara pameran, Kokkang memang organisasi yang sudah sangat dikenal lewat karya-karyanya. Kokkang yang lahir pada 10 April 1981 dan didirikan tiga orang, yakni Darminto M Sudarmo, Itos Budi Santoso, dan Nur Rochim dengan sekretariat di rumah Itos di Kaliwungu, Kendal sudah banyak berkiprah demi Indonesia.

Semula, organisasi ini memiliki nama Komplotan Kartunis Kaliwungu. Namun nama itu diubah menjadi kelompok pada pameran yang pertama, sekitar 1982 di Pendapa Kawedanan Kaliwungu. Ketika itu pameran dibuka oleh Jaya Suprana dan Dr Soewondo PS Art dari Perhimpunan Pencinta Humor Semarang. ”Nama kompolotan dirasa negatif sehingga diganti menjadi kelompok,” kata Ketua Kokkang Totok Haryanto.

Dari tiga orang tersebut, Kokkang terus berkembang. Dari waktu ke waktu anggotanya terus bertambah. Hingga sekarang, anggota Kokkang telah mencapai ratusan orang, baik yang masih aktif maupun yang sudah menggantungkan pena. ”Tidak sedikit anggota Kokkang yang memenangi juara lomba kartun, baik di tingkat nasional maupun internasional. Banyak juga anggota Kokkang yang mendapatkan pekerjaan di media massa, baik di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya,” katanya.

Totok mengatakan, setiap tahun, selalu ada undangan lomba dari mancanegara. Selain Yomiuri Shimbun, juga ada The Manga Cartoon Exhibition Hokaido Japan, Sport Chosun International Cartoon Contest Seoul of Corea, International Cartoonfestival Knokke Heist (Belgia), atau International Nasreddin Hodja Cartoon Contest (Turki). Karya-karya mereka juga menghiasi katalog-katalog kartun dalam dan luar negeri. Dari kampung kecil di Jawa Tengah, Kokkang menjadi duta kesenian Indonesia di mancanegara. Nama Indonesia pun harum bak melati, tanpa mengeluarkan kocek. ”Selain tiga orang pendiri Kokkang, sejumlah kartunis yang terkenal, antara lain Djoko Susilo, Tyud, Tiyok, Wawan Bastian, Muktafin, dan M Nasir. Sebenarnya banyak kartunis yang terkenal,” tutur Totok. Salah satu anggota Kokkang Tahyudin menambahkan, sejumlah kartunis juga banyak yang memberikan pelatihan menggambar kartun generasi muda. Hal itu sebagai bentuk pengaderan kepada anak-anak selaku penerus bangsa. ”Gambar karikatur itu mudah dilakukan dan dicerna maknanya. Hanya dengan satu gambar dan tulisan sudah bisa dipahami pesan yang disampaikan,” jelasnya.

Dia menambahkan, hampir tiap tahun ada saja kartunis dari Kokkang berhasil menggondol juara. Paling tidak, lebih dari 100 penghargaan internasional diraih. Jumlah hadiahnya juga lumayan besar. Kartunis Kokkang sudah mengikuti lomba internasional sejak 1986. ”Sering kali ide muncul ketika kartunis dalam proses berkarya. Dari satu ide, muncul ide lanjutannya. Tematemanya seputar kehidupan sehari-hari. Kartun itu humor yang universal, apa saja bisa diangkat menjadi kartun,” terang dia. (Rosyid Ridho-41)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar