”Si Topi Putih” di Belakang KPU

Dukungan Hacker Baik Hati Diapresiasi

SM/Antara : PROSES PENGHITUNGAN : Pekerja memasukkan data ke Sistem Informasi Penghitungan (Situng) DKI Jakarta di Hotel Merlyn Park, Jakarta, baru-baru ini. (55)
SM/Antara : PROSES PENGHITUNGAN : Pekerja memasukkan data ke Sistem Informasi Penghitungan (Situng) DKI Jakarta di Hotel Merlyn Park, Jakarta, baru-baru ini. (55)

JAKARTA -Sistem teknologi informasi (TI) KPU jadi sasaran serangan para hacker. Mereka berupaya mengacaukan hasil pemilu yang tengah diproses. Sejauh ini, KPU masih mampu bertahan.

Hal itu ternyata juga berkat bantuan hacker di belakang KPU. KPU mengakui ada ratusan hackeryang mencoba meretas sistem TI mereka. Percobaan peretasan itu bahkan terjadi setiap hari. Namun, selain hackerjahat, ternyata ada juga hackerbaik hati. Sementara hacker jahat berada di seberang untuk menyerang KPU, hackerbaik hati ini berada di sisi KPU memberikan informasi-informasi yang berguna dan memperkuat ‘benteng pertahanan’. ”Serangan ada, namun alhamdulillah, baik KPU maupun berbagai pihak terkait, terlebih unsur termasuk teman hacker yang berbaik hati membantu kami memberikan masukan dan memberikan saran. Kami apresiasi,” kata Komisioner KPU Viryan Aziz di gedung KPU, Jakarta.

KPU bahkan pernah mengundang para hacker datang ke KPU. Awak KPU kemudian memberikan penjelasan tentang kinerja mereka. Viryan yakin orang-orang pintar itu bisa mengerti bahwa KPU tidak berbuat curang dalam menjalankan tugas sehingga tak perlu ada peretasan yang merugikan KPU. ”Poinnya adalah kami ingin sampaikan beberapa pihak teman-teman yang memiliki keahlian, kemampuan TI, atau hackingyang sedang KPU lakukan. Ini adalah penentuan nasib bangsa. Kalau teman-teman hackers menduga macammacam, bisa datang ke kami. Kami akan jelaskan gambaran kerja kami,” tutur Viryan.

Bila pun ada anggapan KPU berbuat curang, kata Viryan, sebenarnya itu bukan suatu bentuk kesengajaan, melainkan karena kesalahan. Bila saja ada niat curang, kecurangan bakal dilakukan dengan cara mengubah C1 yang berisi catatan penghitungan suara. Namun kasus seperti itu tidak ditemukan. Justru yang ditemukan adalah kesalahan entri dari C1 ke aplikasi sistem penghitungan suara (situng) KPU. Viryan juga meminta para hacker segera menghentikan upaya meretas sistem KPU. Viryan mengingatkan bahwa kegiatan yang dijalankan sistem KPU saat ini menentukan nasib Indonesia ke depan.

”Kami ingin sampaikan beberapa pihak, teman-teman yang bisa kemampuan TI atau hacking. Yang sedang KPU lakukan ini adalah menentukan nasib bangsa. Kalau teman-teman hackersmenduga macam-macam, bisa datang ke kami. Kami akan jelaskan gambaran kerja kami. Insya Allah teman-teman itu sudah tahu bahwa proses Situng ini proses baik,” katanya.

Komisioner KPU yang lain Hasyim Asy’ari memastikan hingga saat ini sistem TI KPU masih aman dari peretasan. Dia mengatakan KPU sendiri memiliki tenaga TI profesional yang bisa mengatasi. ”Ya alhamdulillah, Tuhan masih lindungi KPU. itu berkat tenaga TI KPU yang adalah anak bangsa dari seluruh Indonesia, ada dari kampus, ada dari profesional,” ucap Hasyim.

Terpisah, Kepala Teknis Unit Pelaksana Teknis (UPT) Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, Fahri Firdaus Sillah mengatakan, secara umum hacker dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, black hat (topi hitam), ini merupakan hacker yang suka merusak, atau biasa disebut cracker. Kemudian grey hat (topi abu-abu), yang hanya sekadar iseng-iseng ingin mengetahui kelemahan suatu sistem. Ketiga, yakni white hat (topi putih) yang suka membantu. Biasanya, setelah dia mengetahui ada kelemahan dalam sebuah sistem, dia melaporkannya kepada pemilik secara personel.

Harapannya, dapat segera diperbaiki, sehingga tidak dimanfaatkan pihak lain. ‘’Di luar negeri, banyak yang memperkerjakan white hat. Jadi dia sengaja dibayar perusahahaan untuk mengetahui kelemahan sebuah sistem perusahaan tersebut.

Bayarannya lumayan antara 199- 1900 dolar AS dalam sebulan. Atau dalam rupiah Rp 3 juta sampai Rp 27 juta perbulan,’’ ungkap Fahri. Sedangkan black hat bisanya diperkejakan oleh pihak-pihak yang sedang bersaing dengan sebuah perusahaan tertentu. Sedangkan grey hat, hanya iseng-iseng untuk mencari popularitas. Dia menjelaskan, sebenarnya hacker merupakan istilah bagi orang yang pintar mengotak atik sistem.

Makna positifnya, yakni mengimprovisasi sistem. Hacker merupakan orang yang mempelajari, menganalisis, memodifikasi, menerobos masuk ke dalam komputer dan jaringan komputer. Sedangkan cracker sebutan untuk mereka yang masuk ke sistem orang lain. Cracker lebih bersifat destruktif, biasanya di jaringan komputer, mem-bypass password atau lisensi program komputer. Secara sengaja melawan keamanan komputer dan mencuri data dari sistem. ‘’Mungkin ada hacker yang sekadar penasaran mencoba melihat dan ingin mengetahui kelemahan sistem KPU. Mungkin juga ada yang sengaja mencari keuntungan tertentu.”(K18,dtc-56)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar