Kampung Pancuran, Kota Salatiga

Dulu Kumuh, Kini Penuh Mural

SM/Moch Kundor : AMATI LUKISAN : Pengunjung mengamati lukisan dinding (mural) di Kampung Pancuran Kutowinangun Lor Salatiga. (55)
SM/Moch Kundor : AMATI LUKISAN : Pengunjung mengamati lukisan dinding (mural) di Kampung Pancuran Kutowinangun Lor Salatiga. (55)

Kampung Pancuran, Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, belakangan populer karena menjadi kampung penuh dengan lukisan dinding (mural). Dulu kampung ini dikenal dengan kampung padat dan kumuh. Kini kawasan itu disulap menjadi kampung penuh warna-warni lukisan dinding.

TIDAK sulit untuk menemukan Kampung Pancuran karena letaknya yang berada di tengah kota. Persisnya di belakang Pasaraya yang merupakan jantung perekonomian Salatiga.

Kampung ini cukup padat penduduk. Luas wilayah yang hanya sekitar setengah hektare, dihuni tak kurang 4.000 jiwa.Untuk masuk di perkampungan ini, harus melalui gang-gang sempit. Hanya kendaraan roda dua yang bisa melewati jalan itu. Lukisan mural terlihat mendominasi begitu memasuki kampung ini.

Dindingdinding kampung dan rumah yang berdiri penuh dengan lukisan berbagai bentuk dan tema.

Ada lukisan bunga-bunga, kartun, sejarah dan perjuangan, serta lainnya. Dinding-dinding di sepanjang tepi sungai juga dibuat lebih hidup dengan mural anekawarna. Tak kurang 2.000 meter dinding di kampung ini penuh dengan lukisan yang digarap oleh seniman-seniman.

Ketua RW Pancuran Budi Sutrisno (57) menceritakan, Pancuran dulu merupakan kampung yang padat penduduk sehingga berimplikasi pada tingginya angka kriminal yang dilakukan warga. Maklum, kawasan ini dekat dengan pusat perekonomian yaitu Pasaraya dan Terminal Tamansari.

Hal itu menjadikannya dikenal sebagai kampung preman. ”Dulu yang namanya kriminalitas terjadi tiap hari mulai perjudian, penganiayaan, tawuran, penipuan, hingga pemerasan yang dilakukan warga di sini. Hampir setiap hari saya memediasi warga dan polisi agar warga kami tidak dijerat hukum,” katanya.

Budi sebagai Ketua RW yang membawahi 18 RT harus bekerja keras untuk membuat rasa aman di lingkungannya. Didukung perangkat RW lainnya, sepulang bekerja, ia selalu menyempatkan diri berkeliling kampung untuk memantau aktivitas warga. Kadang, sampai larut malam dia berpatroli dari satu RT ke RT lainnya. Tujuannya hanya satu, memastikan warganya dalam kondisi aman. Hingga suatu hari pada 2017, dalam sebuah sarasehan di balai kelurahan, Budi ditantang Camat Tingkir Nunuk Dartini menjadikan kampung yang selama ini dicap buruk, bisa menjadi lebih baik.

Budi pun menyanggupinya. Maka dalam jangka setahun, ia merumuskan ideide bersama unsur RW dan RT guna perubahan lebih baik. Pendekatan dari hati-ke hati kepada warga yang sering berbuat onar pun dilakukan. Hasilnya tak mengecewakan. Warga mulai sadar sehingga siap diajak maju dan berbuat lebih baik. ”Idenya itu adalah menjadikan Pancuran kampung bersih, diantaranya dengan mural. Tembok-tembok yang ada yang terlihat kumuh dicat warna-warni.

Proposal kami kirim ke mana-mana termasuk ke luar negeri untuk pengadaan cat. Akhirnya proposal itu direspons Wali Kota Salatiga dan mengintegrasikan dengan program lingkungan bersih. Wali Kota pun menggandeng perusahaan cat untuk membantu pengadaan cat untuk menghias dinding-dinding di sini,” katanya.

Tanggal 17 Agustus 2018, seusai menggelar upacara hari ulang tahun kemerdekaan, dimulailah pembuatan mural. Puluhan pelukis Salatiga terlibat untuk menggambar tokoh- tokoh nasional di kanvas tembok. Sedangkan warga Pancuran ikut membantu mengecat dasar dan menyediakan konsumsi. Hampir tiga bulan penuh para seniman lukis beraksi di berbagai sudut kampung Pancuran. Hasilnya, sekarang gambargambar pahlawan nasional asal Kota Salatiga mampu dinikmati. ”Adanya kampung mural dan bersih ini ternyata mampu mengubah perilaku masyarakat.

Saat ini tingkat kriminal berkurang hingga 80 persen. Masyarakat sudah senang diajak maju,” katanya.

Selain itu, masyarakat dari luar juga tertarik. Mereka datang ke kampung tersebut untuk menikmati suasana kampung yang unik. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pun mengunjungi Kampung Pancuran karena terkenal dengan kampung mural. Orang nomor satu di Provinsi Jateng ini meninjau langsung kondisi kampung yang padat dengan melewati gang-gang sempit. ”Saya senang melihat perubahan yang sangat konkret ini. Dari kampung yang kumuh bisa dibuat menjadi kampung yang nyeni, yang bersih, dan ternyata hal itu mengubah perilaku sosial masyarakat. Dari yang dulu terkenal kampung preman, sekarang menjadi kampung yang sangat ramah dan menarik,” katanya kepada wartawan di sela-sela kunjungan itu pada awal tahun ini.

Gubernur saat itu juga menjelaskan, penataan Kampung Pancuran bisa dijadikan model penanganan kampung-kampung kumuh di Jawa Tengah. Pemerintah kabupaten dan kota lain bisa saling bertukar dan belajar tentang penanganan tersebut. ”Di Salatiga ada Kampung Pancuran, di Semarang ada Kampung Pelangi. Yang terpenting adalah masyarakat kian sadar akan pentingnya hidup sehat, bersih, dan bahagia,” ucapnya.

Camat Tingkir Salatiga Nunuk Dartini mengatakan, dengan Kampung Pancuran menjadi kampung wisata, diharapkan terwujud perilaku hidup sehat dan menjadi wilayah yang bebas sampah serta menjadi wilayah tujuan wisata.

”Dengan demikian, diharapkan peningkatan ekonomi kreatif lewat kuliner dan lainnya bisa menjadi lebih hidup yang muaranya pada kesejahteraan warga. Semua diajak berpartisipasi aktif mewujudkan kampung yang bersih ramah lingkungan dan nyaman. Pemerintah Tingkir mendukung sepenuhnya,” katanya. (Moch Kundori-56)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar