TAJUK RENCANA

Kembali Guyub Menunggu Hasil KPU

Turunkan tensi, ayo guyub lagi. Begitulah salah satu judul yang kita tampilkan pada penerbitan Kamis lalu. Pemilihan presiden dan pemilihan anggota legislatif telah berjalan lancar, tertib, dan aman. Diperkirakan tingkat partisipasi masyarakat dalam memilih mencapai 80 persen lebih dari jumlah pemilih 192 juta. Suatu capaian yang patut diapresiasi. Terlepas dari berbagai kekurangan di sana sini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari pusat sampai daerah telah bekerja dengan baik. Kita pun patut berterima kasih kepada TNI dan Polri dan terutama masyarakat luas.

Hajatan pesta demokrasi lima tahunan telah kita lalui dengan tenang dan lancar, sehingga dunia pun mengakui kita sebagai salah satu negara demokrasi terbesar. Padahal dengan lima kertas suara, pemilu kali ini tergolong paling rumit. Toh, kesulitan relatif tidak banyak dijumpai. Semangat yang tinggi untuk berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara, terutama didorong oleh kontestasi pilpres yang sangat seru karena hanya diikuti oleh dua pasang calon. Petahana Joko Widodo didampingi Ma’ruf Amin berhadapan dengan Prabowo-Sandiaga Uno.

Kini posisinya adalah menunggu hasil rekapitulasi suara yang sedang dilakukan KPU hingga 35 hari sejak pencoblosan. Situasi menjadi kurang kondusif karena beberapa lembaga survei mengumumkan hasil quick count pilpres yang memenangkan pasangan 01 dengan perolehan suara sekitar 54 persen. Pasangan 02 tidak terima bahkan mendeklarasikan kemenangan berdasarkan real count yang dilakukannya sendiri. Situasi inilah yang membedakan dengan pilpres sebelumnya. Pada 2014, hasilquick countmenjadi acuan, sehingga pada hari pertama pemenang sudah diberi ucapan selamat.

Hitung cepat sudah biasa dilakukan di negara mana pun, termasuk Indonesia. Tidak hanya di pilpres, tetapi juga pilkada. Metode hitung cepat melalui survei ini terbukti tepat karena biasanya berbeda hanya di bawah satu persen dibanding hasil perhitungan yang sebenarnya. Bahkan quick countbisa menjadi alat kontrol apabila terjadi perbedaan yang mencolok. Tetapi rupanya sekarang ada yang tidak memercayai hasil†perhitungan yang dilakukan lembaga lembaga survei ternama. Boleh saja itu terjadi asalkan patokannya adalah hasil resmi KPU.

Kita mengimbau para elite politik, terutama capres dan cawapres, untuk menjaga bersama agar†situasi tetap kondusif. Untuk itu, semua pihak diminta bersabar menunggu hasil final dari KPU. Sama-sama menjaga fatsun dan†tabiat politik yang baik. Kita mesti bisa menghargai upaya dan kerja keras bersama mulai pembuat undang-undang, penyelenggara pemilu, hingga masyarakat yang begitu antusias dan tertib menyalurkan hak suaranya. Jangan sampai demokrasi ternoda hanya karena ada pihak-pihak yang kurang mampu mengendalikan diri.

Menunggu KPU itulah yang harus menjadi sikap bersama tanpa kecuali. Karena semua tahapan pemilu sudah ada acuannya sesuai dengan undang-undang dan peraturan di bawahnya. Kalau ada yang tidak puas terhadap hasil, sudah ada lembaga yang akan menangani, yakni Mahkamah Konstitusi. Pada saat dunia internasional memuji, alangkah ironisnya kalau di dalam negeri kita justru tak bisa mengapresiasi. Mungkin pertarungan terlampau keras dan menggoreskan luka, terutama bagi yang kalah. Namun yakinlah, hal itu tidak akan lama karena kita berada dalam satu wadah bangsa.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar