Pemerintah Fokus Menata Ekosistem Pangan

JAKARTA - Pemerintah memastikan akan menata ekosistem pangan lebih baik sebagai langkah mencegah inflasi sepanjang 2019 melebihi target pemerintah, yakni 3,5%. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengatakan, penataan yang dimaksud adalah pemerintah tidak hanya memperhatikan produksi, tetapi juga memastikan jalur distribusi yang efisien.

Dia menjelaskan, ada beberapa langkah yang sudah disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas inflasi ke depan. Termasuk di antaranya, menyiapkan gudang untuk beberapa komoditas rentan, seperti yang mudah busuk. ”Hal ini dipersiapkan lebih matang,” ujar Suhariyanto, seusai rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (11/7).

Dia menjelaskan, ada beberapa komoditas yang menjadi perhatian pemerintah. Salah satunya cabai merah yang mengalami kenaikan harga dan berkontribusi terhadap inflasi bulan Juni hingga 0,20%. Selain itu, aneka sayuran yang berkontribusi 0,01%. Suhariyanto menyebutkan, komoditas dan produk lain terbilang masih terkendali. Misalnya, tiket pesawat yang justru mengalami deflasi sebesar 0,14% pada Juni lalu sebagai dampak dari penurunan tarif batas atas (TBA). Hal ini menyebabkan kontribusi transportasi pada deflasi sebesar 0,03%. Dengan adanya kebijakan penurunan harga tiket pesawat, Suhariyanto menilai, akan membantu menstabilkan inflasi meskipun hanya berlaku pada low cost carrier (LCC) di penerbangan hari dan jam tertentu. ”Penurunan TBA saja sudah menyumbangkan deflasi, ini sinyal bagus. Mudahmudahan ke depan lebih bagus,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga akan memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dengan daerah melalui TPID. Penataan ekosistem itu diharapkan mampu berdampak positif terhadap masyarakat, yakni harga di konsumen juga akan jadi lebih rendah dan terjangkau. Namun, Suhariyanto menilai, pemerintah masih menilai bahwa tingkat inflasi masih terkendali sampai saat ini. Hingga Juni, tingkat inflasi secara tahunan atau year on year (yoy) sebesar 3,28%, berada di bawah target pemerintah, 3,5%. Sementara itu, Kepala Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), Budi Waseso memastikan, produksi beras sampai saat ini masih terkendali. Optimisme itu disampaikannya di tengah potensi kekeringan akibat musim kemarau. Budi menegaskan, tingkat penyerapan juga masih aman. Dia memprediksi sampai Desember, Bulog akan menyerap satu hingga 1,5 juta ton beras dari petani. (bn,J10-46)


Loading...
Komentar