Rumah Adat Kudus, Riwayatmu Kini

Reproduksi Joglo Penchu Telan Rp 7,5 Miliar

SM/Prayitno : KAYU JATI: Jagasatru (ruang tamu) omah Joglo Penchu dengan gebyok dan plafon dari kayu jati berukir yang rumit.(24)
SM/Prayitno : KAYU JATI: Jagasatru (ruang tamu) omah Joglo Penchu dengan gebyok dan plafon dari kayu jati berukir yang rumit.(24)

Tidak mudah mencari rumah adat Kudus, Joglo Penchu, yang orisinal dan kualitasnya bagus di Kota Kudus saat ini. Sejumlah Omah Joglo Penchu asli dan kualitasnya kelas atas, justru terselamatkan dan berada di kota lain.

BISA jadi beberapa orang yang ingat dulu ada dua unit omah joglo penchu yang kelasnya tergolong istimewa, tak hanya berpindah tangan, tetapi juga berganti tempat.

Tidak di wilayah Kudus, namun didirikan kembali di Yogyakarta. Itulah Joglo Penchu yang telah di-branding sebagai rumah probosutedjan. Tak mengada- ada penamaan itu, toh secara historis dua unit omah Joglo Penchu tersebut secara historis tetaplah rumah adat Kudus. Tak sulit dipahami disebut sebagai rumah probosutedjan, karena pemiliknya adalah Probosutedjo yang merupakan salah satu sepupu mantan Presiden Soeharto.

Pada tahun 2000-an, dengan memanjat pagar tembok, Suara Merdeka mengintip dua omah joglo penchu itu di probosutedjan. Seorang teman yang rumahnya berdampingan dengan joglo penchu itu menginformasikannya.

Letaknya di utara ruas jalan, belasan meter barat Alun-alun Kidul Yogyakarta. Sebagaimana di tempat aslinya di Kudus, dua unit joglo penchu di probosutedjan itu berdiri berdampingan dan menghadap ke selatan. Karena tertutup pagar tembok tinggi, publik tidak bisa menikmatinya. Berbeda dari satu unit joglo penchu yang dibeli Harian Kompas, dan didirikan kembali dalam kompleks Purna Budaya, Jakarta.

Khalayak bisa leluasa menikmatinya, apalagi sering menjadi tempat kegiatan budaya. Itu belum terhitung puluhan joglo penchu orisinal yang kualitasnya setara yang dimiliki Probosutedjo dan Kompas, yang tersebar di sejumlah kota besar dan bahkan luar negeri, yang sulit terlacak siapa saja kini pemiliknya.

Masih adakah joglo penchu dengan kualitas sama dan tetap berdiri tenang di tempat aslinya?

Belum punah sama sekali, memang. Hanya jumlahnya tak lebih dari jari tangan. Karena pelbagai alasan, akhirnya memang joglo penchu yang kualitasnya bagus, terpaksa berpindah kepemilikan dan hijrah ke daerah lain.

Antara lain tawaran yang nilainya menggiurkan, di samping karena ahli waris yang memiliki hak miliknya telah menjadi puluhan orang. Salah satu joglo penchu kualitas atas dan terselamatkan di tempatnya hingga kini yakni terdapat di kawasan Kudus Kulon. Hanya sejengkal dari bangunan peninggalan sejarah, Menara Kudus. Menghadap ke selatan, sehingga bila dilihat dari arah halaman barat Menara, berkesan membelakangi kompleks Menara itu. Pada kisaran 2000-an Suara Merdeka mendapat informasi, seseorang asal Surabaya telah menawar rumah yang hak waris sejumlah orang tersebut sebesar Rp 3,5 miliar. Namun, baru sekitar setahun lalu, akhirnya joglo penchu itu dilepas seharga Rp 12 miliar.

Siapa pembelinya?

Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK). Saat mengantar rombongan tamu yang tengah berziarah ke makam Sunan Kudus Raden Djakfar Sodiq dan berkesempatan melihat-lihat joglo penchu itu, Ketua YM3SK H Najib Hassan mengakui telah mengambilalihnya. Namun, ia enggan menyebut nilai yang pasti. ‘’Belum terpikirkan rencana detail, rumah ini akan kami buat dan fungsikan seperti apa. Tetapi, yang jelas, apa pun bentuknya, kami tidak akan meninggalkan budaya dan kesejarahan omah joglo penchu,’’ tutur Najib.

Bagaimanapun, dengan telah terbelinya joglo penchu kualitas atas itu, berarti simbol budaya warga masyarakat Kudus terselamatkan, khususnya strata sosial priyayi Kudus Kulon.

Lengkap Gedhongan

Najib menunjukkan bangunan kulah (kamar mandi) yang terdapat di halaman depan joglo penchu itu. ‘’Sayang, kulah ini telah direhab menjadi tidak seperti dulu lagi. Maka ini perlu saya ubah, dikembalikan ke bentuk aslinya,’’ ujarnya.

Berbeda dari genteng rumah adat tersebut, meski diganti baru, namun modelnya masih seperti sediakala. Joglo penchu berukuran (muka) 20 meter dan lebar 10 meter itu, tak seluruh temboknya terbuat dari kayu jati memang.

Tembok samping dan belakang merupakan tembok bata merah yang diplester. Tetapi, bagian-bagian ruangan rumah yang terletak di samping Menara itu penuh menggunakan kayu jati, dan berukir yang di bebera bagian merupakan ukir tiga dimensi. Tak sedikit omah joglo penchu yang secara keseluruhan menggunakan material jati, kecuali lantai bagian jagasatru (ruang tamu) serta tritis (teras) yang menggunakan tegel. Joglo penchu milik YM3SK, bisa jadi kini satu-satunya rumah adat Kudus, yang paling lengkap yang masih setia berdiri di tempatnya di Kudus Kulon. Tak hanya penuh ukir yang rumit pada tiang dan gebyog di ruangan jagasatru, tetapi plafon dengan model kayu rusuk yang terekspose juga terbuat dari jati. Begitu pula bagian pawon (ruangan dapur). ‘’Ini lantai njero (ruangan dalam rumah) juga dari jati,’’ Najib menunjukkan.

Dan di ruangan dalam tersebut, yakni tepat berada di bawah tumpangsari (plafon berundak berukir indah), terdapat gendhokan (kamar utama). Dindingnya terbuat dari jati, juga tempat tidur dengan model empat tiang meninggi yang fungsinya untuk menggantung kain kelambu. Nilai artistik dan terus lenyapnya joglo penchu dari pemilik semula, pada gilirannya mendorong usaha gebyog kudusan bermunculan. Pesanan hanya bagian-bagian tertentu dari omah joglo penchu, untuk memenuhi keinginan beroleh kesan khas rumah adat Kudus, pun dilayani oleh para perajin. Tidak mesti harus dalam bentuk rumah secara utuh. ‘’Saya sampai sekarang malah belum pernah mendapat pesanan untuk membuat joglo penchu secara utuh. Kadang hanya gebyok saja, atau gebyog dan lawang (pintu) juga. Atau kadang juga hanya untuk kusen dan pintunya saja,’’ kata pengukir kudusan, Muhammad Bibit (40).

Pengusaha gebyog kudusan, Soleh Farid (56) mengakui yang laris manis hanya untuk bagian-bagian tertentu joglo penchu. ‘’Kalau joglo penchu reproduksi dengan kayu jati produksi Perhutani seukuran 20 x 10 meter, harganya bisa sampai Rp 7,5 miliar,’’ jelasnya.

Soleh menyebutkan, untuk menggarap joglo penchu lengkap berukuran tersebut dengan enam tukang khusus ukir dan empat tukang kayu konstruksi/umum, butuh waktu setahun. ‘’Tidak mudah. Rumit untuk membangun omah joglo penchu yang halus dan detail. Persis seperti kuno, sistem knock down (bongkar pasang), pasaknya pun khusus menggunakan bambu bagian ruas yang paling bawah,’’ jelas Soleh. (Prayitno-19)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar