Garam Melimpah, Buruh Dapat Berkah

SM/Antara, Mulyanto Ari Wibowo - KELUHKAN HARGA: Petani memanen garam di Desa Tanjakan, Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (10/7). Sementara pemadak atau buruh garam mengumpulkan kristal garam di lahan tambak Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori, Rembang. Mereka mengeluhkan harga garam yang terus menurun di pasaran.(24)
SM/Antara, Mulyanto Ari Wibowo - KELUHKAN HARGA: Petani memanen garam di Desa Tanjakan, Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (10/7). Sementara pemadak atau buruh garam mengumpulkan kristal garam di lahan tambak Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori, Rembang. Mereka mengeluhkan harga garam yang terus menurun di pasaran.(24)

REMBANG - Kemarau tidak hanya mendatangkan bencana kekeringan. Bagaikan dua sisi mata uang, kemarau juga mendatangkan berkah bagi sebagian masyarakat. Salah satunya, berkah bagi sebagian warga Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang.

Selama kemarau, bermunculan lahan-lahan garam di wilayah barat Kabupaten Rembang itu. Ketika lahan-lahan garam bermunculan, muncullah banyak lapangan pekerjaan bagi warga yang tidak memiliki lahan.

Mereka bisa menjadi pemadak atau buruh garam. Lilik, salah satu petani garam di Desa Purworejo mengatakan, dalam dua pekan terakhir, dia mengaktifkan lahan garam. Karena itu, dia mempekerjakan tak kurang 17 pemadak untuk mengelola lahan garam yang tersebar di Desa Purworejo, Karang Sekar, dan Tasikharjo.

”Para pekerja datang dari berbagai desa di Kecamatan Kaliori, seperti Sidomulyo, Rumbutmalang, Karangsekar, Karangudi, dan Pengkol,” ungkapnya. H Rasmani, tokoh garam Kecamatan Kaliori mengatakan, setiap hektare lahan garam membutuhkan dua hingga tiga pemadak.

”Setiap pemadak mendapatkan upah minimal Rp 100 ribu/hari,” ungkapnya. Padahal, di Kabupaten Rembang, luas lahan garam mencapai 1.600 ha sehingga jumlah pemadak yang ditampung di tambak garam mencapai 5 ribu orang. ”Belum termasuk pekerja lain, seperti tukang angkut. Perputaran ekonominya cukup tinggi dari lahan garam,” kata dia.

Kualitas Tinggi

Berkah kemarau juga dirasakan para petani tembakau di Kabupaten Temanggung. Mereka tengah menanti panen tembakau yang menjadi komoditas unggulan di lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau itu. Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Temanggung Noer Ahsan mengatakan, kemarau merupakan berkah bagi petani tembakau. Jika kondisi tanpa hujan bisa bertahan hingga panen, maka kualitas tembakau akan menjadi baik.

Bahkan, kualitasnya sangat tinggi dibanding masa panen 2018. ”Berdasar pengamatan kami di ladang-ladang tembakau di lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau, secara umum kualitas tanaman tembakau tahun lebih baik. Petani berharap, cuaca akan tetap bagus hingga akhir panen,” ujarnya kemarin.

Tanaman tembakau hanya membutuh air pada saat sebelum masa tanam. Pada masa pertumbuhan, tanaman hanya butuh air sesekali dan selanjutnya tidak terlalu butuh air. Kemarau panjang membuat mingsri (kadar nikotin dan tar) menjadi tinggi sehingga kualitas tembakau Temanggung menjadi baik.

Berbeda jika hujan turun terus-menerus, tanaman tembakau pasti akan busuk dan mati hingga terserang jamur. Petani harus menyulam (menanam kembali) menggunakan tanaman baru secara berulang sehingga biaya membengkak. ”Sejauh ini kondisi cuaca cukup bagus, kemarau panjang. Keadaan ini membuat kualitas tanaman membaik di mana ciri khas tembakau Temanggung ada pada kadar tar dan nikotin yang tinggi sehingga cocok untuk produksi rokok kretek,” katanya.

Dari segi harga, petani berharap bisa tinggi bahkan lebih baik dibanding pada 2018. Harga tembakau tahun lalu paling rendah Rp 30.000-Rp 35.000/kg. Harga tembakau srintil dengan grade G Rp 400.000/kg. ”Untuk panen perdana tembakau akhir Juli, terutama di lahan yang berada di lereng Gunung Prau. Namun secara umum di wilayah lainnya, panen pada Agustus,” katanya. (H19,K41-41)


Berita Terkait
Loading...
Komentar