Pintar dan Terampil dari Rumah

Arthur memang tidak setiap hari sibuk menyiapkan menu makanan yang dijual preorder. Bocah berusia 11 tahun yang mengikuti jalur homeschooling atau sekolah dari rumah dua tahun terakhir itu terlihat senang dalam kegiatan masak-memasak.

SANG ibu, Devita Riska C, sudah melihat bakat dan potensi itu sejak si anak bungsu kelas II sekolah dasar (SD). Ya, Arthur memang pernah mencicipi bangku sekolah formal. Namun akhirnya Devita memutuskan dia berhomeschooling dengan berbagai pertimbangan. ”Banyak sekali PR dan tugas. Saya lebih suka melihat dia belajar secara santai. Arthur punya ketertarikan khusus pada memasak dan ingin skill itu lebih terasah,” ujar Devita, yang bekerja sebagai penerjemah dan guru bahasa Inggris itu, kemarin.

Kebanyakan orang tua, kata dia, mengirim anak-anak ke lembaga ”berjudul” homeschooling. Bukan murni di rumah. Devita pun mendaftarkan Arthur di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) untuk kesetaraan kejar paket A, B, dan C atau setara SD, sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA). ”Semua anak di Indonesia harus teregistrasi di dinas pendidikan. Salah satu jalur bisa melalui PKBM. Ada jadwal, bisa datang setiap hari. Namun lebih fleksibel dan tidak terlalu mengikat. Hanya waktu semesteran atau kenaikan harus datang untuk ujian,” kata ibu tiga anak itu.

Dua kakak Arthur, Jasmine (15) dan Bram (13), pada tahun ajaran baru nanti sudah didaftarkan ke PKBM dan berhomeschooling pula. Tentu mereka sudah melewati sekolah formal. Jasmine, misalnya, baru saja lulus dari SMP negeri. Adapun Bram lulus SD. Jika Orang tua sebagian besar siswa homeschooling lebih banyak di rumah, tidak dengan Devita.

Dia lebih banyak beraktivitas di luar kota. Sebagai orang tua tunggal, dia butuh keluwesan. Dia pun membiasakan anak-anak memiliki jadwal jelas dan target pencapaian. ”Pagi Arthur belajar dengan guru privat. Naik sepeda ke rumah guru. Saya kasih waktu belajar akademis sehari cuma dua jam. Ada jadwal lain di rumah, seperti literasi atau membaca. Saya kasih majalah dan buku pilihannya,” katanya.

Butuh Komitmen

Homeschooling, tutur Devita, membutuhkan komitmen dan disiplin keluarga, baik orang tua maupun anak. Jadwal tiga bulan dibuat dengan kesepakatan; anak memiliki target pencapaian dalam tiga bulan. Jadwal dibuat sejak bangun tidur dan aktivitas rumah lain untuk membiasakan mengasah life skill. Arthur, misalnya, walau belum belajar ke sekolah memasak khusus secara serius, diberi kurikulum ringan untuk memasak.

Yang membanggakan, dari minat dan bakat memasak itu Arthur sekaligus belajar berbisnis membuat berbagai masakan. Entah makaroni skutel, apple pie, atau aneka penganan lain. Kesibukan itu menghasilkan rupiah. Namun orientasinya bukan nilai uang atau untung, melainkan bagaimana anak bisa belajar bertanggung jawab. Selain bisa belajar menghitung untung atau rugi, Arthur belajar berbagi keuntungan dengan orang-orang yang membantu. Kelak Arthur akan diikutkan semacam magang kerja, membantu sebuah kedai masakan Tionghoa untuk mengasah keterampilan. ”Jika dalam satu hari ada pesanan, dia bisa disiplin bangun pukul berapa, persiapan masak, terus mengirim atau diambil pukul berapa. Semua harus terjadwal,” ujar Devita, yang memiliki bisnis kopi itu.

Putri sulung, Jasmine, atlet hoki, pernah belajar bekerja sebagai barista di usaha kopinya. Juga Bram yang condong berkutat dengan programming dan coding. Dia bertekad mengasah dan mengembangkan minat dan ketertarikan anak-anak itu, apa pun bidang masingmasing. ”Akademis tetap penting. Mereka kelak juga akan kuliah sesuai dengan minat dan ketertarikan. Namun pasti orang tua harus terus memantau progress mereka seperti apa,” katanya.

Langkah mengembangkan minat dan bakat anak lewat kursus atau sekolah memasak juga bisa dilakukan orang tua. Pemilik Velvet Cake, Febby Natalia, misalnya, sering membuka kelas menghias cupcake saat liburan sekolah. Sejak tiga tahun lalu, dia melakukan hal itu dengan mengajak anak untuk melatih kreativitas, terutama membuat atau menghias cupcakes dengan buttercream dan fondan. ”Hiasannya unik. Anak-anak menerjemahkan sesuai dengan daya imajinasi masing-masing. Kami terus melatih kreativitas anak sesuai dengan minat dan ketertarikan mereka terhadap suatu hal,” ucap Febby. (Modesta Fiska-28)


Berita Terkait
Loading...
Komentar