Puasa Penyeimbang Dunia-Akhirat

Cover Kitab Tafsir Al Iklil
Cover Kitab Tafsir Al Iklil

ORIENTASI kehidupan dunia dan akhirat sangat perlu diseimbangkan. Sebab masih banyak umat Islam yang mengutamakan kehidupan dunia dan mengesampingkan urusan akhirat. Karena itu, Ramadan hadir sebagai pengingat tentang arti penting kehidupan akhirat lewat puasa.

Puasa yang diwajibkan selama satu bulan menjadi motivasi bagi umat Islam untuk melaksanakan amal saleh. Esensi takwa yang menjadi tujuan dari puasa Ramadan ini, bukan semata-mata hanya berhenti setelah Ramadan berakhir. Justru nilai ketakwaan itu akan menjadi bertambah pada bulan selain Ramadan. Dalam Tafsir Al Iklil fi Ma'anit Tanzil karya KH Misbah Zainul Mustofa dijelaskan: ''Berdasarkan ayat (Surat Al Baqarah: 183) dapat diketahui tujuan orang diperintah puasa itu agar menjadi bertakwa.

Yang demikian agar menjadi pikiran utama semua orang Islam. Jadi setelah selesai puasa sebulan, apakah bisa berhati-hati dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya atau tidak''. Sebab biasanya, tingkat kesalehan umat Islam di dalam Ramadan menjadi ritual-insidental. Saat Ramadan, amal saleh meningkat.

Begitu Ramadan selesai, kegiatan amal saleh kembali berkurang. Inilah yang menjadi catatan bagi KH Misbah Zainul Mustofa: ìKetika tidak bisa tambah berhati-hati mempertahankan takwa, maka orang itu masuk yang disebutkan Rasulullah (sia-sia puasanya).î Nabi Muhammad Saw mengingatkan dalam hadits Imam Nasa'i: ìBanyak sekali orang yang puasa, akan tetapi tidak dapat mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahagaî. Ini menunjukkan bahwa puasa di dalam bulan Ramadan yang dapat menahan nafsu syahwat harus tetap dipertahankan di luar Ramadan. Inilah yang disebut sebagai bagian terpenting dalam hidup untuk menyeimbangkan dunia dan akhirat. Urusan dunia memang tidak bisa ditinggalkan karena memang manusia hidup di dunia dan bersentuhan langsung dengan urusan dunia. Sedangkan sebagai insan beragama, maka urusan akhirat menjadi investasi masa depan. Puasa menjadi salah satu skema ibadah yang mencoba mencari solusi tentang penyeimbangan dua urusan itu. Sebab puasa dijalankan di dunia sebagai bukti solidaritas kemanusiaan. Untuk urusan akhirat terlihat dari ketaatan menjalankan ibadah dengan lapar dan dahaga sehari penuh.

Yang terpenting adalah usaha menahan hawa nafsu selama satu bulan itu tidak dilepas lagi setelah Ramadan berakhir. Keberhasilan Ramadan sebulan penuh akan menjadi bernilai positif apabila selesai Ramadan hingga bertemu Ramadan lagi tetap mampu menjaga hawa nafsu agar tidak melanggar perintah Allah. Cara inilah yang menjadi sebuah identitas kesuksesan Ramadan, yakni menjadi muslim sejati yang mempertahankan takwa selama satu tahun (tidak hanya di bulan Ramadan saja). Kalau itu berhasil, otomatis, urusan dunia dan akhirat akan berjalan bersama serta surga menjadi tempat tinggal abadi. (41)

— M Rikza Chamami MSi, pengasuh Pondok Pesantren Al Firdaus YPMI Semarang dan Majelis Ulama Indonesia Kota Semarang


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar