Menhan Kecam Pihak yang Menuduh KPU Curang

SM/dok : PEMBEKALAN PRAJURIT KODAM : Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu didampingi Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI M Effendi dan Kapuskom Publik Kemhan Brigjen TNI Totok Sugiharto menyalami para prajurit TNI setelah memberikan pembekalan kepada prajurit se-Garnisun Semarang di Balai Diponegoro, Semarang, Selasa (23/4). (24)
SM/dok : PEMBEKALAN PRAJURIT KODAM : Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu didampingi Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI M Effendi dan Kapuskom Publik Kemhan Brigjen TNI Totok Sugiharto menyalami para prajurit TNI setelah memberikan pembekalan kepada prajurit se-Garnisun Semarang di Balai Diponegoro, Semarang, Selasa (23/4). (24)

SEMARANG - Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, mengecam pihak yang menuduh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan penyelenggara Pemilu 2019 curang. Menhan menyebut mereka sebagai pahlawan. ”Bagaimana mau curang? Lihat banyak petugas pemilu yang meninggal akibat kelelahan saat bertugas,” kata Menhan kepada wartawan setelah memberikan pembekalan kepada pajurit se-Garnisun Semarang di Balai Diponegoro, Selasa (23/2).

Menhan didampingi Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi dan Kapuskom Publik Kemhan Brigjen TNI Totok Sugiharto menyatakan salut dan hormat kepada para pahlawan. ”Lihat itu ada yang sakit, mati-matian. Seharusnya pihak yang menuduh KPU curang melihat pengorbanan para petugas.

Yang menjelekkan KPU tidak pakai otak apa. Lihat yang bekerja setengah mati itu, harus dihargai itu, kok malah tidak menghargai mereka. Curang apa? Sampai meninggal mereka,” tegasnya.

Jika ada kesalahan 1.000 atau 2.000 suara, menurut Menhan, itu tidak signifikan karena total suara lebih dari 100 juta. Wajar jika ada sedikit kesalahan. ”Namanya juga orang, kalau dibanding dengan 100 juta lebih kan tidak ada apa-apanya,” tandas Menhan.

Terorisme dan Radikalisme

Dalam pembekalan kepada prajurit TNI se- Garnisun Semarang, Ryamizard mengingatkan, ancaman nyata sekaligus bentuk penistaan agama, negara, dan bangsa Indonesia serta sangat berpengaruh terhadap keutuhan dan kesatuan bangsa adalah terorisme dan radikalisme. Ancaman itu tidak hanya menimbulkan kerugian material, nyawa, dan mengakibatkan masyarakat takut, tetapi juga mengoyak keutuhan berbangsa dan bernegara. ”Baru kemarin kita menyaksikan aksi kebiadapan teror bom bunuh diri di Gereja Katolik di Srilanka yang menewaskan ratusan masyarakat yang sedang beribadah. Beberapa waktu lalu juga terjadi aksi teror di Selandia Baru, termasuk di Indonesia yang terjadi di Jawa Timur, Sibolga, dan aksi-aksi teroris lainnya di seluruh dunia,” katanya.

Terorisme dan radikalisme adalah ancaman teroris generasi ketiga. Ciri khusus dari ancaman terorisme generasi ketiga ini adalah kembalinya para militan IS dari Timur Tengah serta berevolusinya ancaman tersentralisasi menjadi terdesentralisasi yang menyebar ke seluruh belahan dunia. Hal itu terjadi setelah IS kalah di Suriah dan Irak. ”IS semula hanya kekuatan milisi nasional di Irak yang muncul akibat konflik politik di dalam negeri pascapemerintahan Saddam Hussien.

Di sinilah perlu saya tegaskan, IS hanya buah dari konflik politik domestik Irak-Suriah yang tidak ada kaitannya dengan faktor keagamaan,” tandas Menhan. Pola operasi dan taktik kelompok teroris ini akan terus berevolusi dan berubah agar tidak mudah dideteksi oleh aparat keamanan, seperti di Indonesia belum lama. Kelompok IS menggunakan modus baru serangan oleh satu keluarga utuh dan terjadi di beberapa tempat di Surabaya serta beberapa aksi teror di beberapa wilayah di Indonesia. (B13,Ary-41)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar