Masyarakat Internasional Puji Pemilu Indonesia

SM/Antara - DIKAWAL TNI :Anggota Panitia Pemungutan Suara dikawal anggota TNI membawa kotak surat suara dari TPS pedalaman Suku Baduy di Kampung Cisaban, Lebak, Banten, Kamis (18/4). Kotak surat suara hasil Pemilu 2019 dibawa ke Desa Kanekes dengan menempuh perjalanan selama 3 jam menggunakan jalur darat dengan berjalan kaki. (55)
SM/Antara - DIKAWAL TNI :Anggota Panitia Pemungutan Suara dikawal anggota TNI membawa kotak surat suara dari TPS pedalaman Suku Baduy di Kampung Cisaban, Lebak, Banten, Kamis (18/4). Kotak surat suara hasil Pemilu 2019 dibawa ke Desa Kanekes dengan menempuh perjalanan selama 3 jam menggunakan jalur darat dengan berjalan kaki. (55)

Sejumlah organisasi dan media internasional memberikan apresiasi positif terhadap penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) di Indonesia pada 17 April lalu. Indonesia dipuji karena berhasil melaksanakan pemilu secara terbuka, damai, dan tertib.

DILIHAT dari jumlah pemilih yang mencapai 192,8 juta orang, Pemilu Indonesia 2019 merupakan pemilu terbesar di dunia yang diselenggarakan hanya dalam satu hari. Pemilu di India diikuti oleh jumlah pemilih yang jauh lebih besar, yakni sekitar 900 juta orang, namun diselenggarakan dalam beberapa tahap mulai 11 April hingga 19 Mei 2019.

Selain jumlah pemilihnya yang sangat besar, Pemilu Indonesia menjadi perhatian masyarakat internasional karena pemungutan suaranya dilaksanakan secara serentak untuk memilih presiden dan para anggota dewan legislatif pusat maupun daerah, dengan angka partisipasi tinggi sekitar 80 persen.

Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Yousef Al-Othaimeen, meniai pemerintah bersama rakyat Indonesia berhasil menunjukkan kedewasaan dan rasa tanggung jawab yang besar melalui gelaran lima tahunan tersebut.

"Sekjen OKI Al-Othaimeen dengan ini memberikan selamat kepada rakyat dan pemerintah Indonesia atas keberhasilan pelaksanaan pemilu dan memuji rasa kedewasaan dan tanggung jawab besar yang ditunjukkan masyarakat Indonesia melalui pemilihan ini," bunyi pernyataan OKI melalui situs resminya, Jumat (18/4).

Sama seperti sejumlah negara dan organisasi internasional lain, asosiasi beranggotakan 57 negara itu turut mengirimkan misi pemantauan pemilu (EOM) ke Indonesia untuk mengawasi pemilu yang diselenggarakan pada Rabu (17/4) tersebut.

Terbesar dalam Sejarah

Dalam misinya tersebut, OKI "mencatat dengan puas" bahwa Pemilu Indonesia 2019 dilakukan secara terbuka, damai, dan tertib sesuai dengan aturan Indonesia dan norma-norma yang diterima secara internasional.

"OKI sepenuhnya yakin bahwa keberhasilan Pemilu Indonesia 2019 akan berkontribusi lebih lanjut untuk memperkuat praktik dan kelembagaan demokratis demi pembangunan dan kemakmuran negara dan rakyatnya," lanjut OKI.

Beberapa media asing yang melakukan pemantauan bahkan menyebut Pemilu Indonesia kali ini menjadi yang terbesar dalam sejarah. Harian The New York Times menyebut pemilu di Indonesia sebagai pemilihan presiden secara langsung terbesar di dunia. Sedangkan lembaga kajian Lowy Institute dari Australia menilai, pemilu Indonesia merupakan pemungutan suara paling rumit di dunia.

Surat kabar Inggris The Guardian menggambarkan besarnya pelaksanaan pemilu di Indonesia dan menekankan bahwa pemilu ini merupakan yang pertama yang menggabungkan antara pemilihan presiden dengan pemilihan anggota parlemen.

Namun, menurut surat kabar ini, pemilihan presiden lebih mendominasi pembicaraan mengenai Pemilu Indonesia 2019. Media-media asing umumnya memuat perkiraan dari pengamat dan hasil polling menjelang pemungutan suara mengenai peluang Jokowi untuk kembali memenangi pemilihan presiden kali ini. CNNmenyebutkan kemungkinan besar Jokowi akan terpilih untuk kedua kalinya, sekalipun pesonanya sedikit meredup akibat ketidakmampuan meyelesaikan soal pelanggaran HAM di masa lalu.

Mengutip analis Kevin O'Rourke, The Guardianmenyebut kecil kemungkinan terjadi kejutan seperti halnya kemenangan Donald Trump pada Pilpres AS 2016. The New York Times dengan mengutip pengamat asal Australia, Marcus Meitzner, juga menyebut kecil kemungkinan terjadi kejutan.

Pemilu di Indonesia kali ini memang berbeda dari sebelumnya. Untuk kali pertama, pemungutan suara dilakukan secara serentak untuk memilih presiden dan wakil presiden, anggota DPR RI, anggota DPRD provinsi, anggota DPRD kabupaten/kota, dan anggota DPD. Proses pemilu serentak itu merupakan yang pertama dilakukan Indonesia.

Sebanyak 192,8 juta warga tercatat sebagai pemilih. Sebanyak 810.0329 tempat pemungutan suara (TPS) dibuka di seluruh penjuru negeri dan dijaga oleh 7,2 juta orang panitia pemilu. Jumlah panitia tersebut melebihi penduduk Singapura yang hanya 5,6 juta. (Asep BS-25)


Berita Terkait
Loading...
Komentar