Ancaman Serangan Baru

SM/Antara : BERJAGA : Polisi berjaga di depan rumah keluarga tersangka pemboman setelah serangkaian serangan bom di Colombo, Sri Lanka, Kamis (25/4). (55)
SM/Antara : BERJAGA : Polisi berjaga di depan rumah keluarga tersangka pemboman setelah serangkaian serangan bom di Colombo, Sri Lanka, Kamis (25/4). (55)

KOLOMBO -Situasi di Sri Lanka nyaris lumpuh setelah muncul ancaman serangan baru yang menyasar layanan peribadatan, Kamis (25/4) kemarin.

Para pemimpin muslim mendesak agar ibadah shalat Jumat dibatalkan. Sementara itu pejabat Gereja Katolik telah menangguhkan seluruh misa sepanjang akhir pekan ini. Para pejabat setempat menyatakan, aparat masih berupaya memburu satu orang yang diyakini membawa bom. Polisi menyatakan, sejauh ini terdapat 76 orang yang telah ditangkap untuk diperiksa terkait rangkaian pengeboman pada Minggu lalu. Sebuah surat yang beredar di kalangan pejabat keamanan mengatakan ada ”informasi yang dapat dipercaya”

bahwa National Thowheeth Jamaath, kelompok Islam radikal yang diduga melakukan pengeboman pada hari Minggu, sedang merencanakan serangan lain ”yang secara khusus menargetkan tempat-tempat suci kelompok sufi.” Beberapa pejabat mengkonfirmasi keaslian surat itu. Sementara itu Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe, mengatakan bahwa pasukan keamanan sedang memburu orang-orang yang diyakini merencanakan lebih banyak serangan teroris. Ancaman serangan baru ini muncul di tengah perselisihan antarpejabat terkait siapa yang harus disalahkan atas hilangnya serangkaian peluang untuk mencegah pengeboman yang menewaskan lebih dari 350 orang di sejumlah gereja dan hotel di tiga kota di Sri Lanka. Presiden Maithripala Sirisena menyangkal dia bertanggung jawab atas kurangnya respons terhadap peringatan intelijen terkait serangan terhadap gereja.

Dia, kemarin, mendesak Kepala Kepolisian Sri Lanka Pujith Jayasundara dan Menteri Pertahanan Hemasiri Fernando untuk mengundurkan diri lantaran dianggap yang paling bertangga jawab. Sejauh ini belum ada konfirmasi apakah kedua pejabat keamanan itu menuruti desakan sang presiden. Jauh hari sebelum rangkaian serangan bom, pemerintah Sri Lanka telah terbelah. Hal ini diduga turut berkontribusi pada kegagalan keamanan.

Wickremesinghe yang merupakan saingan presiden, mengeluh bahwa dia tidak diizinkan untuk menghadiri pertemuan keamanan sebelum serangan sehingga tidak mengetahui adanya ancaman. Kekhawatiran akan serangan baru muncul sehari setelah Duta Besar Amerika Serikat memperingatkan kemungkinan adanya rencana teroris. Biro Penanggulangan Terorisme Israel, Kamis (25/4) kemarin, mengeluarkan peringatan perjalanan level 2. Peringatan ini merupakan peringatan tertinggi kedua yang menyatakan adanya ”ancaman nyata yang tinggi” di Sri Lanka. Akibat adanya ancaman ini, sejumlah jalanan di ibu kota Sri Lanka ditutup, kemarin.

Bank sentral dan sejumlah perkantoran di Kolombo untuk sementara waktu juga tidak beroperasi. Polisi, kemarin, menutup jalan menuju bandara internasional utama di Negombo untuk memburu sebuah mobil yang dicurigai. Ledakan kecil dilaporkan terjadi di sebuah kota sekitar 20 mil sebelah timur Kolombo, tetapi tidak ada yang terluka. Polisi menangkap tiga orang dengan lebih dari 20 bahan peledak seperti granat dan enam pedang, lapor kantor berita setempat.

Otoritas penerbangan sipil Sri Lanka mengatakan, mereka melarang penggunaan drone karena masalah keamanan yang berkelanjutan. Dengan adanya peringatan terkait ancaman serangan di Kolombo, banyak warga yang memilih berdiam diri di rumah, kemarin.

Mal Liberty Plaza, salah satu yang terbesar di kota itu, sepi. Banyak toko tutup. Beberapa yang buka tanpa pembeli. Banyak warga mengaku merasa tidak nyaman. ”Saya tidak tahu harus makan apa, saya tidak tahu kapan harus makan, seluruh tubuh saya gemetar,” kata Indika Manamperi, pemilik dua restoran di food court.

Manamperi mengatakan dia dulu adalah mayor di Angkatan Darat Sri Lanka dan merasa benar-benar kehilangan semangat oleh serangan teror. ”Ada cukup mandi darah selama 30 tahun terakhir dan lagi-lagi anak-anak kita harus menghadapi hal yang senada?” katanya merujuk pada perang saudara yang panjang di negara itu yang berakhir satu dekade lalu. Dia mengaku semakin tertekan lantaran para politikus Sri Lanka justru saling melempar tanggung jawab.

Sempat Ditangkap

Serangan hari Minggu terjadi setelah serangkaian kesalahan langkah oleh pihak berwenang. Hanya beberapa bulan yang lalu, pihak berwenang menangkap dan kemudian membebaskan salah satu pelaku bom bunuh diri. Seorang pejabat senior pemerintah, kemarin, mengatakan bahwa orang yang ditangkap adalah Ilham Ibrahim, putra seorang pengusaha rempah yang kaya.

Menurut para pejabat, saudara Ibrahim, Inshaf, juga meledakkan diri dalam serangan Minggu lalu, sementara ayahnya, Mohammad Yusuf Ibrahim, saat ini telah ditahan dan diinterogasi. Dikatakan, para pejabat intelijen India telah memperingatkan rekan-rekan mereka di Sri Lanka mengenai ancaman serangan itu pada 4 April lalu. Peringatan itu ditindaklanjuti dengan pengiriman memo ke sejumlah badan keamanan Sri Lanka pada 11 April. Dalam memo itu diuraikan dengan sangat rinci ancaman bom bunuh diri di gereja-gereja, dengan nama, alamat, dan nomor telepon para tersangka. Sayangnya tidak banyak pejabat Sri Lanka yang memperhatikan memo itu. Tak hanya itu, peringatan juga disampaikan oleh intelijen India beberapa jam sebelum serangan. Namun lagi-lagi peringatan itu diabaikan.

Hal ini memantik kritikan tajam dari sejumlah pihak termasuk para pejabat pemerintah, korban selamat, dan Kardinal Malcolm Ranjith. Hingga kemarin para penyelidik masih mendalami kemungkinan peran kelompok militan Islamic State (IS) dalam serangan pada Hari Paskah tersebut.

Kelompok itu pada Selasa lalu merilis video yang menunjukkan Mohammed Zaharan, pemimpin National Thowheeth Jamaath, beserta sejumlah pria berpenutup muka tengah memproklamirkan kesetiaan mereka kepada IS. Zaharan diyakini sebagai salah satu pelaku bom bunuh diri. Kendati demikian rekam jejak National Thowheeth Jamaath yang belum pernah melancarkan serangan besar memunculkan pertanyaan terkait kemungkinan adanya bantuan asing dan keterlibatan IS dalam serangan Minggu lalu. Para pejabat mengatakan, seluruh pengebom merupakan warga Sri Lanka.

Sebagian besar di antara mereka berasal dari keluarga kelas menengah dengan pendidikan tinggi yang memadai. Dua di antara pengebom itu adalah putra pengusaha rempah Mohammad Yusuf Ibrahim, yaitu Ilham Ahmed Ibrahim dan Imsath Ahmed Ibrahim.

Para pejabat, kemarin, mengatakan, Ibrahim telah ditangkap dengan tuduhan membantu kedua putranya melancarkan serangan. Seorang perempuan, yang diduga merupakan istri salah satu putra Ibrahim, juga meledakkan diri saat vila yang duhini digeledah polisi pada Minggu lalu. Selain menewaskan dirinya sendiri serta dua putranya, ledakan itu juga menewaskan sejumlah polisi. Ilham Ahmed Ibrahim meledakkan sebuah alat di hotel Cinnamon Grand di Kolombo. ”Dia adalah pengebom bunuh diri dari serangan bom Cinnamon Grand yang dibebaskan sebelumnya,” kata para pejabat.

Juru bicara kepolisian Ruwan Gunasekera mengatakan, selain Ibrahim aparat juga menahan semua anggota keluarga Ibrahim lainnya yang diketahui polisi. CNN belum dapat menghubungi Mohamed Yusuf Ibrahim atau anggota keluarganya yang lain untuk berkomentar.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe mengatakan para tersangka pelaku pengeboman berasal dari kelas atas dan menengah, berpendidikan tinggi di luar negeri. Hal ini menurutnya ”mengejutkan”.

Dia menambahkan bahwa beberapa dari mereka berada di bawah pengawasan menjelang serangan, tetapi tidak ada bukti ”cukup” untuk menahan mereka. Sementara itu, penyelidikan kriminal internasional meningkat di Sri Lanka. Enam agen polisi asing dan Interpol membantu polisi setempat, termasuk Scotland Yard dari Inggris dan FBI dari AS. Petugas dari Departemen Investigasi Kriminal (CID) dan Departemen Investigasi Terorisme (TID) Sri Lanka telah menggerebek lima rumah sehubungan dengan serangan hari Minggu. Lokasilokasi itu telah disegel untuk penyelidikan forensik. Lebih dari 70 tersangka telah ditahan atas berbagai tuduhan, termasuk kecurigaan terorisme, membantu dan bersekongkol dengan terorisme, dan konspirasi untuk melakukan terorisme. Empat tersangka tingkat tinggi ditahan oleh TID, dan 33 ditahan oleh CID. Dari mereka yang ditangkap, empat tersangka adalah perempuan.

Kebanyakan dari mereka adalah anggota keluarga dan teman dari para pelaku bom bunuh diri. Tak satu pun dari mereka yang ditangkap adalah orang asing. Penggerebekan yang signifikan dilakukan pada Rabu (24/4) malam, di mana 16 orang ditangkap di berbagai lokasi, sebagian besar di dekat ibukota Kolombo. Tiga senapan dan dua walkie-talkie juga disita. (nyt,cnn-mn-44)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar