Imam Taufiq: Paham Radikalisme bak Penyakit Menular

SM/Agus Fathuddin Yusuf
SM/Agus Fathuddin Yusuf

Riset Setara Institute merilis hasil penelitian yang menyatakan 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia terpapar paham Islam radikal. Namun kenapa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo tak termasuk yang terpapar? Berikut perbincangan wartawan Suara Merdeka Agus Fathuddin Yusuf dengan Rektor UIN Walisongo Prof Dr H Imam Taufiq MAg.

Banyak pihak berharap UIN Walisongo menguatkan penyebaran dakwah Islam moderat atau wasatiyah seperti Walisongo. Apa pendapat Anda?

Ekspektasi itu sangat wajar. UIN Walisongo punya tanggung jawab kultural dan sosial. Secara kultural, UIN bertugas mengajarkan nilai-nilai Islam moderat, ramah, dan berkeadaban. Tugas itu harus terimplementasi dalam revitalisasi local wisdom serta reinterpretasi khazanah kultural dan reaktualiasi ajaran Walisongo. Secara sosial, jamaah pengamal ajaran Walisongo hidup dengan kearifan dan kebijaksanaan.

Mereka hidup secara harmonis, menginternalisasikan keislaman dengan konteks sosial dan lokalitas. Oleh karena itu, UIN Walisongo perlu berperan strategis membangun poros moderasi di Indonesia secara intensif. Pertama, membangun pesantren komunitas berjejaring.

Pesantren punya peran strategis dalam penguatan kajian Islam dan penguatan karakter. Dalam program ini, kami bekerja sama dengan pesantren di sekitar kampus. Jadi bermanfaat bagi mahasiswa dan berkontribusi bagi masyarakat sebagai bagian dari pengabdian. Pesantren komunitas berjejaring akan menjadi laboratorium sosial agama sebagai inkubator moderasi yang terintegrasi antara kampus, pesantren, dan komunitas. Kedua, membangun moderasipedia. Itu penguatan literasi moderasi digital.

Paparan radikalisme di ruang digital masif dan terstruktur. Upaya konter radikalisme melalui literasi digital masih terbatas. Oleh karena itu, moderasipedia akan kami kembangkan sebagai direktori studi Islam, ruang konsultasi dan tanya-jawab, pengajian online dan konten populis digital lain, melalui Instragram, Youtube, dan media sosial lain.

Apa komentar Anda mengenai hasil penelitian Setara Institute dan lembaga peneliti lain yang menyebut beberapa PTN terpapar paham radikalisme?

Potensi paparan radikalisme itu nyata dan jadi tantangan kita bersama. Ada beberapa faktor penyebab: cara memahami teks yang monointerpretasi, pemahaman hubungan muslim dan nonmuslim, relasi agama dan negara, pemahaman sejarah yang parsial, serta intensifnya pemahaman dan gerakan transnasional di kampus melalui organisasi dan program keagamaan.

Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan perlu mendapat informasi utuh mengenai paparan radikalisme. Karena, siapa pun berpotensi sama terpapar radikalisme. Pemimpin perguruan tinggi semestinya memiliki kesadaran bersama dan bergerak secara berjamaah.

Pada 2017, UIN Walisongo menginisiasi gerakan Rahim Bangsa dengan mengundang seluruh pemimpin perguruan tinggi untuk mendiskusikan dan menyamakan persepsi tentang betapa penting arus besar penguatan semangat kebangsaan dan moderasi untuk menangkal radikalisme di kampus.

Apa tawaran solusi untuk menghindarkan mahasiswa dan anak muda dari radikalisme?

Ada dua program, preventif dan rehabilitasi. Program preventif bertujuan mengantisipasi keterpaparan generasi milineal oleh radikalisme. Pertama, meningkatkan produksi literasi moderasi digital secara masif di ruang digital. Kedua, menggelar ruang perjumpaan dengan kelompok berbeda pemahaman, keyakinan, dan keagamaan.

Ketiga, mengintensifkan peran tokoh agama, masyarakat, dan keluarga dalam pendampingan dengan komunikasi inklusif. Rehabilitasi memberikan terapi psikologis dan religi pada yang sudah terpapar; bisa melalui pesantren atau pusat rehabilitasi khusus.

Sebahaya apakah radikalisme di Indonesia?

Sebahaya penyakit menular yang tak lekas diatasi. Wujudnya ada, tetapi tak terlihat.

Mengapa UIN Walisongo terbebas dari radikalisme? Mungkin konsepnya bisa dikembangkan di perguruan tinggi lain?

Radikalisme ini penyakit akut, laten, dan membahayakan. Semua komponen berpotensi terserang. Jadi semua pihak harus bahu-membahu mengatasi. UIN Walisongo lahir dengan keagungan nama para wali. Kami menjadikan ajaran Walisongo yang ramah, santun, toleran, menghargai keberbedaan — tidak ada kebenaran tunggal, kecuali dari Sang Mahatunggal, cinta tanah air dan bangsa sebagai nilai-nilai luhur yang kami pahami, mengerti, laksanakan, dan desiminasikan ke seluruh warga kampus.

Bagaimana gambaran menurut Alquran mengenai Islam moderat?

Membaca dan memahami Alquran harus menyertakan konteks saat turun ayat-ayat itu agar mendekati makna sesungguhnya. Misalnya, misi Islam menebar damai, kasih sayang, ramah, santun, dan manfaat. Itulah gambaran rahmatan lil alamin, Islam yang kontributif untuk kemanusiaan, menghargai sisi kemanusiaan dengan tidak membedakan dan menganggap salah yang lain. Islam moderat ya Islam rahmatan lil alamin; rahmat, santun, damai, manfaat, kontributif, menjunjung sisi manusia. Dalam bahasa Gus Mus, Islam yang memanusiakan manusia.

Kalau Islam radikal?

Radikal berarti bukan rahmatan lil alamin. Pemahaman berlebihan, literalis, close mind, tidak berempati pada orang atau pandangan lain dan merasa berotoritas, sehingga memaksa dan menghakimi yang berbeda pemahaman. Misalnya, saat membaca Alquran Surah Al-Hajj Ayat 39-40: ìTelah diizinkan berperang kepada mereka yang diperangi, oleh karena mereka sesungguhnya dianiaya, dan sesungguhnya Allah Mahaberkuasa menolong mereka.

Yaitu orangorang yang diusir keluar dari kampungnya dengan tidak ada sesuatu alasan yang patut, kecuali mereka berkata: Tuhan kami adalah Allah.î Atau Surah At- Taubah Ayat 29 dan 55. Jika dipahami dengan perspektif literalis, tanpa mengajak konteks sejarah saat ayatayat itu turun, apalagi dengan menyertakan rasa paling otoritatif dan tidak menghargai pendapat berbada, berakibat terhadap pemikiran atau tindakan radikal.

Bagaimana dengan gerakan radikal yang membawa nama agama atau berlabel syariah?

Islam dibangun di atas empat pilar utama: perdamaian, kasih sayang, kearifan, dan kebaikan. Saya tertarik gagasan Ibn Al-Qayyim, ìSyariat secara keseluruhan adalah keadilan, rahmat, hikmat, dan kebaikan. Oleh karena itu, jika ada suatu aturan (mengatasnamakan syariat) yang menggantikan keadilan dengan ketidakadilan, rahmat dengan lawan, maslahah umum dengan mafsadat, atau pun hikmah dengan omong kosong, aturan itu tidaklah termasuk syariat, sekalipun diklaim demikian menurut beberapa interpretasi.î

Mengapa seolah-olah kini kelompok radikal begitu ofensif dan intensif mengembangkan paham di Indonesia? Bagaimana cara mengatasi?

Itu pekerjaan rumah kita bersama. Saatnya kita bersuara dan membangun kesadaran untuk mengawal bangsa ini dengan karakter asli Nusantara, nilai agama yang ramah. Ofensivitas itu berkesan wajar karena mereka butuh ruang untuk menyemai gagasan dan tindakan tidak di wilayah asli mereka. (28)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar